22. Ujian Kecil Di Hutan

Romance Series 94

BAB 22
UJIAN KECIL DI HUTAN

Pagi itu, Elarion membangunkan Darrien dan Fiona lebih awal dari biasanya.

“Bangun.”

Fiona membuka mata dengan malas.

“Masih pagi…”

“Justru karena masih pagi.”

Darrien sudah duduk ketika Elarion masuk.

“Apa yang kita lakukan hari ini?”

“Kita pergi ke hutan.”

Fiona segera bangun.

“Mencari tanaman?”

“Benar.”

Elarion memberikan sebuah tas kecil kepada masing-masing.

“Bawa hanya yang diperlukan.”

Mereka berjalan cukup jauh dari rumah.

Hutan pagi terasa berbeda.

Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan. Tetes embun menempel di daun, sementara suara burung terdengar dari kejauhan.

Elarion berhenti di dekat beberapa tanaman.

“Ini daun penyembuh.”

Ia menunjuk daun hijau dengan garis keperakan.

“Ambil secukupnya.”

Fiona berjongkok.

Ia memeriksa tanaman itu dengan hati-hati.

“Yang ini?”

“Benar.”

Darrien menemukan tanaman lain.

“Kalau yang ini?”

Elarion menggeleng.

“Beracun.”

Darrien langsung menarik tangannya.

Fiona tertawa kecil.

“Untung kau bertanya.”

“Aku memang selalu bertanya.”

“Tidak selalu.”

Darrien menatapnya.

Fiona tersenyum.

Mereka terus mengumpulkan tanaman.

Namun beberapa saat kemudian, Elarion berhenti.

“Jangan bergerak.”

Darrien dan Fiona langsung diam.

Elarion menunjuk semak di depan.

“Ada sesuatu di sana.”

Darrien memejamkan mata.

Ia mencoba menggunakan apa yang telah diajarkan.

Ada sesuatu.

Sangat ringan.

Bergerak perlahan.

“Makhluk hidup,” katanya.

“Benar.”

Fiona ikut berkonsentrasi.

“Aku merasakan sesuatu yang kecil.”

Semak itu bergerak.

Seekor makhluk kecil keluar.

Tubuhnya sebesar kucing, dengan bulu putih dan dua tanduk kecil di kepalanya.

Fiona langsung tersenyum.

“Lucu!”

Makhluk itu menatap mereka.

Kemudian mendesis.

Fiona mundur.

“Tidak terlalu lucu.”

Elarion tertawa.

“Namanya rusa tanduk bulan.”

“Apakah berbahaya?”

“Tidak, kecuali kalian membuatnya takut.”

Makhluk itu tiba-tiba berlari ke arah tas Fiona.

“Eh!”

Fiona mencoba mundur.

Darrien langsung berdiri di depannya.

“Jangan serang.”

Elarion tidak bergerak.

Ia hanya mengamati.

Darrien memperhatikan gerakan makhluk itu.

Tidak ada hawa membunuh.

Tidak ada niat menyerang.

Hanya tertarik pada sesuatu.

“Dia menginginkan sesuatu.”

Fiona membuka tasnya.

Makhluk itu langsung mengendus.

“Tanaman?”

Darrien mengangguk.

Fiona mengambil sedikit daun yang tadi mereka kumpulkan.

Makhluk itu mendekat.

Ia mengambil daun tersebut dan segera berlari menjauh.

Fiona tertawa.

“Dia mencuri!”

Elarion tersenyum.

“Dan kau membiarkannya.”

“Karena dia lapar.”

Elarion mengangguk.

“Bagus.”

Darrien menatapnya.

“Ini ujian?”

“Sedikit.”

“Jadi kau sengaja membiarkan kami menghadapi makhluk itu?”

“Ya.”

Darrien menghela napas.

Fiona tersenyum.

“Tapi kami berhasil.”

Elarion mengangguk.

“Kalian tidak langsung menyerang sesuatu hanya karena kalian tidak mengenalnya.”

Ia menatap keduanya.

“Itu jauh lebih penting daripada memenangkan pertarungan.”

Mereka melanjutkan perjalanan.

Namun kali ini, Darrien memperhatikan hutan dengan cara berbeda.

Ia tidak hanya melihat pohon dan jalan.

Ia mulai merasakan kehidupan di sekeliling mereka.

Fiona juga.

Dan tanpa mereka sadari, pelajaran kecil hari itu membuat mereka sedikit lebih siap menghadapi dunia yang jauh lebih besar daripada Akasia.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience