Series
382
BAB 232
PAGI YANG TIDAK INGIN DITUNGGU
Pagi berikutnya datang terlalu cepat bagi Fiona.
Setidaknya—
menurut Fiona.
Ia berdiri di depan cermin kamarnya sambil menatap dirinya sendiri.
Kemudian menatap gelang di pergelangan tangannya.
Lalu menghela napas panjang.
“Kenapa kemarin aku harus menggunakan Light Magic…?”
Tidak ada jawaban.
Fiona mengangkat tangannya.
Cahaya kecil muncul di ujung jarinya.
Ia langsung memadamkannya.
“Tidak.”
Cahaya muncul lagi.
Fiona langsung memadamkannya lagi.
“Tidak perlu.”
Ia menatap gelang itu dengan curiga.
“Ini semua salahmu.”
Gelang itu tentu saja tidak menjawab.
Fiona mendengus.
“Aku hanya ingin belajar dengan melihat.”
Ia mengambil napas.
“Sekarang aku malah harus masuk ke battlefield.”
Pintu kamarnya diketuk.
Tok. Tok.
“Fiona?”
Suara Darrien.
Fiona langsung menurunkan tangannya.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Darrien masuk.
Ia sudah siap untuk latihan.
Begitu melihat Fiona berdiri dengan ekspresi muram, ia tersenyum kecil.
“Kau masih memikirkannya?”
Fiona langsung tahu apa yang dimaksud.
“Ya.”
Darrien tertawa pelan.
“Sudah kubilang, aku akan bersamamu.”
“Aku tahu.”
“Jadi tidak perlu khawatir.”
Fiona menatapnya.
“Kau tahu Kevin.”
Darrien terdiam.
Fiona menunjuk ke arahnya.
“Dia itu monster.”
Darrien menghela napas.
“Aku tidak bisa menyangkalnya.”
Fiona langsung tertawa.
“Lihat?”
Darrien menggeleng.
“Tapi dia juga guru yang bagus.”
Fiona menghela napas.
“Sayangnya…”
Ia menatap gelangnya.
“…aku baru sadar itu setelah terlambat.”
Darrien tertawa kecil.
“Ayo.”
***
Ketika mereka tiba di battlefield—
Kevin sudah menunggu.
Seperti biasa.
Ace dan Rowan juga berada di sana.
Elarion berdiri sedikit jauh dari mereka.
Namun kali ini—
Kevin tidak langsung menyuruh Darrien masuk.
Tatapannya justru tertuju kepada Fiona.
Fiona berhenti berjalan.
“…Kenapa dia melihatku seperti itu?”
Darrien melirik Kevin.
“Entahlah.”
Ace berbisik kepada Rowan,
“Dia benar-benar menunggu Fiona.”
Rowan mengangguk.
“Sepertinya target latihan hari ini bertambah.”
Fiona mendengar mereka.
Ia langsung menatap Ace.
“Aku masih bisa pulang.”
Ace tersenyum.
“Sudah terlambat.”
Fiona menghela napas.
Elarion akhirnya mendekat.
“Jangan terlalu tegang.”
Fiona menatapnya.
“Mudah mengatakannya.”
Elarion tersenyum.
“Kau tidak harus bertarung seperti Darrien.”
Fiona sedikit lega.
“Benarkah?”
“Belum tentu.”
Fiona membeku.
“…”
Elarion tertawa kecil.
Darrien langsung menatapnya.
“Elarion.”
“Aku hanya bercanda.”
Fiona mengembungkan pipinya.
“Kalian semua jahat.”
Kevin akhirnya berjalan mendekat.
Ia berhenti di depan Fiona.
“Masuk.”
Fiona menunjuk dirinya sendiri.
“Aku?”
“Ya.”
Fiona menarik napas.
Kemudian melangkah maju.
Darrien berjalan bersamanya.
Barrier mulai muncul.
**WHOOM!**
Cahaya energi mengelilingi battlefield.
Begitu mereka berada di dalam—
Fiona langsung merasa berbeda.
Udara terasa lebih berat.
Suara dari luar terdengar sedikit teredam.
Ia melihat sekeliling.
“Jadi…”
“Ini dari dalam.”
Darrien tersenyum.
“Berbeda, kan?”
Fiona mengangguk.
“Ya.”
Kevin berdiri beberapa meter di depan mereka.
“Hari ini tidak ada yang perlu kau lakukan terlebih dahulu.”
Fiona berkedip.
“Tidak?”
“Tidak.”
Kevin menatapnya.
“Kau hanya perlu mengamati.”
Fiona mengangguk.
“Baik.”
Kevin kemudian menatap Darrien.
“Serang aku.”
Darrien mengambil posisi.
Fiona berdiri di sampingnya.
Namun sebelum Darrien bergerak—
Kevin berkata,
“Dan kau.”
Fiona menoleh.
“Jangan gunakan Light Magic.”
Fiona membeku.
“…Apa?”
Kevin tersenyum tipis.
“Jangan gunakan.”
Fiona menatapnya bingung.
“Kenapa?”
“Karena aku ingin melihat sesuatu.”
Fiona semakin bingung.
“Apa?”
Kevin tidak menjawab.
Ia hanya menatap gelang di pergelangan tangan Fiona.
Tatapannya hanya berlangsung sesaat.
Namun Elarion yang berdiri di luar barrier melihatnya.
Matanya menyipit.
Darrien juga menyadarinya.
“Kau memperhatikan gelangnya?”
Kevin mengalihkan pandangan.
“Mulai.”
Darrien langsung bergerak.
**WHOOSH!**
Fiona refleks mundur.
Kevin menangkis serangan pertama Darrien.
Kemudian serangan kedua.
Ketiga.
Darrien bergerak seperti latihan sebelumnya.
Mengubah ritme.
Tidak terburu-buru.
Fiona memperhatikan.
Ia mencoba memahami aliran energi mereka.
Namun kali ini—
ia tidak mengaktifkan Light Magic.
Ia hanya mengamati.
Kevin menyerang.
Darrien menghindar.
Fiona melihat perubahan kecil pada aliran energi Kevin.
Sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
Namun—
ia merasakannya.
Fiona mengerutkan kening.
“…”
Ada sesuatu.
Sebelum Kevin bergerak—
cahaya kecil terasa di dalam tubuhnya.
Bukan dari luar.
Dari dalam dirinya sendiri.
Fiona memegang dadanya.
“Apa…”
Darrien masih bertarung.
Kevin masih menyerang.
Namun Fiona mulai melihat sesuatu yang tidak dilihatnya kemarin.
Bukan sekadar gerakan.
Bukan sekadar aliran energi.
Ada pola.
Pola yang terasa seperti—
cahaya dan bayangan bergerak bersamaan.
Fiona menatap Kevin.
Kemudian Darrien.
Kemudian gelang di tangannya.
Cahaya kecil muncul tanpa ia sengaja.
Fiona langsung terkejut.
“Aku tidak—”
Kevin berhenti.
Darrien juga berhenti.
Elarion mengangkat kepalanya.
Ace dan Rowan saling berpandangan.
Cahaya di sekitar Fiona semakin jelas.
Namun bukan hanya Light Magic.
Ada sesuatu yang lain.
Sesuatu yang bahkan Fiona sendiri tidak mengerti.
Kevin menatapnya serius.
“Jangan hentikan.”
Fiona membelalak.
“Apa?”
“Biarkan mengalir.”
Fiona menelan ludah.
Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Namun untuk pertama kalinya—
Kevin tidak terlihat seperti sedang bercanda.
Dan Elarion—
yang sejak tadi hanya mengamati—
akhirnya berdiri tegak.
Karena cahaya yang muncul di sekitar Fiona…
bukan sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya.
Share this novel