Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 203
TEH DI TENGAH LATIHAN
Latihan belum berakhir.
Di dalam barrier—
Darrien masih berhadapan dengan Kevin.
Napasnya sudah lebih berat dibandingkan sebelumnya.
Namun matanya masih fokus.
Kevin berdiri beberapa langkah di depannya.
“Sekali lagi.”
Darrien menghela napas.
“Kau tidak bosan mengatakan itu?”
“Tidak.”
Kevin menjawab santai.
Darrien mendengus.
Kemudian Dark Magic kembali mengalir di sekitar tubuhnya.
Ia bergerak.
Kali ini lebih cepat.
Kevin menghindar.
Darrien mengubah arah.
Kevin kembali menghindar.
Namun kali ini—
Darrien tidak mengejar.
Ia berhenti.
Menunggu.
Kevin mengangkat alis.
“Bagus.”
Darrien tersenyum kecil.
“Mulai belajar?”
“Sedikit.”
Kemudian mereka kembali bertarung.
***
Di luar barrier—
suasananya jauh lebih damai.
Fiona, Elarion, Rowan, dan Ace duduk mengelilingi sebuah meja kecil.
Di atas meja—
teh hangat dan beberapa makanan ringan sudah tersedia.
Fiona menuangkan teh ke cangkirnya.
“Ini jauh lebih nyaman.”
Elarion tertawa kecil.
“Dibandingkan apa?”
Fiona melirik ke arah barrier.
“Dibandingkan berada di dalam sana.”
Rowan langsung tertawa.
Ace mengangguk.
“Pilihan yang bijak.”
Fiona menyeruput tehnya.
Kemudian melihat Darrien yang sedang berlatih.
“Dia masih belum berhenti.”
Elarion melihat ke arah yang sama.
“Kevin juga belum.”
Fiona menghela napas.
“Kasihan.”
Rowan mengambil makanan ringan.
“Jangan khawatir.”
Fiona menatapnya.
“Kenapa?”
“Darrien sudah terbiasa.”
Ace mengangguk.
“Kevin memang seperti itu.”
Fiona mengerutkan kening.
“Jadi kalian santai saja?”
Rowan tersenyum.
“Kami sudah pernah melihatnya.”
Ace mengambil cangkir tehnya.
“Dan kami tahu kalau Kevin sudah mulai serius, lebih baik jangan mengganggu.”
Fiona langsung melirik ke arah Kevin.
Kemudian kembali minum tehnya.
“Baiklah.”
Elarion tertawa.
“Setidaknya kau bisa belajar dari sini.”
Fiona mengangguk.
“Aku memang sedang memperhatikan.”
Ia kembali melihat gerakan Darrien.
Kemudian memperhatikan cara Kevin berpindah posisi.
“Kalau aku ingin menggunakan Light Magic untuk meningkatkan gerakan…”
Fiona mulai berpikir.
“…aku mungkin bisa menggunakannya dengan cara yang sama.”
Elarion mengangguk.
“Cobalah nanti.”
Fiona tersenyum.
“Aku akan.”
***
Rowan tiba-tiba menatap Fiona.
“Ngomong-ngomong…”
Fiona menoleh.
“Apa?”
“Gelangmu.”
Fiona refleks melihat pergelangan tangannya.
“Kenapa?”
“Masih ada.”
Fiona tertawa kecil.
“Ya.”
Ace ikut melihat.
“Masih tidak tahu bagaimana gelang itu bisa keluar dari mimpimu?”
Fiona menggeleng.
“Belum.”
Elarion menatap gelang tersebut sebentar.
“Jangan terlalu dipikirkan.”
Fiona mengangguk.
“Aku juga tidak terlalu memikirkannya.”
Ia kemudian menyeruput tehnya lagi.
Namun matanya kembali tertuju pada arena.
Di dalam sana—
Darrien baru saja terdorong beberapa langkah setelah serangan Kevin.
Fiona hampir tersedak tehnya.
“Darrien!”
Rowan tertawa.
“Dia baik-baik saja.”
Ace menambahkan,
“Dia masih berdiri.”
Elarion menghela napas.
“Kalimat yang mengerikan.”
Fiona meletakkan cangkirnya.
“Setelah ini aku akan memberinya sesuatu untuk diminum.”
Rowan mengangguk.
“Itu mungkin lebih berguna daripada doa.”
Fiona menatapnya.
“Aku tadi sudah berdoa.”
Ace tertawa.
“Dan sekarang teh.”
Fiona mengangguk serius.
“Benar.”
***
Di dalam barrier—
Darrien kembali berdiri tegak.
Ia mengusap sudut bibirnya.
Kevin memperhatikannya.
“Masih bisa?”
Darrien menatapnya.
“Bisa.”
Kevin mengangguk.
“Bagus.”
Darrien langsung mendesah.
“Jangan bilang—”
“Sekali lagi.”
Darrien menutup matanya.
“…Aku tahu.”
Kevin tersenyum.
Latihan terus berlanjut.
Sementara di luar—
empat orang menikmati teh mereka dengan tenang.
Seolah-olah tidak ada seorang pangeran yang sedang dipaksa melewati latihan paling melelahkan dalam hidupnya hanya beberapa meter dari mereka.
