132. Suara Di Dalam Hutan

Romance Series 382

BAB 132
SUARA DI DALAM HUTAN

Malam telah menyelimuti Veyra.

Sebagian besar rumah mulai memadamkan lampu.

Namun kediaman Rowan masih belum benar-benar tenang.

Di dalam—

Elarion, Rowan, Kevin, dan Ace masih terkubur di antara buku, dokumen, dan catatan kuno.

Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa Darrien dan Fiona telah meninggalkan rumah.

***

Mereka berjalan perlahan di bawah cahaya bulan.

Tidak banyak yang mereka bicarakan.

Setelah percobaan sebelumnya, pikiran keduanya masih dipenuhi tentang segel Darrien.

“Segelnya…”

Fiona akhirnya berkata pelan.

“Hmm?”

“Benar-benar hampir pecah tadi.”

Darrien mengangguk.

“Aku juga merasakannya.”

Ia melihat tangannya sendiri.

“Rasanya seperti ada sesuatu yang tertahan di dalam.”

Fiona terdiam.

“Apakah kau takut?”

Darrien tersenyum kecil.

“Sedikit.”

Fiona menatapnya.

“Sedikit?”

“Baiklah.”

Darrien menghela napas.

“Cukup takut.”

Fiona tertawa pelan.

“Setidaknya kau jujur.”

Darrien ikut tersenyum.

Mereka terus berjalan.

Tanpa sadar—

jalan yang mereka pilih semakin jauh dari pusat Veyra.

Lampu-lampu kota perlahan menghilang di belakang mereka.

Bangunan mulai jarang terlihat.

Suara orang-orang juga semakin jauh.

Sampai akhirnya—

mereka berada di sebuah jalan kecil yang dikelilingi pepohonan.

Fiona berhenti.

“Darrien.”

“Hm?”

“Kita pernah lewat sini?”

Darrien melihat sekeliling.

“Sepertinya tidak.”

Mereka berdua terdiam.

Hutan di depan mereka terlihat berbeda dari hutan yang biasa mereka kunjungi bersama Elarion.

Lebih gelap.

Lebih sunyi.

Bahkan angin terasa berbeda.

Fiona memeluk lengannya sendiri.

“Tempat ini agak menyeramkan.”

Darrien mengangguk.

“Kalau kau takut, kita bisa kembali.”

Fiona menatap jalan di depan.

“Tidak.”

Ia kemudian menggenggam tangan Darrien.

“Aku hanya merasa…”

Ia berhenti.

“…seperti ada sesuatu di sini.”

Darrien langsung menjadi lebih waspada.

“Aku juga.”

Mereka melangkah lebih perlahan.

Tidak jauh dari sana—

terdengar suara.

“Hehehe…”

Tawa kecil.

Sangat lembut.

Fiona langsung berhenti.

Darrien juga.

Keduanya saling memandang.

“Dengar?”

Fiona mengangguk.

“Itu suara siapa?”

Tidak ada jawaban.

Hanya suara dedaunan yang bergerak.

Darrien menatap ke sekeliling.

“Jangan panik.”

“Aku tidak panik.”

Suara lain terdengar.

Kali ini dari sisi kanan mereka.

*Krek… krek…*

Seperti ranting diinjak.

Darrien langsung berbalik.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya pepohonan.

Fiona menggenggam tangannya lebih erat.

“Darrien…”

“Aku di sini.”

Mereka mundur satu langkah.

Kemudian—

dari arah belakang mereka terdengar suara ketiga.

Sangat pelan.

Seperti bisikan yang terbawa angin.

“…pulang…”

Fiona membeku.

Darrien langsung berbalik.

Tidak ada apa pun.

Jalan yang mereka lewati tadi masih kosong.

Tidak ada bayangan.

Tidak ada langkah kaki.

Tidak ada seseorang berdiri di sana.

Namun—

suara itu terdengar lagi.

Lebih jauh.

Lebih samar.

“…pulang…”

Fiona menelan ludah.

“Itu bukan angin.”

“Aku tahu.”

Darrien memperhatikan pepohonan.

Naluri bertahannya mulai bekerja.

Ada sesuatu di sekitar mereka.

Ia tidak tahu apa.

Namun ia bisa merasakannya.

Bukan dari satu arah.

Seolah-olah—

mereka sedang dikelilingi.

Fiona perlahan mendekat kepadanya.

“Apakah kau melihat sesuatu?”

“Tidak.”

“Tidak ada apa-apa?”

“Tidak.”

Tiba-tiba—

tawa kecil tadi terdengar lagi.

“Hehehe…”

Kali ini dari arah kiri.

Darrien segera mengangkat tangan.

Energinya muncul tipis.

“Siapa di sana?”

Tidak ada jawaban.

Hanya hutan yang kembali sunyi.

Fiona menatap pepohonan.

Perasaannya semakin tidak nyaman.

“Aku tidak suka ini.”

Darrien menggenggam tangannya.

“Kita kembali.”

Mereka mulai berbalik.

Namun sebelum sempat berjalan jauh—

sebuah suara pelan terdengar tepat dari balik pepohonan.

“…jangan…”

Fiona membeku.

Darrien juga berhenti.

Mereka menatap ke arah suara itu.

Tetap tidak ada siapa-siapa.

Hanya kegelapan.

Dedaunan.

Dan kabut tipis yang perlahan bergerak di antara pepohonan.

Darrien menarik Fiona sedikit lebih dekat.

“Kita pulang.”

Fiona mengangguk.

Keduanya mulai berjalan kembali.

Tanpa berlari.

Tanpa menoleh terlalu sering.

Namun mereka berdua tahu—

mereka tidak sendirian.

Di antara pepohonan yang gelap—

sesuatu masih memperhatikan.

Tidak menunjukkan wujud.

Tidak mendekat.

Hanya mengikuti dari kejauhan.

Dan untuk malam itu—

suara tawa, ranting patah, dan bisikan tersebut menjadi satu-satunya tanda bahwa mereka telah memasuki tempat yang seharusnya tidak mereka datangi.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience