Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 350 — KALI INI, JANGAN LARI
Fiona masih tertidur dengan tenang.
Cahaya pagi perlahan masuk melalui celah tirai.
Ruangan terasa begitu tenang.
Hingga sesuatu yang kecil—
bergerak di pipinya.
Fiona mengerutkan kening.
Sesuatu kembali menyentuh pipinya.
Menggelitik.
Fiona menggerakkan wajahnya sedikit.
“Jangan ganggu…”
Matanya masih tertutup.
Tangannya perlahan terangkat.
Kemudian—
**tap!**
Tangannya menepis sesuatu di pipinya.
Namun beberapa detik kemudian—
sentuhan itu kembali.
Kali ini di sisi wajahnya.
Fiona kembali mengerutkan kening.
“Sudah kubilang…”
Tangannya bergerak lagi.
**tap!**
“Jangan ganggu…”
Ia menarik selimut sedikit lebih tinggi.
Namun—
sentuhan itu tetap ada.
Fiona akhirnya menyerah.
Perlahan—
matanya terbuka.
Masih mengantuk.
Pandangannya kabur beberapa detik.
Kemudian fokusnya mulai kembali.
Dan seseorang berada tepat di depannya.
Fiona membeku.
Mata emasnya melebar.
“…”
Darrien.
Darrien sedang duduk di sisi tempat tidur.
Dan jari telunjuknya baru saja berhenti di pipi Fiona.
Keduanya saling menatap.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Fiona tiba-tiba duduk.
“B—Bentar!”
Ia melihat sekeliling.
Ini bukan Crystal Garden.
Bukan cabang pohon.
Bukan tempat persembunyiannya.
Ia berada di sebuah kamar.
Kamar Darrien.
Fiona langsung menoleh kepadanya.
“Di mana aku?”
Darrien menjawab dengan tenang.
“Kamarku.”
Fiona membeku.
“…”
Kemudian menatap Darrien lagi.
“Tunggu.”
Ia menunjuk dirinya sendiri.
“Kenapa aku di kamarmu?”
Darrien tersenyum.
“Aku membawamu.”
Fiona terdiam.
“Kau…”
Ia menunjuk Darrien.
“Kau membawaku?”
“Ya.”
“Dari mana?”
“Crystal Garden.”
Fiona menutup wajahnya.
“…”
Darrien tersenyum kecil.
“Ketahuan.”
Fiona perlahan menurunkan tangannya.
“Aku tidak menyangka kau akan menemukanku.”
“Kenapa?”
“Karena aku sudah menyembunyikan keberadaanku.”
Darrien mengangguk.
“Aku tahu.”
Fiona menatapnya.
“Lalu bagaimana kau menemukanku?”
Darrien terdiam sebentar.
“Beruntung.”
Fiona menyipitkan mata.
“Bohong.”
Darrien tertawa kecil.
“Sedikit.”
Fiona memperhatikan wajahnya.
Kemudian ia menyadari sesuatu.
“Bagaimana kau bisa menyembunyikan auramu tadi?”
Darrien sedikit mengangkat alis.
“Aku?”
“Ya.”
“Kau bisa merasakannya?”
Fiona mengangguk.
Darrien tersenyum.
“Aku sendiri tidak tahu.”
Fiona terdiam.
Ada sesuatu yang aneh tentang jawabannya.
Namun sebelum ia sempat bertanya—
Darrien kembali menyentuh pipinya.
Fiona langsung mundur.
“Eh!”
Darrien tertawa.
“Maaf.”
“Kau yang mengganggu wajahku!”
“Aku hanya memastikan kau benar-benar bangun.”
Fiona memelototinya.
“Aku sudah bangun!”
“Sekarang iya.”
Fiona mendengus.
Kemudian ia mencoba turun dari tempat tidur.
Namun—
Darrien menarik tangannya.
Fiona berhenti.
“Apa?”
Darrien menatapnya.
“Mau ke mana?”
Fiona menjawab cepat.
“Keluar.”
“Kenapa?”
“Karena…”
Fiona terdiam.
Karena apa?
Ia tidak mungkin mengatakan—
*karena aku malu berada di kamarmu setelah aku sengaja menghindarimu.*
Darrien masih menunggu jawabannya.
Fiona akhirnya bergumam,
“Aku ada urusan.”
Darrien tersenyum.
“Urusan apa?”
Fiona berpikir cepat.
“…”
Tidak ada.
Darrien tertawa kecil.
“Tidak ada, kan?”
Fiona langsung memalingkan wajah.
“Diam.”
Darrien perlahan melepaskan tangannya.
Namun sebelum Fiona benar-benar turun—
ia berkata,
“Kau boleh pergi.”
Fiona menoleh.
“Benarkah?”
“Ya.”
Fiona langsung tersenyum lega.
Namun Darrien melanjutkan,
“Setelah kau sarapan.”
Senyumnya langsung menghilang.
“…”
Darrien menahan tawa.
“Aku serius.”
“Aku tidak lapar.”
“Kau tidur di pohon.”
“Aku masih hidup.”
“Kau juga menghilang dari istana.”
“Aku aman.”
“Dan sekarang kau tidur sampai pagi di Crystal Garden.”
Fiona menghela napas.
“…”
Darrien menatapnya.
“Jadi sarapan.”
Fiona menatapnya lama.
Kemudian—
“Baiklah.”
Ia akhirnya menyerah.
Namun ketika hendak turun—
ia menyadari tangannya masih berada di tangan Darrien.
Keduanya melihat tangan mereka.
Fiona langsung membeku.
Darrien juga diam.
Fiona perlahan mencoba menarik tangannya.
Namun Darrien tidak langsung melepaskan.
Fiona menatapnya.
“Darrien…”
“Hm?”
“Lepaskan.”
“Kenapa?”
“Karena…”
Wajah Fiona mulai memerah.
“…aku malu.”
Darrien tersenyum.
“Kemarin kau memelukku di depan semua orang.”
Fiona langsung menutup wajah.
“Jangan ingatkan aku!”
Darrien tertawa.
“Aku tidak akan melupakannya.”
“Darrien!”
Ia semakin tertawa.
Fiona akhirnya memukul pelan bahunya.
“Jahat.”
Darrien menangkap tangannya.
Kemudian menatapnya dengan lembut.
“Kalau begitu…”
Ia berkata pelan.
“Jangan lari lagi.”
Fiona terdiam.
Senyumnya perlahan menghilang.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena kata-kata itu menyentuh sesuatu yang dalam.
Darrien melanjutkan,
“Aku tidak ingin memaksamu.”
“Aku hanya…”
Ia berhenti sebentar.
“…ingin kau tahu bahwa aku akan tetap berada di sini.”
Fiona menatap matanya.
“Darrien…”
“Kalau kau butuh waktu, aku akan menunggu.”
“Kalau kau ingin menjauh sebentar, aku akan membiarkanmu.”
“Tapi…”
Ia tersenyum.
“Jangan menghilang tanpa memberitahuku.”
Fiona menundukkan kepala.
Kemudian tersenyum kecil.
“Baik.”
Darrien akhirnya melepaskan tangannya.
Fiona turun dari tempat tidur.
Namun setelah dua langkah—
ia berhenti.
Kemudian menoleh.
“Darrien?”
“Hm?”
Fiona tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Sudah menemukanku.”
Darrien membalas senyumnya.
“Sama-sama.”
Fiona berjalan menuju pintu.
Namun tepat ketika tangannya menyentuh gagang pintu—
**tuk.**
Ia berhenti.
Menyadari sesuatu.
Fiona menatap pintu.
Kemudian merasakan dark magic tipis yang masih menyelimuti kamar.
Ia perlahan menoleh.
“Darrien…”
“Ya?”
“Kenapa kamarmu diberi penghalang?”
Darrien terdiam.
Kemudian tersenyum santai.
“Supaya tidak ada yang mengganggu.”
Fiona menyipitkan mata.
“…”
Darrien menambahkan,
“Termasuk Kevin.”
Fiona akhirnya tertawa kecil.
“Kasihan Kevin.”
Darrien mengangguk serius.
“Dia memang sudah cukup menderita.”
Fiona tertawa lagi.
Untuk pertama kalinya—
ia tidak merasa perlu melarikan diri.
Tidak sekarang.
Ia membuka pintu.
Namun sebelum keluar—
Darrien berkata,
“Fiona.”
Ia menoleh.
“Ya?”
“Selamat pagi.”
Fiona tersenyum.
“Selamat pagi, Darrien.”
Kemudian ia pergi.
Langkahnya ringan.
Wajahnya masih sedikit merah.
Namun kali ini—
ia tidak menggunakan teleportasi.
