48. Wajah Yang Terlalu Mìrip

Romance Series 94

BAB 48
WAJAH YANG TERLALU MIRIP

Beberapa hari setelah latihan bersama Kevin, Elarion membawa Darrien dan Fiona ke sebuah kota kecil untuk membeli beberapa bahan ramuan.

Kota itu jauh lebih ramai daripada Lyrandel.

Para pedagang memenuhi jalan utama.

Kereta bangsawan sesekali melewati jalan dengan pengawalan.

Fiona berjalan di samping Elarion sambil membawa keranjang.

Darrien berjalan di sisi lainnya.

“Jangan terlalu jauh,” kata Elarion.

Fiona mengangguk.

“Aku tahu.”

Mereka berhenti di sebuah toko ramuan.

Elarion masuk untuk membeli beberapa bahan.

Darrien dan Fiona menunggu di luar.

Fiona memperhatikan sebuah kios yang menjual kue.

“Darrien.”

“Hm?”

“Aku ingin itu.”

Darrien mengikuti arah jarinya.

“Kue?”

Fiona mengangguk.

Darrien menghela napas.

“Kita baru makan.”

“Tapi aku ingin mencoba.”

Darrien akhirnya menyerah.

“Baik.”

Mereka berjalan menuju kios.

Tanpa mereka sadari, di seberang jalan sebuah kereta bangsawan berhenti.

Lambangnya menunjukkan bahwa keluarga tersebut berasal dari wilayah lain.

Seorang pria berpakaian rapi turun dari kereta.

Ia adalah seorang pelayan senior.

Namanya Marcus.

Ia datang ke kota itu bersama beberapa orang kepercayaannya.

Tugasnya bukan berdagang.

Ia sedang mencari seseorang.

Seorang gadis.

Putri muda dari keluarga bangsawan mereka telah dijodohkan dengan putra keluarga Beast yang sangat berpengaruh.

Namun ada masalah.

Gadis tersebut menolak pernikahan itu.

Lebih buruk lagi, keadaan kesehatannya membuat keluarga khawatir bahwa ia tidak akan mampu menghadiri seluruh rangkaian acara pernikahan.

Kerja sama bisnis antara kedua keluarga terlalu penting untuk dibatalkan.

Karena itu, mereka mencari seseorang yang memiliki kemiripan fisik dengannya.

Bukan untuk menggantikannya selamanya.

Hanya sebagai pengganti sementara dalam beberapa acara resmi.

Marcus sudah melihat banyak gadis.

Tidak ada yang cukup mirip.

Sampai ia melihat seseorang di seberang jalan.

Seorang gadis kecil dengan rambut panjang.

Wajah lembut.

Postur tubuh yang masih muda.

Ia sedang berdiri sambil memegang kue.

Marcus berhenti.

Matanya menyipit.

“…”

Salah satu pelayan di belakangnya bertanya,

“Ada apa, Tuan Marcus?”

Marcus tidak menjawab.

Ia terus memperhatikan Fiona.

Dari sudut tertentu—

kemiripannya sangat mengejutkan.

Bentuk wajah.

Rambut.

Bahu.

Bahkan cara gadis itu berdiri.

Marcus segera mengambil sebuah lukisan kecil dari dalam pakaiannya.

Potret putri bangsawan mereka.

Ia membandingkannya.

Kemudian kembali melihat Fiona.

Wajahnya berubah serius.

“Tidak mungkin…”

Pelayan lain mendekat.

“Apa?”

Marcus menunjukkan potret itu.

“Lihat.”

Pelayan tersebut melihat Fiona.

Kemudian melihat potret.

Ia terdiam.

“Memang…”

“Mirip sekali.”

Marcus segera memasukkan kembali potret itu.

“Jangan menatap terlalu lama.”

“Kenapa?”

“Kita tidak tahu siapa dia.”

Marcus memperhatikan sekeliling.

Gadis itu jelas tidak datang sendirian.

Ada seorang pria Elf di dekatnya.

Dan seorang anak laki-laki yang terus memperhatikan sekitar.

Marcus mengingat wajah mereka.

“Jangan dekati mereka.”

“Lalu?”

“Kita hanya mengawasi.”

***

Fiona akhirnya mendapatkan kuenya.

Ia tersenyum puas.

“Enak.”

Darrien menatapnya.

“Kau seperti anak kecil.”

Fiona langsung memelototinya.

“Aku memang masih anak-anak.”

Darrien terdiam.

“Benar juga.”

Fiona tertawa.

Namun dari kejauhan, Marcus masih memperhatikan.

Tidak ada keraguan lagi.

Gadis itu memiliki kemiripan luar biasa dengan putri bangsawan mereka.

Bukan hanya wajah.

Bentuk tubuhnya ketika dewasa nanti mungkin akan semakin menyerupai sang putri.

Namun ada sesuatu yang membuat Marcus tidak langsung mengambil keputusan.

Gadis itu terlihat terlalu bebas.

Terlalu sederhana.

Tidak mungkin seorang bangsawan hidup seperti itu tanpa pengawalan.

Dan orang yang bersamanya…

jelas bukan pengasuh biasa.

Marcus memilih mundur.

“Siapkan surat.”

“Untuk keluarga?”

“Ya.”

Ia menatap Fiona sekali lagi.

“Beritahu mereka bahwa kita menemukan seorang gadis yang memiliki kemiripan luar biasa dengan Nona Muda.”

“Apakah kita membawanya?”

Marcus langsung menggeleng.

“Tidak.”

“Belum.”

Ia menyimpan potret itu.

“Kita harus mencari tahu siapa dia terlebih dahulu.”

***

Beberapa saat kemudian, Elarion keluar dari toko.

“Ayo.”

Fiona memasukkan sisa kuenya ke dalam keranjang.

Darrien membantu membawa barang.

Mereka bertiga meninggalkan tempat itu tanpa mengetahui bahwa seseorang baru saja memperhatikan Fiona dengan sangat serius.

Di belakang mereka, Marcus masih berdiri.

Ia memandang punggung Fiona yang semakin jauh.

“Siapa kau sebenarnya, gadis kecil?”

Tidak ada jawaban.

Hanya suara kereta yang perlahan meninggalkan kota.

Dan untuk pertama kalinya…

sebuah keluarga bangsawan yang bahkan tidak mengenal nama Fiona mulai menyimpan keberadaannya dalam catatan mereka.

Bukan sebagai target.

Belum.

Hanya sebagai kemungkinan.

Sebuah kemungkinan yang terlalu mirip untuk diabaikan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience