Series
382
BAB 310 — KAU MASIH DI SINI
Darrien hampir menjatuhkan dessert di tangannya.
Jari Fiona bergerak.
Sangat kecil.
Namun kali ini—
ia benar-benar merasakannya.
Darrien langsung menatap tangan mereka.
“Fiona?”
Tidak ada jawaban.
Ia menatap wajah Fiona.
Masih tertutup.
Masih tidak bergerak.
Namun genggaman tangannya sedikit berubah.
Darrien terdiam cukup lama.
Setelah tujuh hari—
akhirnya ada reaksi.
Ia bahkan hampir berdiri karena terkejut.
Namun kemudian matanya kembali jatuh pada dessert di tangannya.
Ia tersenyum kecil.
“Kalau kau memang sudah mendengar…”
Ia mengangkat dessert itu sedikit.
“…bangun sebelum aku menghabiskannya.”
Tidak ada reaksi.
Darrien menggeleng.
“Serius.”
Ia menggigit sedikit.
“Ini enak.”
***
Di dalam mimpi—
Fiona tertawa.
Namun air matanya masih mengalir.
“Benar-benar…”
Ia mengusap pipinya.
“Bahkan setelah ribuan tahun…”
Ia tertawa kecil lagi.
“…kau masih menggunakan makanan untuk membujukku.”
Dua peri kecil beterbangan di sekelilingnya.
Fiona akhirnya berdiri.
Ia memandang Taman Kristal.
Tempat yang selama ini menyimpan begitu banyak kenangan.
Kemudian ia menarik napas panjang.
“Aku harus bertemu dengannya.”
Namun langkahnya terhenti.
Ketakutan kembali muncul.
Bagaimana jika Darrien tidak menerimanya?
Bagaimana jika setelah mengetahui semuanya—
Darrien justru melihatnya sebagai sesuatu yang berbeda?
Seseorang yang telah hidup terlalu lama.
Seseorang yang telah menggunakan Forbidden Magic.
Seseorang yang pernah mengikat jiwanya.
Seseorang yang—
mungkin menurutnya hanyalah monster tua.
Fiona menunduk.
“Kalau dia menganggapku monster…”
Ia menggigit bibirnya.
“…aku akan lari.”
Ia tersenyum pahit.
“Mungkin itu satu-satunya cara.”
Setidaknya—
kalau ia pergi lebih dulu,
Darrien tidak perlu melihatnya seperti itu.
Namun setelah beberapa detik—
Fiona menggeleng.
“Tidak.”
Ia menatap tangannya sendiri.
“Aku sudah melarikan diri sekali.”
Ia terdiam.
“Tidak…”
Air matanya kembali jatuh.
“Aku sudah melarikan diri terlalu lama.”
Ia menarik napas.
Kali ini—
ia tidak mundur.
“Aku akan menemuinya.”
***
Dunia mimpi mulai memudar.
Cahaya Taman Kristal perlahan menjadi semakin jauh.
Fiona menatap tempat itu untuk terakhir kalinya.
“Darrien…”
Kemudian—
ia melangkah maju.
***
Dunia nyata.
Darrien masih duduk di samping tempat tidur.
Dessert di tangannya tinggal sedikit.
Ia menatap Fiona.
“Sayang sekali.”
Ia menunjukkan dessert tersebut.
“Kalau kau tidak bangun sekarang, benar-benar habis.”
Tiba-tiba—
“Kh…”
Darrien membeku.
Suara kecil.
Sangat lemah.
Namun jelas.
Ia langsung berdiri.
“Fiona?”
Fiona mengerutkan kening.
Tubuhnya bergerak sedikit.
Kemudian—
“Kh… cough…”
Ia batuk kecil.
Darrien langsung meletakkan dessert.
“Air.”
Ia mengambil gelas yang berada di dekat tempat tidur.
Namun sebelum memberikannya—
ia memastikan Fiona benar-benar sadar.
Kelopak mata Fiona bergerak.
Perlahan.
Sangat perlahan—
matanya terbuka.
Cahaya ruangan masuk ke pandangannya.
Fiona berkedip beberapa kali.
Dunia terasa asing.
Tubuhnya terasa berat.
Tenggorokannya kering.
Ia mencoba berbicara.
“…air…”
Darrien langsung mendekat.
“Pelan.”
Ia membantu Fiona duduk sedikit.
Kemudian memberikan air kepadanya.
Fiona meminumnya perlahan.
Setelah beberapa teguk—
ia menghela napas.
“Ah…”
Ia menutup matanya sebentar.
Terlalu lama tidur membuat seluruh tubuhnya terasa berat.
Kemudian—
Fiona tertawa kecil.
Tangannya naik untuk mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya.
“Kenapa…”
Suaranya serak.
“…aku menangis?”
Darrien terdiam.
Ia menatapnya.
“Entahlah.”
Fiona perlahan membuka matanya lagi.
Dan di sana—
ia melihatnya.
Darrien.
Masih duduk di sisinya.
Masih memegang tangannya.
Masih menunggunya.
Selama tujuh hari.
Tidak pergi.
Tidak meninggalkannya.
Fiona menatapnya cukup lama.
Dadanya terasa sesak.
Bukan karena luka.
Melainkan karena sebuah kenyataan sederhana.
**Dia masih di sini.**
Darrien mengangkat alis.
“Kenapa melihatku seperti itu?”
Fiona tidak menjawab.
Ia hanya tersenyum kecil.
Air mata kembali muncul.
Namun kali ini—
bukan karena kesedihan.
Darrien menghela napas.
“Jangan menangis lagi.”
Fiona tertawa pelan.
“Aku…”
Ia berhenti.
Kemudian menatapnya lagi.
“…aku hanya senang.”
“Senang karena?”
Fiona menggenggam tangannya.
Lebih erat.
“Karena kau masih di sini.”
Darrien terdiam.
Kemudian tersenyum.
“Aku bilang aku akan menunggu.”
Fiona menundukkan wajah.
Senyumnya semakin lebar.
Dan untuk pertama kalinya setelah tujuh hari—
ruangan itu tidak lagi terasa seperti ruang perawatan.
Rasanya seperti rumah.
Namun di balik senyum Fiona—
sebuah rahasia yang telah terkubur selama ribuan tahun masih berada di dalam dirinya.
Ia sudah mengingat semuanya.
Dan sekarang—
ia harus menemukan cara untuk memberitahu Darrien.
Bahwa gadis yang baru saja bangun di hadapannya—
pernah menjadi seseorang yang telah mencintainya jauh sebelum kehidupan mereka di Akasia dimulai.
Share this novel