Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 133
TIGA MATA MERAH
Darrien dan Fiona mencoba berbalik untuk kembali ke jalan sebelumnya.
Namun baru beberapa langkah—
seseorang berdiri di hadapan mereka.
Seorang pria.
Darrien langsung berhenti.
Fiona yang berjalan di belakangnya ikut berhenti.
“Darrien…”
Sebelum Darrien sempat menjawab—
dua sosok lainnya muncul dari belakang mereka.
Fiona membeku.
Mereka bertiga.
Satu di depan.
Dua di belakang.
Mereka telah dikepung.
Ketiganya memiliki mata merah yang menyala samar di tengah kegelapan hutan.
Tatapan mereka tidak ramah.
Terutama ketika melihat Fiona.
Pria yang berdiri di depan tersenyum lebar.
“Wah, wah, wah…”
Ia tertawa kecil.
“Lihat siapa yang datang ke tempat kami malam-malam begini.”
Dua orang di belakangnya ikut tertawa.
“Hahaha…”
Fiona semakin mendekat kepada Darrien.
Ia merasa sangat tidak nyaman dengan tatapan mereka.
Darrien berdiri tepat di depannya.
“Siapa kalian?”
Pemimpin mereka tertawa.
“Siapa yang peduli siapa aku?”
Ia melangkah mendekat.
“Kalian tidak perlu tahu.”
Ia berhenti beberapa langkah dari mereka.
“Yang perlu kalian tahu…”
Senyumnya semakin lebar.
“…malam ini kalian berdua akan menjadi makananku.”
Ia membuka mulutnya.
Taring panjang terlihat jelas.
Fiona langsung membeku.
Darrien menatapnya dengan tajam.
“Vampir…”
Pemimpin itu tersenyum puas.
“Bagus.”
Ia tertawa.
“Setidaknya kau tahu apa yang akan memakan kalian malam ini.”
Salah satu dari dua vampir di belakangnya melirik Fiona.
“Pemimpin…”
“Hm?”
“Aku mau gadis itu.”
**Tok!**
Vampir yang satunya langsung memukul kepalanya.
“Bodoh!”
“Aduh!”
“Pemimpin dulu.”
Ia menunjuk pemimpin mereka.
“Kita tunggu sampai pemimpin selesai.”
Vampir yang dipukul tadi mengusap kepalanya.
“Ya, ya…”
Ia kemudian melirik Darrien.
“Lalu anak laki-laki itu?”
Keduanya saling memandang.
“Disiksa sampai mati.”
Yang satunya menyeringai.
“Atau biarkan dia melihat gadis itu lebih dulu…”
Tatapan mereka membuat Fiona semakin takut.
Darrien mengepalkan tangannya.
“Jangan sentuh dia.”
Pemimpin vampir itu tertawa.
“Oh?”
Ia menatap Darrien.
“Kau pikir kau bisa melindunginya?”
Darrien tidak menjawab.
Energi perlahan muncul di sekitar tubuhnya.
Tipis.
Namun cukup untuk membuat udara di sekitarnya berubah.
Pemimpin vampir mengangkat alis.
“Menarik.”
Tatapannya menjadi lebih tajam.
“Kau bukan manusia biasa.”
Darrien tetap berdiri di depan Fiona.
“Aku tidak peduli apa yang kalian pikirkan.”
Ia menatap ketiga vampir itu.
“Kalau ingin menyentuhnya…”
Tangannya mengepal.
“…lewati aku dulu.”
Ketiga vampir tertawa.
Namun pemimpin mereka tidak langsung bergerak.
Ia justru menatap Darrien lebih lama.
Kemudian matanya kembali berpindah kepada Fiona.
Tatapannya menjadi semakin rakus.
“Baiklah.”
Ia memperlihatkan taringnya.
“Kalau begitu…”
“Kita mulai dari kalian berdua.”
