Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 220
Setelah makan malam selesai—
Darrien, Fiona, dan Elarion berjalan menuju Royal Garden.
Malam terasa jauh lebih tenang setelah tiga hari penuh latihan.
Cahaya bulan menyinari jalan setapak di antara pepohonan dan bunga-bunga yang bermekaran.
Tidak ada suara benturan sihir.
Tidak ada barrier.
Dan yang paling penting—
tidak ada Kevin.
Darrien menarik napas panjang.
“Tenang sekali.”
Fiona tertawa kecil.
“Memangnya kau tidak suka?”
“Aku sangat suka.”
Jawabannya terlalu cepat hingga Fiona kembali tertawa.
Mereka berjalan perlahan menikmati udara malam.
Setelah beberapa saat, Elarion akhirnya membuka percakapan.
“Darrien.”
“Hm?”
“Setelah tiga hari memperhatikan latihanmu…”
Elarion menatapnya.
“Ada beberapa hal yang harus kau perbaiki.”
Darrien langsung menjadi serius.
“Contohnya?”
“Jangan terlalu mengandalkan kekuatan Dark Magic ketika menghadapi Kevin.”
Darrien mengangguk.
“Karena dia sudah mengenal cara bertarungku?”
“Benar.”
“Dia sudah melatihmu selama bertahun-tahun.”
Elarion melanjutkan,
“Jadi jangan memberinya pola yang mudah ditebak.”
Darrien berpikir.
“Lalu?”
“Ubah ritmemu.”
“Jangan selalu menggunakan kecepatan yang sama.”
“Kadang perlambat gerakanmu. Buat lawan mengira kau akan menyerang dari satu arah, kemudian ubah arah sebelum dia membaca gerakanmu.”
Darrien mengangguk perlahan.
“Jadi aku harus membuatnya membaca gerakan yang salah.”
“Ya.”
Elarion tersenyum.
“Dan satu hal lagi.”
“Apa?”
“Jangan mencoba mengalahkan Kevin hanya dengan kekuatan.”
Darrien terdiam.
“Gunakan pengalamanmu.”
Darrien menghela napas.
“Itu sulit.”
“Tentu.”
Elarion tertawa kecil.
“Karena lawanmu bukan orang biasa.”
Fiona yang berjalan di samping Darrien ikut tersenyum.
“Setidaknya kau sudah berkembang.”
Darrien menoleh.
“Benarkah?”
“Ya.”
Fiona mengangguk.
“Sekarang kau mulai berpikir sebelum menyerang.”
Darrien tersenyum kecil.
“Itu karena Kevin.”
Kemudian ekspresinya berubah pasrah.
“Walaupun…”
Fiona menoleh.
“Apa?”
Darrien menatap langit malam.
“Dia masih monster.”
Fiona langsung tertawa.
Elarion juga tersenyum.
“Aku serius.”
Darrien menghela napas.
“Aku hampir kehabisan napas setiap hari.”
Fiona tertawa semakin keras.
“Setidaknya kau masih bisa berdiri.”
“Nyaris tidak.”
Darrien mengusap wajahnya.
“Tapi ada sesuatu yang lebih menggangguku.”
Fiona berhenti tertawa.
“Apa?”
Darrien teringat pertarungan terakhir.
Ia sudah mengerahkan hampir seluruh kekuatannya.
Namun Kevin—
masih berdiri dengan tenang.
Napasnya bahkan tidak terlihat berat.
“Aku benar-benar sudah menggunakan hampir seluruh kemampuanku.”
Darrien menggeleng.
“Tapi Kevin masih terlihat seperti belum melakukan apa-apa.”
Fiona terdiam.
Elarion juga memperhatikannya.
Darrien kemudian berkata,
“Dia bilang…”
Ia berhenti sebentar.
“Dia belum benar-benar mulai.”
Fiona membulatkan mata.
“Jadi selama tiga hari ini…”
“Ya.”
Darrien menghela napas.
“Dia belum serius.”
Fiona langsung tertawa lagi.
“Kasihan sekali.”
Darrien menatapnya.
“Kenapa kau malah tertawa?”
“Aku tidak tahu.”
Fiona masih tersenyum.
“Mungkin karena wajahmu.”
Darrien menghela napas panjang.
Namun jauh di dalam dirinya—
ia justru merasa kagum.
Kevin memang monster.
Tetapi monster yang mengajarinya sesuatu yang selama ini belum benar-benar ia kuasai.
Kontrol.
Kesabaran.
Kesadaran terhadap lingkungan.
Dan kemampuan untuk tetap berpikir ketika emosinya mulai mengambil alih.
Darrien mengepalkan tangannya.
“Aku harus menjadi lebih kuat.”
Fiona tersenyum.
“Kita akan menjadi lebih kuat.”
Darrien menoleh kepadanya.
“Bersama.”
“Bersama.”
Elarion tersenyum kecil melihat keduanya.
Malam semakin larut.
Akhirnya mereka berpisah menuju kamar masing-masing.
Setelah tiga hari latihan yang melelahkan—
semua orang membutuhkan istirahat.
***
Darrien masuk ke kamarnya.
Begitu pintu tertutup—
ia langsung berjalan menuju tempat tidur.
Tubuhnya terasa berat.
Ia menjatuhkan diri ke atas kasur dan menatap langit-langit.
Beberapa detik kemudian—
ia menghela napas panjang.
“Dia masih aja monster…”
Senyum kecil muncul di wajahnya.
Namun senyum itu segera berubah menjadi ekspresi pasrah ketika ia teringat perkataan Kevin.
**Dia belum benar-benar mulai.**
Darrien menutup wajahnya dengan satu tangan.
“Besok pasti lebih buruk.”
Di kamar lain—
Fiona juga akhirnya beristirahat setelah hari panjang tersebut.
Dan Elarion kembali ke kamarnya dengan pikirannya masih tertuju pada perkembangan Darrien.
Malam itu—
seluruh istana akhirnya menjadi tenang.
Tidak ada pertempuran.
Tidak ada latihan.
Tidak ada magical dummy.
Hanya istirahat.
Namun satu hal sudah pasti—
besok Kevin akan kembali ke arena.
Dan Darrien akan kembali menghadapinya.
Karena latihan itu—
baru saja memasuki tahap berikutnya.
