26. Mata Air Di Balik Hutan

Romance Series 94

BAB 26
MATA AIR DI BALIK HUTAN

Beberapa hari setelah kejadian di hutan, Elarion membawa Darrien dan Fiona lebih jauh dari biasanya.

Jalan yang mereka lewati semakin sempit.

Pepohonan semakin tinggi.

Cahaya matahari hampir tidak bisa menembus dedaunan.

Fiona melihat sekeliling dengan penasaran.

“Elarion, kita mau ke mana?”

“Tempat yang jarang dikunjungi.”

Darrien memperhatikan sekeliling.

“Kenapa?”

“Karena aku ingin menunjukkan sesuatu kepada kalian.”

Setelah berjalan cukup lama, suara air mulai terdengar.

Fiona mempercepat langkah.

Di balik pepohonan, terbentang sebuah mata air kecil.

Airnya jernih seperti kaca.

Di sekelilingnya tumbuh bunga-bunga berwarna putih dan biru yang memancarkan cahaya lembut.

Fiona terpaku.

“Indah sekali…”

Elarion tersenyum.

“Ini salah satu tempat favoritku.”

Darrien berjongkok di tepi air.

Ia menyentuh permukaannya.

Air terasa dingin.

Namun anehnya, hawa dingin itu tidak membuatnya tidak nyaman.

Sebaliknya, terasa seperti sesuatu yang sudah dikenalnya sejak lama.

Fiona berjongkok di sebelahnya.

“Dingin?”

Darrien mengangguk.

“Tapi tidak buruk.”

Fiona menyentuh air.

Cahaya keemasan kecil muncul dari ujung jarinya.

Bunga-bunga di sekitar mata air perlahan mekar.

Fiona langsung menarik tangannya.

“Ups.”

Elarion tertawa.

“Sepertinya tempat ini menyukai kalian.”

Darrien melihat bunga-bunga itu.

“Kenapa?”

“Karena mata air ini memiliki energi kehidupan yang sangat kuat.”

Elarion duduk di atas batu.

“Tempat seperti ini terbentuk selama ratusan tahun.”

Fiona duduk di dekatnya.

“Apakah semua tempat di Lunareth punya sihir?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa tempat ini punya?”

“Karena alam menyimpan banyak hal yang tidak bisa dijelaskan manusia.”

Darrien memandang air.

“Apakah sihir berasal dari alam?”

“Sebagian.”

“Lalu dari mana sisanya?”

Elarion tersenyum.

“Itu pertanyaan yang lebih sulit.”

Fiona mengambil sebuah batu kecil dan melemparkannya ke air.

Riak kecil muncul.

Darrien mengambil batu lain.

Ia melemparkannya lebih jauh.

Fiona menatapnya.

“Punyamu lebih jauh.”

“Karena aku lebih kuat.”

“Bukan berarti lebih pintar.”

Darrien menatapnya.

Elarion tertawa.

“Kalian berdua benar-benar tidak berubah.”

Mereka menghabiskan sore di sana.

Fiona bermain di dekat mata air.

Darrien mencoba memancing ikan kecil dengan tangan.

Elarion hanya duduk sambil memperhatikan mereka.

Tidak ada latihan.

Tidak ada pelajaran.

Tidak ada bahaya.

Hanya tiga orang yang menikmati sore yang tenang.

Ketika matahari mulai terbenam, Fiona duduk di samping Darrien.

“Darrien.”

“Hm?”

“Kalau kita punya rumah sendiri nanti…”

Darrien menatapnya.

“Kenapa?”

“Aku ingin punya tempat seperti ini.”

Ia menunjuk mata air.

“Tenang.”

Darrien tersenyum.

“Kalau begitu, kita cari tempat seperti ini.”

Fiona mengulurkan jari kelingkingnya.

“Janji?”

Darrien mengaitkan jari mereka.

“Janji.”

Elarion memperhatikan mereka dari kejauhan.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Namun di dalam hatinya, ia tahu sesuatu.

Kedua anak itu telah mengalami terlalu banyak hal untuk usia mereka.

Karena itu, selama mereka masih bersamanya…

ia ingin memberi mereka sedikit waktu untuk menjadi anak-anak.

Setidaknya untuk sementara.

Matahari akhirnya menghilang di balik pepohonan.

Dan tiga sosok itu meninggalkan mata air bersama-sama.

Tanpa mengetahui bahwa kenangan sederhana di tempat itu kelak akan menjadi salah satu kenangan paling berharga yang pernah mereka miliki.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience