Series
382
BAB 325 — SIMBOL YANG TAK TERJELASKAN
Malam kembali menyelimuti Lunaris.
Namun Fiona—
masih berada di tepi danau.
Ia duduk di cabang pohon yang sama seperti malam sebelumnya.
Kakinya menggantung santai.
Cahaya bulan kembali menyinari wajahnya.
Namun kali ini—
pikirannya jauh lebih sibuk.
“Bagaimana aku harus menjelaskannya…?”
Fiona menghela napas panjang.
Ia sudah berjanji kepada mereka.
Ia akan menceritakan semuanya.
Namun sekarang setelah memiliki waktu untuk memikirkannya—
ia justru tidak tahu harus mulai dari mana.
Haruskah ia menceritakan tentang kehidupan pertamanya?
Tentang dirinya sebagai Saintess?
Tentang Darrien?
Tentang Forbidden Magic?
Tentang ribuan tahun yang telah berlalu?
Atau—
haruskah ia menceritakan semuanya sekaligus?
Fiona memijat pelipisnya.
“Ah…”
Ia menghela napas.
“Aku memang buruk dalam menjelaskan sesuatu.”
Ia bahkan bisa membayangkan wajah mereka nanti.
Ace pasti akan bertanya seribu pertanyaan.
Rowan mungkin mencoba memahami semuanya dengan tenang.
Kevin akan diam, tapi mengamati setiap detail.
Elarion pasti langsung menganalisis sihirnya.
Elyon—
Fiona bahkan tidak ingin membayangkan berapa banyak pertanyaan yang akan diberikan Grandmaster itu.
Dan Darrien…
Fiona berhenti.
Ekspresinya berubah.
Darrien adalah masalah terbesar.
Bagaimana ia harus menjelaskan kepada orang yang dicintainya bahwa—
mereka pernah hidup bersama jauh sebelum kehidupan mereka sekarang?
Fiona menunduk.
“Darrien…”
Ia menggenggam ujung pakaiannya.
“Aku takut.”
Air matanya kembali muncul.
Namun kali ini ia segera mengusapnya.
“Tidak.”
Ia menggeleng.
“Aku tidak boleh terus melarikan diri.”
Ia menarik napas panjang.
“Aku sudah berjanji.”
***
Sementara itu—
di Istana Lunaris.
Malam telah semakin larut.
Namun sebuah ruangan masih dipenuhi cahaya lampu.
Zeith dan Seraphine duduk di depan meja panjang.
Di hadapan mereka—
Elyon, Elarion, Sylvester, Ace, Rowan, Kevin, dan Darrien.
Pertemuan kembali dilakukan.
Dan kali ini—
topiknya hanya satu.
**Silver Leaf.**
***
Sylvester membuka beberapa catatan tua.
“Ini semua yang berhasil kami temukan.”
Ia meletakkan beberapa lembar dokumen di atas meja.
Elyon membacanya satu per satu.
“Tidak ada nama?”
Sylvester menggeleng.
“Tidak.”
“Tidak ada sejarah?”
“Tidak.”
“Tidak ada simbol yang sama?”
“Tidak ada catatan yang cocok.”
Ace langsung menghela napas.
“Jadi kita kembali ke titik nol.”
Elarion menggeleng.
“Tidak sepenuhnya.”
Ia menunjuk catatan tersebut.
“Setidaknya kita tahu simbol itu bukan simbol kerajaan Lunaris.”
Zeith mengangguk.
“Benar.”
Rowan bertanya,
“Lalu milik siapa?”
Hening.
Tidak ada yang bisa menjawab.
Sylvester membuka dokumen lainnya.
“Ada beberapa simbol kuno yang bentuknya menyerupai daun.”
Ace langsung melihatnya.
“Tapi tidak sama.”
“Benar.”
Sylvester menunjuk satu per satu.
“Yang ini adalah simbol keluarga bangsawan.”
“Yang ini simbol penyembuh.”
“Yang ini simbol ritual kuno.”
Kemudian ia menunjuk gambar terakhir.
“Namun tidak ada satu pun yang menyerupai Silver Leaf milik Fiona.”
Darrien sejak tadi diam.
Ia menatap gambar simbol tersebut.
Pikirannya kembali kepada Fiona.
Dan kepada anting yang sekarang berada di telinganya.
“Kalau tidak ada catatannya…”
Darrien akhirnya berbicara.
“…bagaimana kita tahu siapa yang menggunakan simbol itu?”
Elyon menatapnya.
“Kita tidak tahu.”
Darrien mengerutkan kening.
“Lalu Crystal Hall?”
Elyon menghela napas.
“Lebih sulit.”
Sylvester menjawab,
“Sejarah Crystal Hall sendiri telah hilang.”
Seraphine terdiam.
“Hilangan dengan sengaja?”
Elyon mengangguk.
“Sepertinya.”
Zeith menyilangkan tangannya.
“Jadi sekarang kita memiliki dua misteri.”
Elarion menjawab,
“Crystal Hall.”
Ia kemudian menunjuk simbol Silver Leaf.
“Dan ini.”
Darrien menatap simbol itu sekali lagi.
“Yang keduanya berhubungan dengan Fiona.”
Semua terdiam.
Karena itu adalah satu-satunya fakta yang tidak bisa mereka bantah.
Crystal Hall tidak pernah bereaksi seperti itu sebelumnya.
Namun setelah Fiona datang—
semuanya berubah.
***
Ace tiba-tiba mengangkat tangan.
“Boleh aku bertanya sesuatu?”
Elyon menatapnya.
“Apa?”
“Apakah mungkin simbol itu sebenarnya berasal dari Fiona sendiri?”
Ruangan langsung hening.
Rowan menatap Ace.
“Fiona sendiri?”
Ace mengangguk.
“Ya.”
Elarion mulai berpikir.
“Secara teori…”
Elyon langsung menyambung,
“…mungkin.”
Sylvester juga mengangguk perlahan.
“Namun jika itu benar…”
Ia melihat simbol Silver Leaf.
“…berarti Fiona memiliki hubungan dengan sesuatu yang jauh lebih tua daripada Lunaris.”
Zeith mengerutkan kening.
“Seberapa tua?”
Sylvester menggeleng.
“Itulah yang tidak bisa kami ketahui.”
Darrien tetap diam.
Namun pikirannya kembali kepada satu kalimat Fiona.
*Kalau aku menjadi monster… kau masih akan berada di sisiku?*
Sekarang—
pertanyaan itu terasa jauh lebih berat.
Darrien mengepalkan tangannya perlahan.
“Apa pun rahasianya…”
Semua menoleh kepadanya.
Darrien melanjutkan,
“…Fiona akan menjelaskannya ketika dia siap.”
Seraphine tersenyum kecil.
“Benar.”
Elyon mengangguk.
“Kita tidak boleh memaksanya.”
Namun meskipun mereka sepakat—
rasa penasaran mereka tidak menghilang.
Terutama setelah melihat sendiri apa yang terjadi di Crystal Hall.
***
Jauh dari istana—
Fiona masih duduk di bawah bulan.
Ia memandang langit.
Kemudian berbisik,
“Besok…”
Ia menghela napas.
“Besok aku akan kembali.”
Fiona memejamkan mata.
Ia tahu—
waktunya hampir tiba.
Tidak mungkin ia terus bersembunyi.
Namun sebelum semuanya terbuka—
ia ingin memastikan satu hal.
Bahwa ketika Darrien akhirnya mengetahui siapa dirinya sebenarnya—
ia tidak akan melihat Fiona sebagai monster.
Ia ingin tetap menjadi—
**Fiona.**
Setidaknya sedikit lebih lama.
Share this novel