416. Sang Ratu Baru

Romance Completed 594

BAB 416 — SANG RATU BARU

Pagi kembali menyelimuti Shadowcresent.

Namun pagi ini—

ada sesuatu yang berbeda.

Fiona berjalan menyusuri koridor istana bersama Raizen.

Langkahnya terasa lebih ringan.

Tidak ada lagi rasa tertahan di kedua pergelangan tangannya.

Segel hitam yang selama ini mengikat magicure-nya—

telah menghilang.

Setelah ritual yang dilakukan malam sebelumnya, Raizen tidak lagi merasa perlu mempertahankannya.

Fiona sendiri belum terlalu memperhatikan perubahan itu.

Ia hanya menikmati kebebasan kecil yang akhirnya kembali.

Kedua tangannya dapat bergerak bebas.

Magicure-nya juga terasa kembali mengalir di dalam tubuhnya.

Namun ada sesuatu yang terasa berbeda.

Sangat samar.

Fiona tidak dapat menjelaskannya.

Ia hanya menganggapnya sebagai efek dari tidur panjangnya.

Di sampingnya—

Raizen berjalan dengan tenang.

Hari ini, untuk pertama kalinya sejak Fiona dibawa ke Shadowcresent—

ia berjalan di sisinya bukan sebagai seorang tahanan.

Melainkan sebagai—

ratu.

Setidaknya menurut Raizen.

Beberapa langkah di belakang mereka—

Mufasa mengikuti.

Tatapannya berpindah dari Raizen kepada Fiona.

Kemudian kembali kepada Raizen.

Ia menghela napas pelan.

“…”

Situasi ini menjadi semakin rumit.

Kemarin—

Fiona masih menolak gelar ratu.

Hari ini—

ia berjalan santai di samping Tuannya seolah tidak ada sesuatu yang aneh.

Mufasa mengusap pelipisnya.

*Sepertinya aku harus mulai memanggilnya dengan gelar yang benar.*

Ia melirik Fiona.

Kemudian bergumam sangat pelan,

“Sepertinya gelarnya harus segera diganti sebelum Nona Fiona menyadari ada sesuatu yang salah.”

Ia berhenti sejenak.

Kemudian menambahkan dalam hati—

*Dan semoga saya tidak salah menyebutnya di depan beliau.*

Mufasa menghela napas lagi.

***

Mereka akhirnya tiba di ruang makan.

Aula tersebut jauh lebih besar daripada yang Fiona gunakan sebelumnya.

Meja panjang dari kayu hitam berada di tengah ruangan.

Pilar-pilar batu tua berdiri di kedua sisi.

Lampu-lampu berbentuk bulan sabit menggantung di atas kepala mereka.

Namun kali ini—

Fiona tidak duduk sendirian.

Raizen duduk di sisi yang sama.

Fiona mengambil tempat di dekatnya.

Mufasa berdiri beberapa langkah di belakang.

Raizen menatap meja.

“Bawa makanan.”

Mufasa langsung mengangguk.

“Baik, Tuanku.”

Kemudian ia berhenti.

Tatapannya berpindah kepada Fiona.

Ia teringat sesuatu.

Giselle.

Sebuah buku catatan penelitian yang pernah berada di tangan Mufasa.

Catatan mengenai Pure Light Elf.

Catatan mengenai kebiasaan Fiona.

Termasuk—

makanan.

Mufasa memberi isyarat kepada salah satu pelayan.

“Bawa beberapa makanan manis.”

Pelayan tersebut menundukkan kepala.

“Baik.”

Tidak lama kemudian—

beberapa hidangan tambahan dibawa masuk.

Roti manis.

Kue kecil.

Buah-buahan.

Pastry.

Dan beberapa makanan penutup khas Shadowcresent.

Fiona menatap meja.

Matanya sedikit membesar.

“…”

Raizen memperhatikan perubahan ekspresinya.

Mufasa juga memperhatikan.

Fiona mengambil salah satu kue kecil.

Ia mencicipinya.

Kemudian—

matanya berbinar.

“Enak.”

Raizen hanya menatapnya.

Fiona mengambil yang kedua.

Kemudian yang ketiga.

Mufasa berdiri di belakang mereka dengan ekspresi tenang.

Namun dalam pikirannya—

*Catatan Giselle memang benar.*

*Dia benar-benar menyukai makanan manis.*

Fiona mencoba satu pastry lain.

“Ini juga enak.”

Ia mengambil satu lagi.

Raizen memperhatikannya.

Tidak mengatakan apa-apa.

Namun tatapannya mengikuti setiap gerakan Fiona.

Cara ia memilih makanan.

Cara ekspresinya berubah ketika menemukan sesuatu yang disukainya.

Cara ia makan tanpa menyadari bahwa seseorang sedang memperhatikannya.

Raizen akhirnya bertanya,

“Kau menyukainya?”

Fiona mengangguk sambil masih memegang pastry.

“Hmm.”

Kemudian ia menyadari Raizen sedang melihatnya.

“Apa?”

Raizen menggeleng.

“Tidak ada.”

Fiona menyipitkan mata.

“Kau melihatku lagi.”

“Ya.”

“Kenapa?”

Raizen menjawab tenang,

“Karena kau terlihat bahagia.”

Fiona terdiam.

Kemudian melihat makanan di depannya.

“…Aku hanya lapar.”

Raizen mengangguk.

“Baik.”

Fiona mengambil kue lain.

“Dan ini enak.”

Raizen kembali mengangguk.

“Baik.”

Mufasa menundukkan kepala untuk menyembunyikan ekspresinya.

*Tuanku benar-benar memperhatikan cara dia makan.*

***

Fiona terus menikmati sarapannya.

Untuk pertama kalinya—

ia tidak merasa perlu bertanya tentang Darrien.

Tidak ada rasa rindu yang tiba-tiba muncul.

Tidak ada wajah seseorang yang muncul di pikirannya.

Tidak ada nama yang terasa familiar.

Fiona hanya merasa—

tenang.

Dan itu membuatnya sedikit bingung.

Namun ia tidak terlalu memikirkannya.

Mungkin karena ia baru saja bangun.

Mungkin karena tempat ini sudah tidak terasa asing seperti sebelumnya.

Atau mungkin—

karena Raizen berada di sampingnya.

Fiona melirik pria itu.

Raizen sedang meminum tehnya.

Ia tampak seperti biasa.

Tenang.

Dingin.

Sulit dibaca.

Fiona kembali mengambil kue.

“Raizen.”

“Ya?”

“Apakah setiap pagi akan ada makanan seperti ini?”

Raizen menatapnya.

“Jika kau menginginkannya.”

Fiona tersenyum kecil.

“Kalau begitu…”

Ia melihat piring-piring makanan.

“…aku tidak keberatan.”

Raizen diam beberapa saat.

Kemudian—

“Baik.”

Fiona kembali makan.

Mufasa yang berdiri di belakang mereka menghela napas pelan.

Situasi ini semakin aneh.

Kemarin perempuan ini masih ingin melarikan diri.

Hari ini—

ia duduk di samping Raja Vampire sambil menikmati kue.

***

Raizen kembali menatap Fiona.

Ia melihat senyum kecil di wajahnya.

Untuk beberapa saat—

ia hanya diam.

Tidak ada penolakan.

Tidak ada nama Darrien.

Tidak ada air mata.

Hanya Fiona.

Di sisinya.

Raizen menyandarkan tubuhnya sedikit.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Mufasa melihatnya dari jauh.

Dan langsung menghela napas lagi.

*Ya.*

*Gelar itu benar-benar harus diganti.*

*Kalau tidak, saya yang akan mendapat masalah.*

Mufasa menatap Fiona.

Kemudian kepada Raizen.

*Ratu Shadowcresent.*

Ia hampir mengucapkannya.

Namun menahannya.

Belum.

Lebih baik menunggu.

Karena Sang Raja belum memerintahnya lagi.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience