Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 386 — PELAJARAN KEVIN
Pagi itu—
Darrien kembali berdiri di tengah area latihan.
Namun suasananya berbeda.
Tidak ada target latihan.
Tidak ada magic dummy.
Tidak ada rintangan.
Hanya Kevin yang berdiri beberapa meter di depannya.
Keduanya saling menatap.
Darrien menyilangkan tangan.
“Jadi…”
Ia menghela napas.
“Apa yang akan kita lakukan hari ini?”
Kevin tersenyum tipis.
“Kau akan belajar.”
Darrien mengangkat alis.
“Bukankah selama ini aku juga belajar?”
“Tidak seperti hari ini.”
Darrien langsung merasa tidak nyaman.
“Kenapa kau tersenyum seperti itu?”
Kevin tidak menjawab.
Ia hanya mengangkat satu tangan.
Sebuah barrier besar terbentuk di sekitar area latihan.
Namun kali ini—
barrier itu tidak menutup seluruh hutan.
Hanya area kecil di sekitar mereka.
Darrien memperhatikan.
“Jadi tidak ada pengejaran?”
“Belum.”
“Belum?”
Kevin mengangguk.
“Hari ini kita mulai dari dasar.”
Darrien mengerutkan kening.
“Dasar?”
“Ya.”
Kevin berjalan mendekat.
“Kecepatanmu sudah meningkat.”
“Magic sense-mu juga berkembang.”
“Movement-mu mulai menyerupai apa yang pernah kau lihat dalam mimpimu.”
Darrien terdiam.
Kevin melanjutkan.
“Tapi ada satu masalah.”
“Apa?”
“Kau masih berpikir terlalu banyak.”
Darrien mengerutkan kening.
“Aku?”
“Ya.”
Kevin menunjuk kepalanya.
“Kau masih mencoba mengingat bagaimana Grandmaster melakukannya.”
Darrien terdiam.
Itu benar.
Setiap kali ia menggunakan teknik baru—
ia selalu mencoba mengingat gerakan yang dilihatnya dalam mimpi.
Kevin menggeleng.
“Itu bukan tujuan latihan.”
“Kalau kau terus meniru Grandmaster…”
Tatapannya menjadi tajam.
“…kau akan selalu berada di belakangnya.”
Darrien membeku.
Kevin melanjutkan.
“Yang harus kau lakukan adalah memahami teknik itu.”
“Lalu buat menjadi milikmu sendiri.”
Darrien perlahan tersenyum.
“Baik.”
Kevin mengangguk.
“Sekarang…”
Ia mengambil posisi.
“Serang aku.”
Darrien menghilang.
**WHOOSH!**
Kevin juga menghilang.
***
Benturan pertama terjadi kurang dari satu detik kemudian.
**BOOM!**
Darrien terdorong mundur.
Ia mendarat dengan satu kaki.
Kevin sudah berada di depannya.
“Jangan gunakan mata.”
Darrien terdiam.
“Gunakan magic sense.”
Kevin menyerang.
Darrien menghindar.
Serangan berikutnya datang dari samping.
Darrien kembali menghindar.
Kemudian dari belakang.
Ia memutar tubuh.
Dark magic muncul di tangannya.
**BOOM!**
Serangan mereka bertabrakan.
Kevin mundur.
“Bagus.”
Darrien menarik napas.
Namun Kevin langsung menyerang lagi.
“Jangan berhenti.”
Darrien menghilang.
Kevin mengejar.
Keduanya bergerak semakin cepat.
Namun kali ini—
Darrien tidak hanya mencoba menemukan Kevin.
Ia mencoba merasakan seluruh lingkungan.
Udara.
Tanah.
Pepohonan.
Perubahan kecil dalam magicure.
Kevin bergerak.
Darrien merasakannya.
Ia menghindar sebelum serangan tiba.
Kevin tersenyum.
“Bagus.”
Darrien menyerang balik.
Kevin menghindar.
“Sekarang tambahkan magic.”
Dark magic muncul di tangan Darrien.
Ia bergerak.
Menyerang.
Menghindar.
Berpindah.
Semua dilakukan hampir bersamaan.
Namun—
Kevin tiba-tiba meningkatkan kecepatannya.
Darrien kehilangan keseimbangan.
**BOOM!**
Ia jatuh ke tanah.
Darrien mengerang.
“…Aku baru saja mulai.”
Kevin berdiri di atasnya.
“Dan kau sudah jatuh.”
Darrien menatapnya.
“Aku benci pelajaran ini.”
Kevin tersenyum.
“Bagus.”
Darrien:
“…”
Kevin mengulurkan tangan.
“Bangun.”
Darrien meraih tangannya.
“Kenapa setiap kali aku mengatakan aku membencimu, kau selalu terlihat senang?”
“Karena itu berarti kau masih punya energi untuk mengeluh.”
Darrien menghela napas.
“Logika macam apa itu?”
“Logika guru.”
Darrien mendengus.
***
Latihan kembali dimulai.
Kali ini—
Kevin tidak memberinya waktu untuk berpikir.
Serangan datang dari segala arah.
Darrien bergerak.
Magic sense bekerja.
Tubuh mengikuti.
Dark magic mengalir.
Tidak ada chanting.
Tidak ada jeda.
Perlahan—
Darrien mulai berhenti memikirkan Grandmaster.
Ia tidak lagi mencoba meniru.
Ia mulai bergerak dengan caranya sendiri.
Satu langkah.
Berputar.
Menghindar.
Menyerang.
Berpindah.
Magicure mengikuti gerakannya.
Kevin memperhatikan.
Senyumnya semakin jelas.
“Sekarang kau mulai mengerti.”
Darrien tidak menjawab.
Ia terlalu sibuk bertahan.
Namun di dalam dirinya—
sesuatu terasa berbeda.
Untuk pertama kalinya sejak mimpi-mimpi itu dimulai—
ia tidak merasa sedang menggunakan kemampuan orang lain.
Kemampuan itu mulai terasa seperti miliknya sendiri.
***
Di luar barrier—
Fiona, Ace, Rowan, Elyon, dan Elarion telah tiba.
Ace melihat ke dalam.
“Kenapa Darrien terlihat seperti sedang dikejar sesuatu?”
Rowan menggeleng.
“Karena mungkin memang begitu.”
Elarion tertawa.
“Kevin.”
Elyon mengangguk.
“Dia sedang mengajarinya menggabungkan semuanya.”
Fiona tersenyum.
“Bagus.”
Ace menatap Fiona.
“Kau tidak merasa kasihan?”
Fiona berpikir sebentar.
“…Sedikit.”
Rowan menunjuknya.
“Sedikit?”
Fiona tersenyum.
“Tapi dia akan menjadi lebih kuat.”
Di dalam barrier—
Darrien tiba-tiba terpental.
**BOOM!**
Ace langsung menunjuk.
“Lihat!”
Rowan mengangguk.
“Dia masih hidup.”
Elarion tertawa.
“Berarti latihan berjalan lancar.”
Darrien dari dalam barrier:
“Aku masih bisa mendengar kalian!”
Ace langsung menutup mulut.
Rowan pura-pura melihat langit.
Fiona tertawa.
Kevin hanya tersenyum.
“Bagus.”
Darrien menatapnya.
“Bagus apanya?!”
Kevin mengambil posisi lagi.
“Masih bisa berteriak.”
Darrien membeku.
Kevin menunjuk ke arahnya.
“Berarti kita lanjut.”
Darrien menatap langit.
“…Aku ingin kembali ke Lunaris.”
Fiona tertawa.
Dan latihan pun—
kembali dimulai.
