480. Tiga Hari Sebelum Kerberangkatan

Romance Completed 594

BAB 480 — TIGA HARI SEBELUM KEBERANGKATAN

Tiga hari sebelum keberangkatan menuju Shadowcresent...

Suasana di aula utama Istana Veyth terasa jauh lebih berat daripada biasanya.

Di ujung ruangan, King Edward duduk di singgasana bersama Queen Gloria.

Di hadapan mereka berdiri Darrien.

Di sisi kanan Darrien terdapat Ace dan Rowan.

Kevin berdiri sedikit di belakang, masih membawa beberapa catatan penelitian yang sudah mulai penuh coretan.

Elyon dan Elarion berada di sisi lain meja panjang, memeriksa kembali peta dan gulungan kuno yang akan mereka bawa.

Tidak ada seorang pun yang bercanda.

Bahkan Ace.

Dan itu sendiri sudah cukup menunjukkan betapa seriusnya pertemuan pagi itu.

Darrien menarik napas panjang.

Kemudian melangkah maju.

"Ayah. Ibu."

Edward mengangkat pandangan.

Darrien menatap kedua orang tuanya dengan tenang, meskipun ada ketegangan yang jelas terlihat di matanya.

"Kami akan berangkat menuju Shadowcresent."

Ruangan menjadi sunyi.

Edward sudah menduga kalimat itu.

Namun mendengarnya secara langsung tetap terasa berbeda.

"Kapan?"

"Tiga hari lagi."

Gloria langsung menatap putranya.

"Tiga hari?"

Darrien mengangguk.

"Kami membutuhkan sedikit waktu untuk mempersiapkan perlengkapan terakhir dan memastikan jalur yang kami temukan bisa digunakan."

Edward menyandarkan tubuhnya ke singgasana.

Kemudian berkata,

"Aku ikut."

Darrien langsung menggeleng.

"Tidak."

Jawabannya begitu cepat hingga Ace menoleh.

Edward mengerutkan kening.

"Aku belum selesai bicara."

"Aku tahu."

Darrien tetap berdiri tegak.

"Tapi jawabanku tetap sama."

Gloria ikut berdiri.

"Darrien..."

Darrien menatap ibunya.

"Ibu juga tidak boleh ikut."

Gloria terdiam.

Kedua tangannya perlahan mengepal di sisi gaunnya.

Edward menatap putranya lama.

"Kenapa?"

Darrien menarik napas.

"Karena jika Ayah dan Ibu ikut..."

Ia berhenti sejenak.

"Veyth akan kehilangan pemimpinnya."

Edward tidak menjawab.

Darrien melanjutkan.

"Kalau sesuatu terjadi pada kami di Shadowcresent, Veyth masih membutuhkan seorang raja dan ratu."

Tatapannya menjadi lebih serius.

"Raizen bukan lawan biasa."

Ruangan kembali sunyi.

"Jika kami gagal..."

Darrien menelan ludah.

"...dan Ayah serta Ibu juga berada di sana, siapa yang akan menjaga Veyth?"

Gloria menatap putranya dengan mata berkaca-kaca.

Darrien melanjutkan dengan suara lebih rendah.

"Raizen mungkin tidak hanya akan mendapatkan Fiona."

Ia mengepalkan tangan.

"Jika keadaan menjadi buruk, dia bisa menggunakan kekacauan itu untuk mengambil keuntungan dari Veyth."

Edward menundukkan pandangan.

Ia tahu.

Ia sangat tahu.

Sebagai raja, ia tidak bisa meninggalkan kerajaannya hanya karena hatinya ingin mengikuti putranya.

Namun sebagai seorang ayah...

ia ingin berdiri di sisi Darrien.

Ingin ikut membawa Fiona pulang.

Ingin memastikan putranya tidak menghadapi Raizen sendirian.

Edward mengepalkan tangannya di atas sandaran singgasana.

"Aku..."

Suaranya berhenti.

Ia menghela napas panjang.

"...minta maaf."

Darrien menatap ayahnya.

Edward menatap putranya dengan mata yang dipenuhi rasa bersalah.

"Aku adalah ayahmu."

Ia tersenyum pahit.

"Tapi sekarang aku bahkan tidak bisa ikut membantumu menghadapi orang yang telah membawa Fiona pergi."

Darrien terdiam.

Edward menundukkan kepala sedikit.

"Maafkan aku karena aku tidak cukup kuat untuk berdiri di sisimu."

Gloria langsung menoleh kepada suaminya.

Namun sebelum ia berkata apa-apa—

Darrien melangkah maju.

Ia berlutut di depan kedua orang tuanya.

"Ayah."

Edward mengangkat kepala.

Darrien menatapnya.

"Jangan katakan begitu."

Tangannya mengepal di atas lutut.

"Ini bukan kesalahan Ayah."

Edward terdiam.

"Ini pilihanku."

Darrien tersenyum kecil.

"Aku yang memutuskan untuk pergi."

Kemudian ia menoleh kepada ibunya.

"Ibu juga."

Gloria tidak mampu menjawab.

Air mata mulai mengalir dari sudut matanya.

"Darrien..."

Darrien bangkit perlahan.

Ia mendekati ibunya.

Gloria langsung memegang wajah putranya dengan kedua tangannya.

Matanya merah.

"Kau sudah terlalu lama pergi..."

Suaranya bergetar.

"Ibu tahu kau ingin membawa Fiona pulang."

Ia mengusap pipi Darrien.

"Tapi Ibu tetap takut."

Darrien diam.

"Setiap kali kau pergi..."

Air mata lain jatuh.

"...Ibu takut itu akan menjadi terakhir kalinya Ibu melihatmu."

Darrien menahan napas.

Kemudian ia memegang tangan ibunya.

"Aku akan kembali."

Gloria menggigit bibir.

"Jangan hanya mengatakan itu."

Darrien tersenyum kecil.

"Aku berjanji."

Gloria memeluknya.

Darrien sempat terdiam sebelum akhirnya membalas pelukan itu.

Tangannya perlahan melingkari tubuh ibunya.

Untuk beberapa detik...

tidak ada yang berbicara.

Ace menundukkan wajah.

Rowan mengalihkan pandangan.

Bahkan Kevin berhenti membaca catatannya.

Elyon dan Elarion hanya berdiri diam.

Mereka memberi ruang kepada keluarga itu.

Beberapa saat kemudian, Gloria melepaskan pelukan.

Ia menghapus air matanya.

Kemudian menatap mata Darrien.

"Fiona..."

Darrien mengangguk.

"Iya."

Gloria menarik napas panjang.

"Kalau begitu..."

Ia memaksakan senyum kecil.

"...bawa dia pulang."

Darrien tersenyum.

"Aku akan melakukannya."

Edward akhirnya berdiri dari singgasana.

Ia berjalan mendekati putranya.

Kemudian meletakkan tangan di bahu Darrien.

"Kalau begitu, aku akan mempercayaimu."

Darrien menatap ayahnya.

Edward menarik napas.

"Namun satu hal."

"Apa?"

"Jangan bertindak sendirian."

Edward menatap Ace, Rowan, Kevin, Elyon, dan Elarion.

"Kau membawa mereka."

Darrien mengangguk.

"Kami akan tetap bersama."

Elyon mengangguk.

"Setiap keputusan akan dibicarakan bersama."

Elarion menambahkan,

"Dan kami akan menghindari pertarungan yang tidak diperlukan."

Ace mengangkat tangan.

"Dan aku akan memastikan Darrien tidak melakukan sesuatu yang bodoh."

Darrien menoleh.

"Aku tidak pernah—"

Rowan langsung memotong.

"Kau pernah."

Ace mengangguk.

"Banyak."

Darrien terdiam.

"...Baik."

Kevin membuka salah satu gulungannya.

"Aku juga sudah menyiapkan pola teleportasi berdasarkan hasil penelitian terakhir."

Elyon mendekat.

"Pastikan cadangannya juga disiapkan."

"Sudah."

Rowan menunjuk peta.

"Kita akan menghindari jalur lama."

Elarion mengangguk.

"Dan jika mekanisme gunung berubah lagi?"

Darrien menatap peta.

"Kita beradaptasi."

Ace tersenyum.

"Seperti biasa."

Darrien menghela napas.

"Sayangnya."

Ace terkekeh.

Edward memperhatikan mereka.

Untuk pertama kalinya pagi itu...

ia sedikit tersenyum.

Kemudian ia kembali menatap Darrien.

"Jadi tiga hari lagi?"

Darrien mengangguk.

"Tiga hari."

Gloria menatap putranya.

Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan.

Begitu banyak nasihat.

Begitu banyak kekhawatiran.

Namun setelah melihat mata Darrien—

ia akhirnya memahami.

Putranya sudah membuat keputusan.

Dan mungkin...

ini memang satu-satunya jalan yang bisa ia pilih.

Gloria menarik napas panjang.

"Baiklah."

Ia tersenyum kecil meskipun air mata masih tersisa di matanya.

"Kami akan mengantarmu pada hari keberangkatan."

Darrien mengangguk.

"Terima kasih, Ibu."

Edward menepuk bahunya.

"Dan Darrien..."

"Hm?"

"Kembalilah."

Darrien menatap ayahnya.

Kemudian tersenyum.

"Aku akan kembali."

Namun dalam hati—

hanya ada satu nama.

Fiona.

---

Malam.

Shadowcresent.

Sebulan telah berlalu sejak Fiona sembuh dari demam dan flu.

Sejak dua hari ketika Fiona tidak sadarkan diri...

Raizen menjadi jauh lebih berhati-hati.

Bahkan terlalu berhati-hati.

Setiap kali Fiona batuk sedikit—

Raizen langsung menoleh.

Setiap kali angin malam terasa lebih dingin—

selimut muncul.

Setiap kali Fiona mengatakan dirinya lelah—

Raizen langsung menyuruhnya beristirahat.

Dan yang lebih parah...

Raizen mulai memberinya berbagai pakaian baru.

Gaun.

Jubah.

Mantel lembut.

Pakaian hangat.

Pakaian untuk berjalan-jalan.

Pakaian untuk malam.

Fiona sampai tertawa ketika melihat beberapa pakaian baru kembali memenuhi salah satu ruangan.

"Raizen."

"Hm?"

Fiona mengangkat salah satu pakaian.

"Ini yang keenam minggu ini."

Raizen menatap pakaian itu.

"Yang ini berbeda."

Fiona menahan tawa.

"Berbeda di mana?"

"Bahannya lebih hangat."

Fiona tertawa.

"Kau terlalu memikirkannya."

Raizen hanya menatapnya.

"Aku tidak ingin kau sakit lagi."

Fiona menggeleng sambil tersenyum.

"Aku sudah sehat."

"Aku tahu."

"Kalau tahu..."

Fiona menunjuk pakaian itu.

"...kenapa terus membeli?"

Raizen diam beberapa detik.

"...Aku suka melihatmu memakainya."

Fiona terdiam.

Kemudian pipinya sedikit memerah.

"Kau..."

Raizen hanya tersenyum kecil.

Dari belakang mereka—

Mufasa berdiri membawa beberapa pakaian baru.

Ia memandang tumpukan pakaian.

Kemudian menatap Raizen.

Kemudian Fiona.

Ia menghela napas.

"...Aku masih tidak mengerti bagaimana aku bisa menerima pekerjaan ini."

Fiona tertawa.

Raizen menoleh.

"Mufasa."

"Ya, Yang Mulia?"

"Letakkan di sana."

Mufasa menatap tumpukan pakaian.

"...Tentu."

Ia meletakkannya.

Kemudian menghela napas lagi.

Fiona tersenyum geli.

"Kau sering sekali menghela napas."

Mufasa menjawab datar.

"Karena pekerjaan saya semakin banyak."

Fiona tertawa.

Raizen hanya tersenyum.

---

Malam itu...

Raizen membawa Fiona ke sebuah danau di Shadowcresent.

Danau itu tenang.

Airnya memantulkan cahaya bulan.

Pepohonan besar berdiri di sekelilingnya.

Angin malam bergerak lembut melewati dedaunan.

Raizen dan Fiona duduk di bawah sebuah pohon besar.

Fiona bersandar pada dada Raizen.

Kedua lengannya berada santai di sekitar pinggangnya.

Raizen memeluknya dari belakang.

Untuk beberapa saat...

tidak ada percakapan.

Hanya suara air.

Angin.

Dan dedaunan yang bergerak perlahan.

Raizen menatap permukaan danau.

Damai.

Itulah yang ia rasakan.

Damai.

Tidak ada pertempuran.

Tidak ada Veyth.

Tidak ada ancaman.

Hanya dirinya...

dan Fiona.

Fiona yang semakin mengantuk di dalam pelukannya.

Kepalanya perlahan bersandar lebih berat pada dada Raizen.

Raizen menunduk.

"Fiona?"

"Hm..."

Jawaban yang sangat pelan.

Raizen tersenyum.

"Ngantuk?"

"Sedikit..."

Fiona bahkan hampir tidak membuka matanya.

Raizen menarik selimut lembut yang sudah ia bawa.

Ia menyelimuti tubuh Fiona.

Beberapa detik kemudian—

angin kembali bertiup.

Raizen langsung menarik selimut lebih tinggi.

Fiona membuka satu mata.

"Raizen..."

"Hm?"

"Kau melakukannya lagi."

"Apa?"

"Selimut."

Raizen menatapnya.

"Anginnya dingin."

Fiona terkekeh kecil.

"Aku baik-baik saja."

Raizen diam.

Fiona mengangkat wajah.

"Serius."

Raizen masih terlihat tidak yakin.

Fiona menyentuh pipinya.

"Kau terlalu banyak berpikir."

Raizen memegang tangan Fiona.

"Aku tahu."

"Kalau tahu..."

Fiona tersenyum.

"...berhentilah khawatir."

Raizen terdiam beberapa saat.

Kemudian ia menarik Fiona lebih dekat.

"Aku mencoba."

Fiona tertawa kecil.

Raizen menundukkan kepala.

"Namun dua hari ketika kau tidur..."

Suaranya menjadi lebih rendah.

"...duniaku terasa tidak lengkap."

Fiona berhenti tertawa.

Tatapannya menjadi lembut.

Raizen memeluknya lebih erat.

"Jadi..."

Ia menatap Fiona.

"Jangan tidur selama itu lagi."

Fiona menatapnya beberapa detik.

Kemudian tertawa kecil.

"Baik."

Ia kembali menyandarkan kepalanya di dada Raizen.

"Aku janji."

Raizen mengusap rambutnya perlahan.

"Benarkah?"

"Mm-hm."

"Janji?"

"Janji."

Raizen akhirnya tersenyum.

Fiona menutup matanya lagi.

Namun tepat ketika angin kembali bergerak melewati mereka—

Raizen langsung menarik selimut sampai hampir menutupi bahunya.

Fiona membuka mata.

"Raizen..."

"Hm?"

"Aku benar-benar baik-baik saja."

Raizen tersenyum kecil.

"Aku tahu."

Fiona menggeleng sambil tertawa.

"Kalau begitu..."

Ia kembali menutup mata.

"...jangan terlalu mengkhawatirkanku."

Raizen menatap wajahnya.

Kemudian mengecup puncak kepalanya.

"Aku akan mencoba."

Fiona tersenyum kecil dalam pelukannya.

Namun jauh di dalam dirinya...

ada sesuatu yang kembali bergerak.

Sebuah rasa familiar.

Sebuah perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.

Ketika angin malam melewati danau—

Fiona membuka mata sedikit.

Ia menatap permukaan air.

Entah kenapa...

danau itu terasa sangat familiar.

Sangat jauh.

Seolah-olah ia pernah duduk di tempat seperti ini.

Dengan seseorang.

Namun sebelum pikirannya menemukan jawabannya—

Raizen menariknya kembali ke dalam pelukan.

Fiona menatapnya sebentar.

Kemudian tersenyum.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Dan malam itu...

Shadowcresent tetap tenang.

Tanpa menyadari bahwa tiga hari dari sekarang—

sebuah rombongan dari Veyth akan kembali bergerak menuju kerajaan vampire.

Dan kali ini...

mereka datang untuk perang.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience