Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 455 — FIONA YANG BERUBAH
Keheningan di aula Veyth masih terasa berat.
Edward dan Gloria menunggu penjelasan lebih lanjut.
Kevin akhirnya melanjutkan.
"Ketika Fiona melihat Raizen terluka..."
Ia berhenti sejenak.
"Dia langsung berlari kepadanya."
Gloria mengerutkan kening.
"Dia tidak melihat kalian?"
Darrien menjawab pelan.
"Dia melihat kami."
"Tapi..."
Darrien menarik napas.
"Dia tidak mengenali kami."
Gloria terdiam.
Edward menatap Darrien.
"Termasuk kau?"
Darrien mengangguk.
"Termasuk aku."
Tidak ada yang menyela.
Kevin kemudian melanjutkan.
"Fiona menangis ketika melihat Raizen terluka."
"Dan dia marah."
Rowan menambahkan,
"Dia menganggap kami sebagai orang yang menyerang Raizen."
Gloria menutup mulutnya dengan tangan.
"Dia... melindunginya?"
"Ya."
Elyon mengangguk.
"Dia menggunakan Pure Light."
Edward mengangkat alis.
"Pure Light?"
"Ya."
Elyon melanjutkan.
"Dan bukan sekadar untuk menyerang."
Ia mengingat kembali apa yang terjadi.
"Fiona menggunakan sihir itu untuk memindahkan seluruh kelompok kami keluar dari istana."
Ace mengangkat tangan sedikit.
"Dan sangat jauh."
Kevin meliriknya.
Ace mengangguk serius.
"Sangat."
Ia menunjuk dirinya sendiri.
"Saya bahkan tidak tahu di mana kita mendarat."
Rowan menghela napas.
"Karena kau pingsan."
"Aku sedang melakukan meditasi."
"Di tanah."
"...Meditasi yang sangat dalam."
Beberapa orang hampir tersenyum.
Namun suasana kembali serius ketika Elyon berbicara.
"Yang lebih mengkhawatirkan bukan hanya itu."
Edward menatapnya.
"Apa?"
Elyon terdiam beberapa saat.
Kemudian ia berkata,
"Penampilan Fiona."
Gloria langsung menatapnya.
"Apa yang berubah?"
"Matanya."
Darrien menjawab lebih dulu.
"Merah."
Gloria membeku.
"Merah?"
Elyon mengangguk.
"Crimson."
Ia kemudian menambahkan,
"Dan auranya juga berbeda."
Elarion yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
"Benar."
Ia menatap meja di hadapannya.
"Fiona yang kita kenal memiliki aura Pure Light yang sangat jelas."
"Namun ketika kami melihatnya di Shadowcresent..."
Elarion mengangkat pandangan.
"Ada lapisan lain."
Edward mengerutkan kening.
"Lapisan?"
"Seolah energi lain telah menyatu dengan auranya."
Kevin mengangguk.
"Kami semua merasakannya."
Elarion melanjutkan dengan hati-hati.
"Yang membuatku tidak nyaman adalah..."
Ia berhenti.
"Perubahan itu bukan sekadar perubahan kekuatan."
Gloria menatapnya.
"Lalu apa?"
Elarion menatap Elyon.
Keduanya bertukar pandangan.
Elyon akhirnya berkata,
"Fiona tampak berbeda."
"Secara fisik, ya."
"Tapi juga secara emosional."
Gloria perlahan duduk.
"Maksud kalian?"
Elyon menarik napas.
"Fiona tidak hanya melindungi Raizen karena takut."
Ia mengingat ekspresi Fiona.
"Cara dia memandang Raizen..."
Elyon berhenti sejenak.
"Itu bukan sekadar rasa terima kasih."
Darrien menundukkan kepala.
Elyon melanjutkan dengan suara lebih pelan.
"Dia terlihat seperti seseorang yang benar-benar mencintainya."
Ruangan kembali sunyi.
Darrien tidak bergerak.
Namun jemarinya perlahan mengepal.
Elarion menyambung,
"Dan itu yang paling sulit dijelaskan."
Edward menatap keduanya.
"Kenapa?"
"Karena perasaan seperti itu tidak bisa berubah hanya dalam beberapa hari."
Elarion menggeleng.
"Ikatan emosional yang kuat membutuhkan waktu."
Ia memandang Darrien.
"Terutama jika seseorang telah memiliki hubungan selama bertahun-tahun."
Darrien mengangkat wajahnya.
Elarion tidak mengatakan apa-apa lagi.
Tidak perlu.
Semua orang memahami maksudnya.
Elyon kemudian berkata,
"Ada kemungkinan ingatan Fiona telah diubah."
Gloria menatapnya tajam.
"Diubah?"
"Mungkin."
Elyon mengangkat satu tangan.
"Tapi aku belum bisa memastikan."
Ia tidak ingin membuat kesimpulan tanpa bukti.
"Kami tidak tahu apakah ini manipulasi memori, pengaruh sihir vampir, atau sesuatu yang lebih kompleks."
Elarion mengangguk.
"Dan kita juga tidak tahu kapan perubahan itu terjadi."
Kevin menyela,
"Kami tahu satu hal."
Semua menoleh.
Kevin berkata,
"Ketika kami bertemu Fiona sebelumnya, dia belum seperti itu."
Darrien mengangguk pelan.
"Benar."
Ia masih mengingat Fiona sebelum semuanya berubah.
Fiona yang mengenalnya.
Fiona yang mencarinya.
Fiona yang—
memanggil namanya.
Sekarang semuanya terasa begitu jauh.
Elyon menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Kalau benar memorinya telah diubah..."
Ia menatap Darrien.
"Maka kita tidak bisa hanya berpikir tentang bagaimana membawa Fiona keluar dari Shadowcresent."
Darrien menatapnya.
Elyon melanjutkan,
"Kita harus mencari tahu..."
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Fiona."
Elarion mengangguk.
"Dan apakah perubahan itu bisa dibalik."
Darrien diam.
Kemudian perlahan ia berkata,
"Kalau bisa..."
Tatapannya menjadi tegas.
"Kita akan mengembalikannya."
Tidak ada emosi berlebihan dalam suaranya.
Hanya keyakinan.
Edward memperhatikan putranya—dan untuk pertama kalinya sejak mereka kembali, ia melihat sesuatu selain rasa sakit di mata Darrien.
Tekad.
Namun di sisi lain...
Elyon dan Elarion masih memikirkan satu hal.
Perubahan mata Fiona.
Aura Fiona.
Dan terutama—
cara Fiona memandang Raizen.
Ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu.
Dan mereka belum memahami apa.
