375. Merasakan Magicure

Romance Completed 594

BAB 375 — MERASAKAN MAGICURE

Setelah percakapannya dengan kedua orang tuanya selesai, Darrien meninggalkan ruang makan.

Ia berjalan menyusuri lorong istana.

Namun untuk beberapa saat—

ia tidak ingin melakukan apa pun.

Tidak ingin berbicara.

Tidak ingin berlatih bersama Kevin.

Bahkan tidak ingin memikirkan apa pun yang berhubungan dengan urusan kerajaan.

Ia hanya ingin—

bernapas.

Dan berpikir.

Pikirannya kembali kepada mimpi-mimpi yang belakangan terus muncul.

Hutan.

Air terjun.

Magic dummy.

Grandmaster Darrien.

Cara pria itu duduk dengan begitu tenang.

Cara ia merasakan seluruh magicure di sekitarnya.

Dan terutama—

cara ia mengendalikan magicure di dalam tubuhnya.

Darrien berhenti berjalan.

“…”

Ia akhirnya tahu apa yang ingin dilakukannya.

Sendiri.

Tanpa Kevin.

Tanpa penonton.

Tanpa gangguan.

***

HUTAN VEYTH

Tidak jauh dari wilayah istana—

terdapat sebuah hutan luas yang masih berada di dalam perbatasan Veyth.

Tempat itu jarang didatangi.

Pepohonan tumbuh tinggi dan rapat.

Udara terasa segar.

Magicure alam mengalir dengan tenang di antara dedaunan.

Darrien berjalan semakin dalam.

Hingga akhirnya—

ia menemukan sebuah pohon besar.

Ia melompat.

**WHOOSH!**

Tubuhnya mendarat dengan ringan di salah satu cabang yang kokoh.

Darrien duduk di sana.

Punggungnya bersandar pada batang pohon.

Untuk beberapa saat—

ia hanya melihat hutan di depannya.

Tidak melakukan apa pun.

Kemudian perlahan—

posisinya berubah.

Kakinya sedikit ditekuk.

Tangannya diletakkan santai.

Punggungnya tegak.

Kepalanya sedikit menunduk.

Posisi itu—

persis seperti yang ia lihat dalam mimpinya.

Grandmaster Darrien duduk seperti itu.

Tenang.

Tidak bergerak.

Tidak memaksa magicure.

Darrien menarik napas panjang.

Kemudian menutup matanya.

“Coba saja…”

Ia tidak mengucapkan mantra.

Tidak menggunakan sihir.

Hanya—

merasakan.

***

Awalnya—

tidak ada apa-apa.

Hanya suara angin.

Suara dedaunan.

Suara burung.

Darrien tetap diam.

Ia tidak mencoba mencari magicure.

Ia membiarkan magicure datang kepadanya.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian—

sesuatu terasa.

Samar.

Sangat tipis.

Darrien tidak membuka matanya.

Ia mempertahankan konsentrasinya.

Ada magicure di dalam tubuhnya.

Ia bisa merasakannya.

Namun kali ini—

ia tidak memperlakukannya sebagai sumber tenaga.

Ia mencoba merasakan alirannya.

Dari mana ia datang.

Ke mana ia bergerak.

Bagaimana ia berputar di dalam tubuhnya.

Darrien perlahan mengatur napas.

Magicure bergerak mengikuti ritme napasnya.

Masuk.

Keluar.

Masuk.

Keluar.

Kemudian—

ia memperluas indranya.

Sedikit.

Tidak terlalu jauh.

Magicure di udara mulai terasa.

Darrien bisa merasakan pepohonan.

Tanah.

Air yang mengalir jauh di dalam hutan.

Seekor makhluk kecil yang bergerak di balik semak.

Ia membuka matanya.

“…”

Ia terdiam.

Benar-benar bisa.

Tidak sempurna.

Tidak sedalam yang dilakukan Grandmaster Darrien dalam mimpinya.

Namun—

ia bisa merasakan lebih banyak daripada sebelumnya.

Darrien kembali menutup matanya.

Ia mencoba lagi.

Kali ini—

lebih dalam.

Magicure di tubuhnya bergerak perlahan.

Ia tidak memaksanya.

Ia hanya membiarkannya mengalir.

Semakin ia tenang—

semakin jelas dunia terasa.

***

Darrien tiba-tiba menyadari sesuatu.

Ia tidak perlu menggunakan lebih banyak magicure untuk memperluas magic sense-nya.

Justru—

semakin sedikit ia gunakan,

semakin jelas sensasinya.

Darrien tersenyum kecil.

“Jadi…”

Ia mulai memahami apa yang dimaksud Grandmaster Darrien.

Bukan tentang memiliki magicure yang paling besar.

Melainkan—

mampu merasakan setiap bagian kecil yang ada di dalamnya.

Mengendalikan.

Menyelaraskan.

Dan mengetahui kapan harus menggunakan—

dan kapan harus berhenti.

Darrien tetap duduk di cabang pohon.

Untuk pertama kalinya—

ia benar-benar menikmati kesunyian.

Tidak ada Kevin.

Tidak ada latihan.

Tidak ada orang yang menyuruhnya bergerak lebih cepat.

Hanya dirinya—

dan magicure di sekelilingnya.

Namun tanpa disadarinya—

semakin lama ia duduk di sana,

semakin luas magic sense yang mulai terbentuk.

Sedikit demi sedikit.

Tanpa paksaan.

Tanpa chanting.

Dan tanpa perlu mengingat seluruh masa lalunya.

Tubuhnya—

seolah-olah sudah mengetahui jalan itu.

Darrien membuka matanya.

Tatapannya menjadi sedikit lebih tajam.

“Grandmaster…”

Ia bergumam pelan.

“Jadi beginilah caramu melakukannya.”

Kemudian ia kembali bersandar pada batang pohon.

Untuk sekarang—

ia tidak akan memaksa lebih jauh.

Ia hanya akan belajar.

Sedikit demi sedikit.

Sampai suatu hari nanti—

ia bisa merasakan dunia seperti yang pernah dilakukan dirinya di masa lalu.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience