Series
382
BAB 117
PETUNJUK KEDUA
Hari berikutnya, bagian terdalam Perpustakaan Kerajaan kembali dipenuhi keheningan.
Kevin duduk di salah satu meja panjang.
Ace berada beberapa rak di belakangnya.
Sementara Rowan terus memeriksa dokumen-dokumen lama yang telah mereka minta dari bagian arsip kerajaan.
Sudah berjam-jam mereka mencari.
Sebagian besar catatan tidak berhubungan dengan penelitian mereka.
Namun Rowan tidak menyerah.
Ia tahu bahwa catatan tentang hilangnya seorang pewaris kerajaan mungkin tidak tercatat dalam bagian sejarah biasa.
Jika kejadian itu memang melibatkan sihir—
mungkin catatannya disimpan di bagian yang berbeda.
Rowan mengambil sebuah kotak tua dari rak.
Debunya cukup tebal.
Ia meniup permukaannya.
“Ini…”
Kevin menoleh.
“Apa?”
Rowan memeriksa simbol pada bagian atas kotak.
“Catatan kerajaan dari masa pemerintahan sebelumnya.”
Ace segera mendekat.
“Berhubungan dengan pewaris yang hilang?”
“Belum tahu.”
Rowan membuka kotak tersebut dengan hati-hati.
Di dalamnya terdapat beberapa gulungan dan lembaran dokumen.
Sebagian sudah menguning.
Beberapa bahkan memiliki bekas kerusakan akibat usia.
Rowan membuka lembar pertama.
Catatan mengenai pergerakan pasukan.
Bukan.
Lembar kedua.
Catatan tentang keamanan istana.
Bukan.
Lembar ketiga—
Rowan berhenti.
Tatapannya berubah.
Kevin segera berdiri.
“Apa?”
Rowan membaca judul dokumen tersebut perlahan.
“Laporan Insiden Pewaris.”
Ace mendekat.
“Pewaris?”
Rowan mengangguk.
Ia membuka dokumen itu lebih lebar.
“Ini berasal dari tahun ketika sang pangeran menghilang.”
Kevin terdiam.
“Baca.”
Rowan mulai membaca.
“Pada malam kejadian, tidak ditemukan tanda perlawanan besar di dalam istana.”
Ace mengerutkan kening.
“Tidak ada perlawanan?”
“Begitu catatannya.”
Rowan melanjutkan.
“Tidak ada kerusakan pada pintu kamar.”
“Tidak ada jejak pertempuran.”
“Tidak ada saksi yang melihat seseorang membawa sang pangeran keluar.”
Kevin menatap dokumen itu.
“Kalau begitu bagaimana dia bisa menghilang?”
Rowan membalik halaman.
Ada bagian yang sudah rusak.
Namun beberapa kalimat masih dapat dibaca.
“Ditemukan sisa energi sihir…”
Ia berhenti.
“Apa?”
Rowan membaca lagi.
“...di sekitar tempat tidur sang pangeran.”
Ace langsung mendekat.
“Jenis sihir?”
Rowan menggeleng.
“Tidak diketahui.”
Kevin mengambil dokumen tersebut.
Ia membaca bagian berikutnya.
“Penyelidik kerajaan menyimpulkan bahwa energi tersebut kemungkinan berasal dari sihir pemindahan.”
Ace mengerutkan kening.
“Pemindahan?”
“Namun…”
Rowan menunjuk bagian bawah.
“Kesimpulan itu kemudian dibatalkan.”
Kevin membaca lebih cepat.
“Kenapa?”
“Karena tidak ditemukan jejak tujuan.”
Ace menghela napas.
“Jadi mereka tidak tahu ke mana sang pangeran dibawa.”
Rowan mengangguk.
Namun ia belum selesai.
Ada satu kalimat yang ditulis dengan tinta berbeda.
Lebih gelap.
Seolah ditambahkan kemudian.
Rowan membacanya.
“Ditemukan perubahan kecil pada sisa energi sang pangeran.”
Kevin menatapnya.
“Perubahan?”
Rowan melanjutkan.
“Seolah-olah…”
Ia terdiam.
“Apa?”
“Seolah-olah energi asli sang pangeran telah ditekan.”
Ruangan mendadak sunyi.
Ace menatap Kevin.
Kevin menatap Rowan.
“Ditekan?”
Rowan mengangguk.
“Bukan dihilangkan.”
“Ditekan.”
Kevin langsung teringat pada Darrien.
Pada wajahnya.
Pada energi yang tidak pernah bisa mereka pahami.
Ia mengambil napas panjang.
“Baca bagian berikutnya.”
Rowan membalik halaman.
Namun halaman berikutnya hampir seluruhnya rusak.
Hanya satu kalimat yang tersisa.
**“Kemungkinan adanya sihir penyamaran atau penyegelan tidak dapat dikesampingkan.”**
Ace terdiam.
Kevin menutup matanya sesaat.
“Jadi…”
Rowan mengangguk perlahan.
“Petunjuk kedua.”
Mereka bertiga tidak langsung berbicara.
Selama ini mereka mengira segel di wajah Darrien mungkin merupakan sesuatu yang terjadi secara terpisah.
Namun catatan ini mengatakan sesuatu yang berbeda.
Pangeran yang hilang—
mungkin telah mengalami perubahan pada energinya.
Dan perubahan tersebut kemungkinan disebabkan oleh sihir yang sengaja digunakan untuk menyembunyikan identitasnya.
Ace akhirnya berkata,
“Kalau ini benar…”
Kevin menyelesaikan kalimatnya.
“Segel Darrien mungkin bukan sekadar sihir pada wajah.”
Rowan menatap dokumen tua di tangannya.
“Mungkin sejak awal tujuannya adalah menyembunyikan siapa dirinya.”
Tidak ada seorang pun yang mengatakan kata berikutnya.
Namun mereka semua memikirkan hal yang sama.
**Darrien.**
***
Di luar ruangan arsip—
seorang penjaga kerajaan berjalan melewati pintu.
Tidak mengetahui bahwa tiga orang di dalam sedang membaca bagian sejarah yang telah lama dilupakan.
Sementara di dalam—
Rowan dengan hati-hati menyimpan kembali dokumen tersebut.
“Jangan katakan apa pun kepada Darrien dulu.”
Ace mengangguk.
“Kita belum tahu apakah ini benar-benar berhubungan dengannya.”
Kevin menatap catatan itu sekali lagi.
“Tapi kita harus membawa salinannya kepada Yang Mulia.”
Rowan mengangguk.
“Dan kepada Elarion.”
Ace tersenyum tipis.
“Kurasa Elarion akan sangat tertarik.”
Kevin menghela napas.
“Dia mungkin akan langsung mencoba eksperimen ketiga belas.”
Ace tertawa kecil.
“Kasihan Darrien.”
Rowan akhirnya tersenyum.
“Setidaknya kali ini kita membawa sesuatu yang nyata.”
Mereka kembali menatap dokumen tua itu.
Petunjuk pertama membuat mereka bertanya—
**apakah Darrien adalah pewaris yang hilang?**
Petunjuk kedua kini membuat pertanyaan itu menjadi jauh lebih serius.
**Jika Darrien memang pewaris tersebut…**
**siapa yang menyembunyikan identitasnya, dan mengapa?**
Jawabannya masih terkubur jauh di dalam sejarah.
Namun untuk pertama kalinya—
mereka memiliki bukti bahwa hilangnya sang pangeran mungkin bukan sekadar kehilangan biasa.
Seseorang mungkin telah memastikan bahwa sang pewaris tidak akan mudah ditemukan.
Share this novel