Series
94
BAB 6
SENYUM YANG TIDAK TULUS
Beberapa tahun berlalu di Akasia.
Fiona kini berusia sebelas tahun, sementara Darrien telah menginjak tiga belas tahun. Anak-anak lain yang dahulu tinggal bersama mereka di panti asuhan satu demi satu telah menemukan keluarga baru.
Satu per satu, tempat tidur di kamar mereka menjadi kosong.
Hingga akhirnya, hanya tersisa mereka berdua.
Fiona dan Darrien.
Awalnya mereka tidak terlalu mempermasalahkannya. Mereka sudah terbiasa hanya memiliki satu sama lain. Namun Margaret, pemilik panti asuhan, mulai merasa khawatir.
Ia harus pergi ke luar kota selama beberapa hari untuk mengurus urusan penting. Karena tidak ingin meninggalkan dua anak itu sendirian, Margaret memutuskan untuk mencari seseorang yang dapat membantu menjaga panti selama kepergiannya.
Namanya Maria.
Pada hari pertama, Maria datang dengan senyum ramah.
“Jangan khawatir, Bu Margaret,” katanya lembut. “Saya akan menjaga mereka dengan baik.”
Margaret terlihat lega.
“Fiona dan Darrien memang hanya tinggal berdua sekarang. Tolong perlakukan mereka seperti anak sendiri selama aku pergi.”
“Tentu saja.”
Maria tersenyum.
Fiona membalas senyumnya dengan polos.
Namun Darrien hanya diam.
Entah mengapa, ada sesuatu pada senyum wanita itu yang membuatnya tidak nyaman.
Terlalu sempurna.
Terlalu dipaksakan.
Tetapi Darrien menganggap mungkin itu hanya perasaannya sendiri.
Margaret akhirnya berangkat.
Dan hanya beberapa hari setelah kepergiannya, senyum Maria berubah.
Tidak ada lagi suara lembut.
Tidak ada lagi keramahan.
Ketika Fiona menjatuhkan mangkuk saat membantu membersihkan dapur, Maria langsung memarahinya.
“Bodoh sekali. Hal sederhana saja tidak bisa dilakukan.”
Fiona menundukkan kepala.
“Maaf…”
Darrien yang melihat dari dekat segera berdiri.
“Dia sudah meminta maaf.”
Maria menoleh.
Tatapannya berubah tajam.
Namun hanya sesaat.
Kemudian senyum palsu itu kembali muncul.
“Ah, Darrien. Jangan terlalu serius. Aku hanya sedang mengajarinya.”
Darrien tidak menjawab.
Ia hanya memperhatikan wanita itu.
Senyum yang sama.
Senyum yang ia lihat ketika Maria pertama kali bertemu Margaret.
Sekarang Darrien semakin yakin.
Senyum itu bukan asli.
Hari-hari berikutnya menjadi semakin buruk.
Maria memberi mereka pekerjaan lebih banyak daripada sebelumnya. Ia sering memarahi Fiona karena hal-hal kecil dan sengaja mencari kesalahan Darrien.
Mereka berusaha menghindarinya sebisa mungkin.
Namun suatu malam, ketika Fiona sudah tertidur, Darrien mendengar suara Maria dari ruangan lain.
Ia bangkit perlahan.
Suara itu terdengar seperti sedang berbicara kepada seseorang.
Darrien mendekat tanpa membuat suara.
Di balik pintu yang sedikit terbuka, Maria berdiri sendirian sambil memegang sebuah batu kristal kecil yang memancarkan cahaya.
Suara seseorang terdengar dari dalam kristal itu.
“Jadi?”
Maria menurunkan suaranya.
“Aku menemukan dua anak.”
“Dua?”
“Ya. Seorang anak laki-laki dan seorang gadis.”
Darrien membeku.
Maria melanjutkan.
“Keduanya cukup menarik. Wajah mereka bagus, masih muda, dan tidak memiliki keluarga yang akan mencarinya.”
Suara dari kristal itu tertawa kecil.
“Bagus. Ada pembeli yang mencari anak dengan penampilan seperti itu.”
Darrien mengepalkan tangannya.
“Berapa harganya?”
“Kalau mereka dijual melalui lelang, harganya bisa tinggi.”
Darrien menahan napas.
Ia tidak berani bergerak.
Tidak berani bersuara.
Baru saat itulah ia menyadari bahwa rasa tidak nyaman yang selama ini ia rasakan bukanlah khayalan.
Maria memang menyembunyikan sesuatu.
Dan kali ini, sesuatu itu berkaitan dengan mereka.
Darrien mundur perlahan sebelum kembali ke kamar.
Fiona masih tertidur.
Ia duduk di samping tempat tidurnya dan menatap wajah gadis itu dalam diam.
Untuk pertama kalinya, Darrien merasa benar-benar takut.
Bukan untuk dirinya sendiri.
Tetapi untuk Fiona.
Keesokan paginya, ia mencoba berbicara kepada Margaret melalui batu kristal komunikasi yang ada di panti.
“Mengapa?”
Suara Margaret terdengar dari kristal.
“Ada apa, Darrien?”
Darrien ragu.
Ia ingin menceritakan semuanya.
Namun jika Margaret tidak mempercayainya, Maria mungkin akan mengetahui bahwa ia sudah mendengar percakapan itu.
“Aku… hanya ingin bertanya.”
Margaret menjawab beberapa pertanyaan singkatnya, lalu mengatakan bahwa Maria telah membantunya dengan baik dan ia akan segera kembali setelah urusannya selesai.
Darrien menutup komunikasi.
Harapannya runtuh.
Margaret tidak mempercayainya.
Atau mungkin… ia hanya belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Darrien menoleh ke arah Fiona yang sedang merapikan tempat tidur.
Ia tidak mengatakan apa pun.
Namun di dalam pikirannya, satu keputusan mulai terbentuk.
Mereka harus pergi.
Bukan besok.
Bukan tanpa persiapan.
Tetapi secepat mungkin.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, Akasia yang selama ini mereka anggap sebagai rumah tidak lagi terasa aman.
Dan Darrien tidak akan menunggu sampai seseorang datang mengambil Fiona darinya.
Share this novel