Series
94
BAB 69
BEBERAPA LANGKAH
Fiona berdiri diam di dalam kandang.
Suara langkah para penjaga semakin dekat.
Ia menahan napas.
Dari celah pintu, cahaya lentera bergerak melewati lantai.
“Semuanya aman?”
“Periksa bagian belakang.”
Fiona menggigit bibir.
Tidak sekarang.
Ia baru saja menemukan jalan keluar.
Dan sekarang—
Darrien ada di sini.
Ia bisa merasakan auranya.
Dekat.
Sangat dekat.
Fiona memejamkan mata.
“Darrien…”
***
Di balik bangunan lain—
Darrien juga bersembunyi.
Tiga penjaga berjalan melewatinya.
Ia bisa merasakan Fiona.
Namun ada sesuatu yang mengganggunya.
Aura para penjaga bercampur dengan penghalang sihir di sekitar kandang.
Jika ia bergerak sekarang—
mereka akan ketahuan.
Kevin muncul tanpa suara di belakangnya.
Darrien menoleh.
Kevin mengangkat satu jari ke bibir.
Diam.
Darrien mengangguk.
Para penjaga akhirnya pergi.
Darrien kembali menggunakan indranya.
Fiona masih di sana.
“Dia belum pergi.”
Ace berbisik,
“Kalau begitu kita tunggu.”
Darrien menggeleng.
“Tidak.”
Ia menunjuk ke arah kandang.
“Dia sedang mencoba keluar.”
Elarion mengerutkan kening.
“Bagaimana kau tahu?”
“Auranya bergerak.”
Kevin tersenyum tipis.
“Bagus.”
Darrien menatapnya.
“Apa?”
“Kau mulai benar-benar memahami kemampuan sensing-mu.”
Darrien tidak menjawab.
Ia hanya menunggu.
***
Fiona membuka pintu kandang lagi.
Kali ini tidak ada suara.
Ia melangkah keluar.
Udara malam menyentuh wajahnya.
Bebas.
Setidaknya untuk beberapa detik.
Ia menatap jalan kecil di belakang kandang.
Kemudian…
sebuah suara terdengar.
“Fiona.”
Fiona membeku.
Suara itu.
Ia mengenalnya.
Terlalu mengenalnya.
Ia berbalik.
Tidak ada siapa pun.
“Darrien?”
Hening.
Kemudian suara langkah terdengar dari sisi lain.
Fiona berlari kecil.
Ia melewati sudut bangunan.
Dan berhenti.
Di depannya—
sebuah lorong kosong.
Tidak ada Darrien.
Namun aura itu semakin kuat.
Fiona hampir tertawa karena lega.
“Darrien!”
Dari sisi lain dinding—
Darrien mendengar suaranya.
Matanya membesar.
“Fiona!”
Mereka berdua bergerak pada waktu yang sama.
Satu langkah.
Dua.
Tiga—
**BRUK!**
Sebuah pintu dibuka dari sisi lain.
Seorang penjaga muncul.
Fiona langsung bersembunyi.
Darrien juga mundur.
Penjaga itu melihat sekeliling.
“Aneh…”
Ia menutup pintu kembali.
Fiona menahan napas.
Darrien mengepalkan tangan.
Mereka hanya dipisahkan oleh satu dinding.
Namun tidak bisa saling melihat.
***
Di aula utama, suara musik masih terdengar.
Clark sedang berbicara dengan Keith.
Surya berdiri di samping Marcus.
Namun Marcus tiba-tiba menoleh ke arah luar.
Ia merasakan sesuatu.
Sebuah perubahan kecil dalam aliran sihir.
Marcus mengerutkan kening.
“Penghalang belakang…”
Surya menatapnya.
“Apa?”
“Seperti ada seseorang yang menyentuhnya.”
Surya langsung berdiri.
“Siapa?”
Marcus tidak tahu.
Namun firasatnya buruk.
“Periksa bagian belakang.”
Surya mengangguk.
Beberapa penjaga segera bergerak.
***
Darrien merasakan perubahan itu.
“Penjaga datang.”
Ace mengangguk.
“Kita harus pergi.”
Darrien menatap dinding di depannya.
“Fiona ada di balik sana.”
“Aku tahu.”
“Aku bisa membukanya.”
Kevin langsung menahan bahunya.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kau menghancurkan dinding itu sekarang, seluruh kediaman akan tahu kau ada di sini.”
Darrien terdiam.
Kevin menatapnya.
“Gunakan kepalamu.”
Darrien menarik napas.
Kemudian—
ia tersenyum kecil.
“Aku punya cara lain.”
Kevin mengangkat alis.
Darrien mengangkat tangan.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada sihir besar.
Hanya sebuah lapisan tipis bayangan yang menyelimuti tubuhnya.
Ace terdiam.
“Sejak kapan kau bisa melakukan itu?”
“Dua hari lalu.”
Kevin tersenyum.
“Dia belajar cepat.”
Elarion menghela napas.
“Jangan mulai memujinya.”
Darrien melangkah.
Namun sebelum pergi—
ia menoleh ke arah dinding.
“Fiona.”
Di sisi lain…
Fiona mendengar suara itu.
Ia menyentuh dinding dengan telapak tangannya.
“Darrien…”
Untuk sesaat, keduanya berdiri hanya dipisahkan oleh batu.
Namun kemudian—
langkah penjaga semakin dekat.
Darrien terpaksa pergi.
Fiona juga harus bergerak.
Mereka berpisah lagi.
Bukan karena mereka tidak menemukan satu sama lain.
Tetapi karena malam itu…
mereka belum siap menghadapi seluruh dunia yang berdiri di antara mereka.
Dan tanpa mereka ketahui—
Marcus sudah mulai bergerak menuju kandang.
Ia tidak tahu siapa yang menyusup.
Namun ia tahu satu hal.
**Seseorang telah masuk ke kediaman Ardika.**
Share this novel