Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 351 — TIGA HARI TANPA FIONA
Pagi itu—
Ruang makan Istana Lunaris terasa sedikit berbeda.
Bukan karena makanan.
Bukan karena suasananya.
Melainkan karena—
Fiona akhirnya muncul.
Setelah tiga hari lebih sering menghilang, bersembunyi, atau mencari alasan untuk tidak berada di sekitar orang lain…
hari ini ia duduk di meja makan.
Bersama semuanya.
Dan tentu saja—
semua orang menyadarinya.
Fiona mengambil tempat duduknya dengan tenang.
Ia berusaha bersikap biasa.
Sangat biasa.
Seolah-olah tiga hari terakhir tidak pernah terjadi.
Seolah-olah ia tidak pernah menghilang dari istana.
Seolah-olah ia tidak pernah tidur di Crystal Garden.
Dan terutama—
seolah-olah ia tidak pernah ditemukan Darrien di atas pohon lalu dibawa kembali ke kamarnya.
Fiona mengambil cangkirnya.
Minum.
Tenang.
Tidak ada masalah.
Namun—
Ace menatapnya.
Rowan menatapnya.
Elarion menatapnya.
Elyon menatapnya.
Zeith dan Seraphine juga memperhatikannya.
Edward dan Gloria bahkan tersenyum kecil.
Fiona perlahan menurunkan cangkir.
“…Kenapa?”
Tidak ada yang menjawab.
Fiona mengerutkan kening.
“Apa?”
Ace akhirnya berkata,
“Tidak ada.”
Fiona menyipitkan mata.
“Kalian semua melihatku.”
Rowan menahan senyum.
“Karena sudah tiga hari.”
“…”
Fiona terdiam.
Elarion menambahkan,
“Kami hanya memastikan kau benar-benar kembali.”
Fiona menghela napas.
“Aku tidak pergi ke mana-mana.”
Ace mengangkat alis.
“Benarkah?”
Fiona menatapnya.
“Ya.”
Ace hendak mengatakan sesuatu.
Namun Rowan langsung menyikutnya.
“Jangan.”
Ace menutup mulut.
Fiona semakin curiga.
“Apa yang kalian bicarakan?”
“Tidak ada.”
Fiona:
“….”
Ia tahu.
Pasti ada sesuatu.
Namun sebelum ia sempat bertanya—
Darrien duduk di sampingnya.
Fiona langsung membeku.
Tangannya yang sedang mengambil roti berhenti di udara.
Darrien tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya mengambil makanannya sendiri.
Tenang.
Normal.
Seolah tidak terjadi apa-apa pagi tadi.
Fiona meliriknya.
Darrien melirik balik.
“Kenapa?”
“Tidak.”
Fiona langsung kembali melihat piringnya.
Darrien tersenyum kecil.
***
Sarapan dimulai.
Untuk beberapa menit—
semuanya berjalan normal.
Zeith dan Edward membicarakan urusan kerajaan.
Seraphine dan Gloria membahas beberapa hal ringan.
Elyon sesekali memberikan pendapat.
Ace dan Rowan berbicara pelan.
Elarion hanya menikmati makanannya.
Kevin—
tentu saja—
masih belum terlihat.
Ace melirik kursi kosong.
“Kevin belum datang?”
Rowan menjawab,
“Dia mungkin masih di area latihan.”
Darrien berhenti makan.
“…Aku memang berencana melanjutkan latihan.”
Fiona langsung menoleh.
“Tidak.”
Semua berhenti.
Darrien mengangkat alis.
“Tidak?”
Fiona menunjuknya.
“Kau baru saja latihan sepanjang kemarin.”
“Dan?”
“Kau perlu istirahat.”
Darrien tersenyum.
“Aku baik-baik saja.”
Fiona mengerutkan kening.
“Darrien.”
Nada suaranya membuat Darrien langsung diam.
Ace menahan tawa.
Rowan menunduk.
Elarion tersenyum.
Darrien akhirnya mengambil makanannya lagi.
“Baik.”
Fiona mengangguk puas.
Namun kemudian Darrien berkata,
“Kalau begitu aku akan latihan setelah makan siang.”
Fiona langsung menatapnya.
“….”
Darrien tersenyum polos.
Ace hampir tersedak.
Rowan menutup mulutnya.
Elarion tertawa kecil.
Fiona menghela napas.
“Kau benar-benar keras kepala.”
Darrien menjawab,
“Aku belajar dari seseorang.”
Fiona mengangkat alis.
“Siapa?”
Darrien menunjuk dirinya sendiri.
“Diriku sendiri.”
Fiona tertawa kecil.
***
Sarapan berlanjut.
Namun kali ini—
suasananya terasa jauh lebih hangat.
Fiona mulai berbicara lagi.
Tidak terlalu banyak.
Namun cukup.
Ia bahkan tertawa ketika Ace menceritakan sesuatu yang terjadi di area latihan.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari—
tidak ada lagi jarak aneh di antara mereka.
Fiona mulai merasa…
normal.
Sampai—
Darrien diam-diam mengambil sepotong buah dari piring Fiona.
Fiona langsung menoleh.
“Itu punyaku.”
Darrien mengunyah dengan santai.
“Aku tahu.”
“Kenapa kau ambil?”
“Karena enak.”
Fiona menatapnya tidak percaya.
“Kau punya sendiri.”
Darrien melihat piringnya.
Kemudian melihat Fiona.
“Punyamu terlihat lebih enak.”
Fiona:
“….”
Ace menunduk agar tidak tertawa.
Rowan menggigit bibir.
Elarion memalingkan wajah.
Gloria tersenyum.
Seraphine juga.
Fiona akhirnya mengambil buah lain dari piring Darrien.
“Kalau begitu aku juga ambil punyamu.”
Darrien tersenyum.
“Silakan.”
Fiona menggigitnya.
Kemudian—
matanya sedikit melebar.
“…”
Darrien menunggu.
“Enak?”
Fiona mengangguk.
“Lumayan.”
Darrien tertawa.
“Berarti sekarang kita impas.”
Fiona tersenyum.
“Ya.”
Untuk beberapa saat—
mereka hanya saling tersenyum.
Tidak ada Saintess.
Tidak ada Grandmaster.
Tidak ada masa lalu.
Hanya Fiona dan Darrien—
yang sedang sarapan bersama.
***
Edward memperhatikan mereka dari seberang meja.
Gloria juga.
Keduanya saling memandang.
Tidak perlu mengatakan apa-apa.
Mereka sudah melihat cukup banyak dari masa lalu.
Dan sekarang—
mereka melihat sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Anak mereka tersenyum.
Dan wanita yang telah menunggunya selama ribuan tahun—
akhirnya bisa tersenyum bersamanya.
Gloria tersenyum kecil.
Edward menghela napas.
“Setidaknya…”
Ia berbisik.
“…mereka akhirnya bisa menikmati pagi seperti ini.”
Gloria mengangguk.
“Ya.”
***
Fiona sendiri mulai merasa sedikit lebih nyaman.
Mungkin—
dia memang tidak perlu terus bersembunyi.
Mungkin—
dia bisa kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya.
Namun saat ia menoleh kepada Darrien—
ia kembali teringat satu hal.
Pagi tadi.
Kamarnya.
Pelukan.
Tatapan Darrien.
Dan kata-katanya.
*Jangan lari lagi.*
Fiona perlahan memerah.
Darrien memperhatikannya.
“Kau baik-baik saja?”
Fiona langsung menjawab,
“Ya!”
Terlalu cepat.
Darrien tersenyum.
“Benarkah?”
“Benar.”
Ia mengambil cangkirnya dan meminumnya untuk menyembunyikan wajah.
Darrien tidak mengatakan apa-apa.
Namun senyumnya semakin lebar.
Di sisi lain meja—
Ace perlahan berbisik kepada Rowan,
“Dia memerah lagi.”
Rowan menjawab,
“Diam.”
Elarion menambahkan pelan,
“Biarkan.”
Ace mengangguk.
Mereka bertiga akhirnya tidak mengganggunya.
Untuk kali ini—
bahkan mereka tahu kapan harus berhenti menggoda.
Sarapan terus berlangsung.
Dan setelah tiga hari penuh Fiona menghilang dari hadapan mereka—
akhirnya pagi itu terasa seperti kembalinya Fiona yang sebenarnya.
Bukan Saintess.
Bukan wanita dari masa lalu.
Hanya—
Fiona.
Yang duduk di meja makan.
Tertawa.
Makan.
Dan perlahan…
belajar untuk tidak lari lagi.
