265. Ujian Sang Pelatih

Romance Series 382

BAB 265 — UJIAN SANG PELATIH

Tiga bulan telah berlalu.

Tiga bulan sejak Darrien pertama kali memasuki tahap Master Level Training.

Tiga bulan yang dipenuhi latihan tanpa henti.

Pagi dimulai dengan pernapasan.

Siang dipenuhi pertarungan.

Sore digunakan untuk mengasah indra, kecepatan, pengamatan, dan kontrol mana.

Dan ketika malam tiba—

Darrien hampir selalu terlalu lelah untuk melakukan apa pun selain tidur.

Pada awalnya, ia sering mengeluh.

Kadang-kadang ia bahkan bertanya-tanya apakah Kevin benar-benar sedang melatihnya—

atau hanya membalas dendam karena liburannya yang dibatalkan.

Namun perlahan—

semuanya berubah.

Gerakan yang dulu harus ia pikirkan—

kini menjadi naluri.

Pernapasan yang dulu mudah kacau ketika bertarung—

kini tetap stabil.

Penggunaan dark magic yang dulu boros—

kini jauh lebih hemat.

Dan chant yang dulu menjadi bagian penting dari sihirnya—

kini tidak lagi selalu diperlukan.

Darrien tidak menjadi lebih kuat hanya karena memiliki lebih banyak mana.

Ia menjadi lebih kuat karena—

ia tahu bagaimana menggunakannya.

***

Pagi itu—

lapangan latihan Veyth terasa berbeda.

Tidak ada magical dummy.

Tidak ada target.

Tidak ada penghalang berlapis.

Hanya Kevin.

Dan Darrien.

Keduanya berdiri berhadapan di tengah arena.

Darrien memandang Kevin dengan curiga.

“Kenapa arena kosong?”

Kevin tidak menjawab.

Darrien menyipitkan mata.

“Ini jebakan?”

“Tidak.”

“Benarkah?”

“Ya.”

Darrien tetap tidak percaya.

Selama tiga bulan terakhir—

setiap kali Kevin mengatakan sesuatu dengan tenang seperti itu—

biasanya sesuatu yang buruk akan terjadi.

Kevin akhirnya berkata,

“Hari ini kita tidak menggunakan dummy.”

Darrien mengangkat alis.

“Lalu?”

Kevin menarik senjatanya.

“Kau akan melawanku.”

Darrien terdiam.

Kemudian—

sebuah senyum perlahan muncul di wajahnya.

“Serius?”

Kevin mengangguk.

“Serius.”

Darrien mengangkat senjatanya.

“Tiga bulan terakhir kau terus mengatakan bahwa aku masih belum siap.”

“Benar.”

“Dan sekarang kau sendiri yang mengujiku?”

“Benar.”

Darrien menarik napas.

Untuk pertama kalinya—

ia tidak merasa gugup.

Ia justru merasa penasaran.

Seberapa jauh dirinya telah berubah?

Tiga bulan lalu—

ia bahkan kesulitan menghadapi tekanan Kevin.

Sekarang—

ia ingin tahu apakah dirinya akhirnya bisa berdiri di hadapan pria itu tanpa terus-menerus dihancurkan.

Kevin mengangkat senjatanya.

“Jangan menahan diri.”

Darrien tersenyum.

“Aku juga ingin mengatakan hal yang sama.”

***

Hening.

Angin melewati arena.

Darrien berdiri tenang.

Tidak ada posisi bertarung yang berlebihan.

Tidak ada aura besar.

Tidak ada dark magic yang dilepaskan.

Ia hanya—

bernapas.

Tarik.

Buang.

Tarik.

Buang.

Matanya mengamati Kevin.

Bahu.

Kaki.

Pusat gravitasi.

Posisi tangan.

Aliran mana.

Semuanya diperhatikan.

Kevin memperhatikan Darrien.

Kemudian—

senyum tipis muncul di wajahnya.

“Bagus.”

Darrien tahu—

itu tanda dimulainya pertarungan.

Kevin menghilang.

**BOOM!**

Darrien langsung bergerak.

Serangan pertama melewati wajahnya.

Darrien tidak membalas.

Ia hanya mundur setengah langkah.

Kevin menyerang lagi.

Darrien menghindar.

Serangan ketiga.

Darrien memutar tubuh.

Kemudian—

membalas.

**CLANG!**

Senjata mereka bertabrakan.

Keduanya mundur.

Darrien menatap Kevin.

Kevin menatapnya kembali.

Tidak ada kata-kata.

Kemudian Kevin menyerang lagi.

Lebih cepat.

Darrien bergerak.

Kali ini—

ia tidak mengejar.

Ia membaca.

Setiap perubahan kecil pada tubuh Kevin.

Ketika bahu Kevin bergerak—

Darrien sudah tahu arah serangan.

Ketika kakinya berubah posisi—

Darrien sudah mengubah pusat gravitasinya.

Ketika aliran mana berubah—

Darrien bergerak sebelum serangan terbentuk.

**CLANG!**

**CLANG!**

**CLANG!**

Benturan semakin cepat.

Namun napas Darrien tetap stabil.

Kevin mempercepat.

Darrien mengikuti.

Kevin mengubah ritme.

Darrien menyesuaikan.

Kevin tiba-tiba menggunakan dark magic.

Darrien tidak panik.

Tangannya terangkat.

Tidak ada chant.

Dark magic langsung muncul.

**BOOM!**

Dua kekuatan bertabrakan.

Darrien terdorong beberapa meter.

Namun ia tetap berdiri.

Ia menarik napas.

Kemudian tersenyum.

“Masih kurang.”

Kevin menatapnya.

“Bagus.”

Kemudian—

Kevin menghilang lagi.

***

Pertarungan berlangsung semakin lama.

Kevin meningkatkan kecepatannya.

Darrien tidak lagi sekadar bertahan.

Ia mulai menyerang balik.

Satu langkah.

Satu tebasan.

Satu perubahan posisi.

Dark magic hanya digunakan ketika benar-benar diperlukan.

Tidak ada ledakan besar.

Tidak ada pemborosan.

Darrien bahkan mulai memadukan sihir dengan gerakannya.

Sebuah lapisan tipis dark mana menyelimuti senjatanya.

**CLANG!**

Kevin menahan.

Darrien berputar.

Serangan berikutnya datang dari arah berbeda.

Kevin menghindar.

Namun Darrien sudah memperkirakannya.

Ia mengubah arah serangan di tengah gerakan.

Kevin terpaksa mundur.

Untuk pertama kalinya—

Darrien berhasil membuat Kevin mundur beberapa langkah.

Di luar arena—

Ace yang sedang memperhatikan langsung membelalakkan mata.

“Dia membuat Kevin mundur.”

Rowan tersenyum.

“Setelah tiga bulan…”

Elarion hanya mengamati dalam diam.

Fiona berdiri di samping mereka.

Tatapannya tertuju kepada Darrien.

Ia tersenyum kecil.

“Dia berubah.”

***

Di tengah arena—

Darrien dan Kevin kembali berhadapan.

Keduanya bernapas.

Namun—

Darrien masih stabil.

Kevin melihatnya beberapa detik.

Kemudian—

senyuman tipis kecil kembali muncul.

Darrien langsung tahu.

“Jangan bilang…”

Kevin mengangkat senjatanya.

“Sekarang aku akan benar-benar menyerang.”

Darrien tertawa kecil.

“Jadi tadi belum?”

“Belum.”

“…Aku benci kau.”

Kevin menyerang.

Dan kali ini—

kecepatan mereka benar-benar berubah.

**BOOM!**

Darrien terlempar.

Ia berguling.

Berhenti.

Kemudian bangkit.

Tidak marah.

Tidak panik.

Ia menarik napas.

Menyeka darah tipis di sudut bibirnya.

Kemudian—

tersenyum.

“Baik.”

Ia kembali mengambil posisi.

“Aku belum selesai.”

Kevin menatapnya.

Senyumnya semakin jelas.

“Bagus.”

Pertarungan kembali dimulai.

Namun kali ini—

Darrien tidak berusaha mengalahkan Kevin dengan kekuatan.

Ia mencoba mengalahkannya dengan—

pengamatan.

Kesabaran.

Kecepatan.

Kontrol.

Dan pengalaman selama tiga bulan terakhir.

Setiap serangan yang gagal—

ia pelajari.

Setiap kesalahan—

ia perbaiki.

Setiap celah—

ia simpan dalam pikirannya.

Sampai akhirnya—

Kevin melakukan satu gerakan yang sama seperti sebelumnya.

Namun kali ini—

Darrien sudah menunggunya.

Ia bergerak.

Memutar tubuh.

Menghindar.

Dark mana muncul di telapak tangannya.

Tanpa chant.

Satu gerakan.

**CLANG!**

Senjata Kevin terlempar dari tangannya.

Darrien berhenti.

Ia sendiri tampak terkejut.

Keheningan memenuhi arena.

Kevin melihat senjatanya yang jatuh.

Kemudian melihat Darrien.

Darrien menatapnya.

“…Aku berhasil?”

Kevin berjalan mengambil senjatanya.

Kemudian kembali berdiri.

Ia menatap Darrien cukup lama.

Dan untuk pertama kalinya hari itu—

Kevin tertawa kecil.

“Ya.”

Darrien tersenyum lebar.

Namun Kevin menambahkan,

“Tapi jangan terlalu bangga.”

Darrien langsung menghela napas.

“Aku sudah tahu.”

Kevin memasukkan senjatanya.

“Karena masih ada satu hal yang belum kau lakukan.”

Darrien mengerutkan kening.

“Apa?”

Kevin menatapnya.

“Kau belum pernah bertarung dalam kondisi di mana orang yang ingin kau lindungi benar-benar terluka.”

Darrien terdiam.

Tatapannya berubah serius.

Kevin melanjutkan,

“Ketika hari itu datang…”

Ia berhenti sejenak.

“…aku ingin kau tetap menjadi dirimu sendiri.”

Darrien mengepalkan tangannya.

Kemudian mengangguk.

“Aku akan melakukannya.”

Kevin mengangguk.

“Kalau begitu…”

Ia melihat ke arah langit.

“…latihan kita hampir selesai.”

Darrien menatapnya.

“Hampir?”

Kevin memberikan senyum tipis kecil.

“Masih ada satu tahap terakhir.”

Darrien membeku.

“…”

Ace langsung tertawa dari luar arena.

Rowan menutup wajahnya.

Fiona hanya menggeleng.

Darrien menatap Kevin dengan tatapan tidak percaya.

“Tiga bulan.”

Kevin mengangkat alis.

“Apa?”

“Tiga bulan kau menyiksaku.”

“Melatihmu.”

“Dan sekarang kau bilang masih ada tahap terakhir?”

Kevin berbalik.

“Besok.”

Darrien memejamkan mata.

“…Tentu saja.”

Namun kali ini—

ia tersenyum.

Karena jauh di dalam dirinya—

Darrien tahu.

Tiga bulan lalu, ia tidak akan mampu berdiri seperti ini.

Sekarang—

ia mampu.

Dan mungkin—

itulah jawaban yang selama ini dicari Kevin.

Bukan apakah Darrien bisa menjadi lebih kuat.

Tetapi—

apakah Darrien akhirnya mampu mengendalikan kekuatannya sendiri.

Jawabannya—

sudah jelas.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience