488. Istirahat Yang Terlalu Tenang

Romance Completed 594

BAB 488 — ISTIRAHAT YANG TERLALU TENANG

Malam akhirnya turun sepenuhnya di atas pegunungan Shadowcresent.

Langit yang sebelumnya dipenuhi cahaya matahari kini berubah menjadi biru gelap.

Bintang-bintang mulai bermunculan satu demi satu.

Angin malam bergerak perlahan di antara pepohonan.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka memasuki gunung—

tidak ada yang menyerang.

Tidak ada suara geraman.

Tidak ada lingkaran sihir yang tiba-tiba muncul.

Tidak ada lantai yang berubah menjadi lubang.

Tidak ada batu raksasa yang mengejar mereka.

Hanya...

keheningan.

Keheningan yang terasa hampir terlalu indah setelah seharian penuh kekacauan.

Di sebuah clearing kecil yang dikelilingi pepohonan tua—

enam anggota Veyth akhirnya berhasil keluar dari dimensi makhluk bayangan.

Namun mereka tidak langsung berdiri.

Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki tenaga untuk melakukan itu.

Ace terbaring telentang di atas rumput.

Kedua tangannya terbuka lebar.

Dadanya naik turun dengan cepat.

Rambutnya berantakan.

Jubahnya penuh debu.

Dan salah satu bagian lengan bajunya bahkan robek akibat cakar makhluk bayangan.

Ia menatap langit selama beberapa detik.

Tidak berkata apa-apa.

Kemudian—

"Aku hidup."

Suaranya serak.

Tidak ada jawaban.

Ace mengangkat satu tangan.

"Aku benar-benar hidup."

Masih tidak ada jawaban.

Ia menoleh perlahan.

Rowan sedang duduk bersandar pada sebuah batu besar.

Elarion duduk beberapa meter darinya sambil memejamkan mata.

Elyon berada di tanah dengan satu lutut terangkat, mengatur napas.

Kevin duduk sambil menyandarkan punggungnya pada batang pohon.

Dan Darrien—

berbaring di tanah dengan satu tangan berada di belakang kepala.

Semuanya terlihat kelelahan.

Ace tersenyum.

"Bagus."

Ia kembali melihat langit.

"Berarti aku tidak sendirian."

Rowan membuka mata.

"Sayangnya."

Ace menoleh.

"...Apa maksudmu?"

"Kita semua masih hidup."

Ace mengangkat alis.

"Itu seharusnya kabar baik."

"Memang."

Rowan kembali memejamkan mata.

"Hanya saja sekarang kita masih harus keluar dari gunung."

Ace terdiam.

Wajahnya perlahan menjadi serius.

"...Oh."

Beberapa detik kemudian—

"Aku tarik kembali."

Rowan membuka satu mata.

"Apa?"

"Aku tidak ingin mengingat bagian itu dulu."

Rowan tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk ke dimensi itu—

suara tawa terdengar di antara mereka.

Tidak besar.

Tidak keras.

Namun cukup untuk membuat suasana terasa sedikit lebih ringan.

Elarion membuka matanya.

Ia melihat teman-temannya satu per satu.

"Berapa lama kita bertarung?"

Kevin menjawab dari tempatnya.

"Aku kehilangan hitungan."

Elyon mengangkat tangan.

"Lebih dari setengah hari."

Ace langsung duduk.

"Setengah hari?!"

Kevin mengangguk.

"Kurang lebih."

Ace menatap kedua tangannya.

Kemudian menatap langit.

"Matahari benar-benar sudah terbenam?"

Rowan mengangguk.

Ace terdiam.

Ia kembali menjatuhkan tubuhnya ke rumput.

"Ya ampun..."

Ia mengusap wajah.

"Kita benar-benar menghabiskan satu hari penuh di dalam sana."

Darrien yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.

"Rasanya lebih lama."

Suaranya rendah.

Masih terdengar tenang.

Namun napasnya belum sepenuhnya stabil.

Ia menggerakkan jarinya perlahan.

Magicure yang selama berjam-jam dipaksa mengalir dengan intens mulai kembali tenang.

Darrien membiarkannya.

Ia tidak mencoba meningkatkan kekuatannya.

Tidak mencoba menguji tubuhnya.

Tidak mencoba memikirkan strategi.

Untuk beberapa saat—

ia hanya berbaring.

Merasakan tanah di bawah tubuhnya.

Mendengar angin.

Mendengar suara dedaunan.

Merasakan tubuhnya yang akhirnya mendapatkan kesempatan untuk beristirahat.

Kemudian ia membuka mata.

Langit malam terbentang luas di atasnya.

Bintang-bintang terlihat sangat jelas.

Darrien terdiam.

Sudah lama ia tidak benar-benar memperhatikan langit.

Selama beberapa minggu terakhir—

latihan.

Penelitian.

Perjalanan.

Persiapan.

Kemudian perang.

Semuanya hanya memiliki satu tujuan.

Fiona.

Tatapannya menjadi sedikit lebih lembut.

"...Fiona."

Nama itu keluar begitu saja.

Elyon yang mendengarnya tidak menoleh.

Begitu juga Elarion.

Mereka tahu.

Tidak ada yang perlu dikatakan.

Darrien menarik napas panjang.

"Aku harap kau baik-baik saja."

Ia berbicara kepada langit.

Tidak ada jawaban.

Hanya angin.

Namun entah mengapa—

itu sudah cukup untuk membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Ia tersenyum tipis.

"Aku masih datang."

***

Kevin akhirnya berdiri.

Ia meregangkan bahunya.

Beberapa persendian berbunyi.

"Sepertinya magicure kita mulai stabil."

Elarion mengangguk.

"Ya."

Ia melihat kedua tangannya.

"Dimensi tadi benar-benar menguras banyak energi."

Elyon tertawa kecil.

"Dan membuat kita berlari lebih banyak daripada yang seharusnya."

Ace langsung menunjuknya.

"Jangan mengingatkanku."

Elyon menatapnya.

"Kau memang paling banyak berlari."

"Karena aku dikejar!"

"Dan kau berteriak paling keras."

"Itu refleks!"

Rowan tersenyum.

"Refleksmu sangat berisik."

Ace menghela napas panjang.

"Kalian semua jahat."

Kevin tertawa.

Namun setelah itu—

keheningan kembali.

Tidak terasa canggung.

Mereka semua hanya menikmati beberapa menit tanpa harus bertarung.

Elarion bahkan mengambil botol air dari tasnya.

Ia minum perlahan.

Kemudian menyerahkannya kepada Elyon.

Elyon menerimanya.

"Terima kasih."

Ia minum beberapa teguk sebelum memberikannya kepada Rowan.

Rowan menerimanya.

Kemudian Kevin.

Kemudian Ace.

Ace menatap botol itu.

"Kita benar-benar seperti kelompok pengungsi."

Elarion mengangkat alis.

"Setelah seharian bertarung di dimensi monster, menurutmu kita terlihat seperti apa?"

Ace berpikir.

"...Pahlawan?"

Elyon tertawa.

"Lebih mirip korban."

Ace mengangguk.

"Baik."

Ia kembali berbaring.

"Aku menerima itu."

Darrien tertawa kecil.

Suara tawanya hanya sebentar.

Namun semua orang mendengarnya.

Dan tidak ada yang mengomentarinya.

Mereka hanya membiarkan suasana itu tetap ada.

Untuk beberapa menit—

mereka bukan pasukan kerajaan.

Bukan penyelamat Fiona.

Bukan orang-orang yang sedang menghadapi salah satu kerajaan tertua di dunia.

Mereka hanya enam orang yang kelelahan...

yang sedang beristirahat setelah hampir mati berkali-kali.

***

Beberapa waktu kemudian—

Darrien akhirnya duduk.

Ia melihat sekeliling.

Hutan masih tenang.

Terlalu tenang.

Namun tidak ada tanda-tanda serangan.

Kevin memperhatikan ekspresinya.

"Ada apa?"

Darrien menggeleng.

"Belum ada apa-apa."

Elyon ikut melihat sekeliling.

"Menurutmu kita aman?"

Darrien tidak langsung menjawab.

Ia menatap pepohonan.

Kemudian tanah.

Kemudian pegunungan.

"Aku tidak tahu."

Ace langsung menghela napas.

"Kenapa kau harus jujur?"

Darrien menoleh.

"Karena kita berada di Shadowcresent."

Ace terdiam.

"...Benar juga."

Elarion berdiri perlahan.

"Kita tetap harus berhati-hati."

"Namun jangan memaksakan tubuh."

Ia melihat kondisi semuanya.

"Kita sudah bertarung seharian."

Elarion kemudian duduk kembali.

"Kita beristirahat beberapa menit lagi."

Darrien mengangguk.

Tidak ada yang membantah.

Bahkan Ace.

Itu mungkin bagian paling mengejutkan.

***

Tidak ada seorang pun yang memperhatikan—

sebuah simbol kecil di bawah tanah clearing perlahan menyala.

Cahayanya begitu samar.

Hampir tidak terlihat.

Kemudian padam.

Beberapa meter lebih jauh—

simbol lain menyala.

Lalu padam.

Jaringan kuno Shadowcresent bergerak tanpa suara.

Mereka tidak menyerang.

Belum.

Mereka hanya menunggu.

***

SHADOWCRESENT
RUANG PENGAWASAN PERTAHANAN

Mufasa berdiri di depan kristal pengawasan.

Pantulan enam orang Veyth terlihat di permukaannya.

Mereka sedang beristirahat.

Mufasa mengamati mereka dalam diam.

Di belakangnya, beberapa penyihir vampir masih sibuk mengatur lingkaran sihir.

Beberapa rune di dinding menyala.

Beberapa lainnya padam.

Energi terus bergerak melalui jaringan gunung.

Seorang magic-vampire mendekati Mufasa.

"Mereka berhenti."

Mufasa mengangguk.

"Aku melihatnya."

"Mereka terlihat sangat lelah."

"Biarkan."

Penyihir itu terdiam.

"Biarkan?"

Mufasa tersenyum tipis.

"Biarkan mereka menikmati waktu istirahat mereka."

Ia mengalihkan pandangan ke salah satu kristal kecil.

"Setelah seharian bertarung, tubuh mereka membutuhkan waktu untuk pulih."

"Dan kita?"

Mufasa menoleh.

"Kita juga perlu bersabar."

Penyihir itu tersenyum.

"Apakah kita akan menyerang sekarang?"

Mufasa menggeleng.

"Tidak."

Ia menunjuk peta energi di hadapannya.

"Jangan gunakan kekuatan berlebihan."

"Jangan buat mereka curiga."

"Biarkan mereka merasa bahwa clearing itu aman."

Penyihir tersebut memahami.

"Karena itu bukan tempat aman."

Mufasa tersenyum.

"Benar."

Ia menggeser salah satu simbol pada peta.

"Alihkan jalur timur."

"Matikan dua jalur yang mengarah keluar."

"Biarkan satu jalur tetap terbuka."

Penyihir itu terdiam.

"Jalur umpan?"

Mufasa mengangguk.

"Mereka akan memilihnya."

"Karena setelah bertarung seharian..."

Ia menatap keenam orang di dalam kristal.

"...mereka pasti akan memilih jalan yang terlihat paling mudah."

Senyum kecil muncul di wajahnya.

"Dan kita akan membuat mereka percaya bahwa itu adalah jalan keluar."

Para penyihir mulai bekerja.

Rune-rune kuno menyala.

Energi mengalir melalui lantai.

Jauh di dalam gunung—

jalur berubah.

Sebuah lorong terbuka.

Sebuah jalur lain tertutup.

Dan clearing tempat Veyth beristirahat perlahan menjadi bagian dari pola baru.

Mufasa kembali melihat kristal.

Darrien sedang duduk sambil menatap langit.

Untuk sesaat, Mufasa memperhatikan wajah pria itu.

Ada kelelahan.

Ada kerinduan.

Namun juga sesuatu yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya.

Tekad.

Mufasa menghela napas.

"Pria itu benar-benar tidak akan menyerah."

Seorang penyihir bertanya,

"Haruskah kita membuat perangkap lebih sulit?"

Mufasa menggeleng.

"Tidak."

"Kenapa?"

Mufasa tersenyum.

"Karena mereka sudah cukup lelah."

Ia memandang kristal.

"Kita tidak perlu menghancurkan mereka."

"Kita hanya perlu membuat mereka tersesat."

***

Kembali di clearing—

Ace akhirnya menguap.

Panjang sekali.

"Kalau tidak ada yang menyerang dalam lima menit..."

Ia menarik napas.

"...aku akan tidur."

Rowan menatapnya.

"Jangan tidur."

"Kenapa?"

"Karena kita belum tahu apakah tempat ini aman."

Ace melihat sekeliling.

Kemudian melihat langit.

Kemudian melihat Rowan.

"Aku tahu."

Ia tersenyum kecil.

"Tapi aku tetap ingin tidur."

Rowan tertawa pelan.

Elyon menggeleng.

Elarion menutup matanya lagi.

Kevin bersandar pada pohon.

Darrien kembali berbaring.

Untuk beberapa saat—

mereka membiarkan malam berjalan.

Tanpa menyadari bahwa—

di bawah kaki mereka,

sebuah jaringan sihir kuno sedang bersiap.

Mufasa masih mengawasi dari ruang pertahanan.

Senyum tipis terlihat di wajahnya.

"Beristirahatlah."

Ia berbicara kepada kristal.

"Karena ketika kalian bangun..."

Matanya menyipit.

"...kejutan berikutnya sudah menunggu."

Dan clearing yang terlihat begitu damai itu—

perlahan berubah menjadi bagian dari perangkap berikutnya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience