5. Tanda Yang Tak Dapat Dihapus

Romance Series 94

BAB 5
TANDA YANG TAK DAPAT DIHAPUS

Musim terus berganti, dan tahun-tahun berlalu tanpa terasa.

Fiona kini berusia sepuluh tahun, sementara Darrien telah menginjak dua belas tahun. Mereka semakin tumbuh dewasa, tetapi kebiasaan untuk selalu berada di sisi satu sama lain tidak pernah berubah.

Malam itu, Akasia terasa berbeda.

Langit gelap tanpa cahaya bulan. Angin bertiup kencang melewati pepohonan, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke dalam panti.

Sebagian besar anak telah tertidur.

Namun Fiona terbangun.

Ia tidak tahu apa yang membangunkannya. Hanya saja, udara di kamar terasa jauh lebih dingin daripada biasanya.

Ketika ia menoleh, Darrien sedang duduk di tepi tempat tidurnya.

Tubuhnya sedikit membungkuk. Wajahnya pucat, dan keringat dingin membasahi pelipisnya.

“Darrien?”

Fiona segera menghampirinya.

“Kau sakit?”

Darrien mengangkat wajah.

“Aku tidak tahu.”

Suaranya terdengar berat.

Ia menekan dadanya, seolah berusaha menenangkan sesuatu yang tidak terlihat.

“Rasanya aneh.”

“Aneh bagaimana?”

Darrien terdiam.

“Seperti ada sesuatu yang bergerak di dalam tubuhku.”

Ia menarik napas perlahan.

“Kadang terasa dingin… lalu tiba-tiba panas. Aku tidak bisa menghentikannya.”

Fiona menatapnya dengan khawatir.

Lalu, untuk sesaat, ia melihat sesuatu di belakang tubuh Darrien.

Sebuah bayangan gelap.

Tipis seperti kabut, bergerak perlahan di sekelilingnya.

Fiona membeku.

Namun ketika ia berkedip, bayangan itu lenyap.

“Darrien…”

“Apa?”

Fiona ragu.

“Tidak apa-apa.”

Ia tidak ingin membuat Darrien semakin takut.

Fiona kemudian meraih tangannya.

Saat jari mereka bersentuhan, cahaya keemasan yang lembut kembali muncul dari ujung jarinya.

Fiona langsung terkejut.

“Aku tidak melakukannya…”

Namun cahaya itu tetap mengalir.

Perlahan, kehangatan menyelimuti tangan mereka berdua. Hawa dingin yang memenuhi tubuh Darrien mulai menghilang sedikit demi sedikit.

Darrien menarik napas panjang.

Tubuhnya yang tegang perlahan menjadi rileks.

Ia menatap tangan Fiona dengan takjub.

“Cahayamu…”

Fiona ikut melihat ujung jarinya.

“Aku tidak tahu kenapa selalu muncul saat menyentuhmu.”

Darrien terdiam.

“Apakah sakit?”

Fiona menggeleng.

“Tidak.”

“Kalau begitu, jangan takut.”

Darrien menggenggam tangannya.

“Tapi jangan gunakan ini di depan orang lain.”

Fiona menatapnya.

“Kenapa?”

“Kita tidak tahu apa itu.”

Darrien memandang sekeliling kamar yang gelap.

“Dan kita juga tidak tahu bagaimana orang lain akan bereaksi jika mereka melihatnya.”

Fiona terdiam.

Mereka memang tidak memiliki siapa pun untuk ditanyai.

Tidak ada orang tua.

Tidak ada keluarga yang bisa menjelaskan dari mana mereka berasal.

Bagi dunia, mereka hanyalah dua anak yatim dari sebuah panti kecil di Akasia.

“Aku janji tidak akan menggunakannya sembarangan,” kata Fiona akhirnya.

Darrien mengangguk.

“Bagus.”

Mereka duduk bersama dalam keheningan.

Darrien masih bisa merasakan sisa hawa dingin di tubuhnya, tetapi tidak lagi menyakitkan.

Fiona tetap menggenggam tangannya.

“Darrien…”

“Hm?”

“Kalau suatu hari nanti kita tahu apa sebenarnya ini…”

Darrien menatapnya.

“Kita akan mencari tahu bersama.”

Fiona tersenyum kecil.

“Bersama?”

“Selalu.”

Ia menggenggam tangan Fiona lebih erat.

“Apa pun yang terjadi, jangan takut.”

Fiona mengangguk.

“Aku juga tidak akan meninggalkanmu.”

Malam semakin larut.

Akhirnya, mereka kembali berbaring dan mencoba tidur.

Tidak ada jawaban yang mereka dapatkan malam itu.

Tidak ada yang menjelaskan cahaya Fiona.

Tidak ada yang menjelaskan bayangan Darrien.

Mereka hanya tahu bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam diri mereka.

Dan untuk saat ini, itu sudah cukup menjadi rahasia mereka berdua.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience