Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 504 — HARI-HARI YANG TIDAK BERUBAH
Hari pertama berlalu.
Lalu hari kedua.
Kemudian hari ketiga.
Shadowcresent tetap sunyi.
Tidak ada kabar dari Veyth.
Tidak ada perubahan yang bisa membuat Mufasa menghela napas lega.
Dan di dalam istana kuno itu...
Raizen masih menunggu.
Dia tidak pernah mengatakan kepada siapa pun bahwa dirinya sedang menunggu.
Dia hanya duduk di dekat jendela besar kamarnya.
Memandang taman mawar hitam yang sekarang terasa terlalu luas.
Terlalu sepi.
Dulu...
di tempat itu selalu ada Fiona.
Kadang Fiona berjalan tanpa tujuan.
Kadang dia berhenti hanya untuk melihat bunga.
Kadang dia membawa makanan.
Kadang dia berbicara terlalu banyak tentang sesuatu yang bahkan Raizen tidak mengerti.
Dan terkadang...
dia hanya tidur.
Sekarang tidak ada apa-apa.
Hanya bunga mawar hitam yang bergerak perlahan tertiup angin malam.
Mufasa berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Dia sudah menerima laporan dari jaringan informasi Shadowcresent.
Akhirnya...
dia berbicara.
“Yang Mulia.”
Raizen tidak menoleh.
“Apa?”
Mufasa menundukkan kepala.
“Aku menerima kabar dari Veyth.”
Tangan Raizen yang berada di sisi kursi perlahan mengepal.
“Fiona?”
Mufasa diam sebentar.
Kemudian menjawab.
“Belum sadar.”
Keheningan.
Raizen menutup matanya.
Sudah beberapa hari.
Dan Fiona masih belum membuka matanya.
“Bagaimana kondisinya?”
“Masih stabil.”
Mufasa berhenti.
“Tapi luka itu belum sembuh.”
Raizen membuka mata.
Tatapannya tetap mengarah ke taman.
“Mereka sudah mencoba semuanya?”
“Sebisa mereka.”
Mufasa menarik napas.
“Mereka menggunakan ramuan penyembuhan langka.”
“Buku-buku kuno.”
“Penyembuh tingkat tinggi.”
“Elf penyembuh.”
“Penyihir.”
“Bahkan teknik yang biasanya hanya digunakan untuk menyelamatkan seseorang yang berada di ambang kematian.”
Raizen tidak mengatakan apa-apa.
Mufasa melanjutkan dengan suara rendah.
“Namun kondisinya hampir tidak berubah.”
Jari Raizen bergerak sedikit.
Hanya sedikit.
Namun Mufasa melihatnya.
Dia sudah mengenal rajanya cukup lama.
Itu adalah satu-satunya tanda bahwa laporan tersebut benar-benar memengaruhinya.
“Dia masih hidup.”
Raizen mengatakannya seperti sedang memastikan kepada dirinya sendiri.
“Ya.”
“Dia masih bernapas.”
“Ya.”
“Jantungnya masih berdetak.”
“Ya.”
Raizen menundukkan kepala.
“Kalau begitu...”
Suaranya semakin pelan.
“...mengapa rasanya seperti aku sudah kehilangannya?”
Mufasa terdiam.
Tidak ada jawaban yang bisa diberikan.
Karena dia tahu.
Raizen tidak kehilangan Fiona karena kematian.
Namun dia juga tidak lagi memilikinya.
Dan semuanya terjadi karena tangannya sendiri.
***
Di Veyth...
hari-hari juga berjalan.
Hari keempat.
Hari kelima.
Hari keenam.
Tidak ada perubahan.
Ruang penyembuhan kerajaan tetap dipenuhi cahaya sihir.
Para penyembuh terus bekerja.
Mereka bahkan tidak lagi menghitung berapa banyak mantra yang telah digunakan.
Meja di samping ruangan dipenuhi botol ramuan.
Buku-buku kuno terbuka di hampir setiap sudut.
Beberapa halaman telah diberi tanda.
Beberapa formula ditulis ulang.
Beberapa bahkan sudah dicoret karena terbukti tidak berguna.
Sylvester masih berada di sana bersama para penyembuh Lunaris.
Elarion dan Elyon terus membaca.
Edward dan Gloria beberapa kali datang hanya untuk melihat kondisi Fiona.
Dan Darrien...
tidak pernah benar-benar pergi.
Dia masih duduk di sisi ranjang.
Tangannya tetap menggenggam tangan Fiona.
Hari demi hari.
Malam demi malam.
Kadang dia tertidur dalam posisi duduk.
Kadang dia terbangun hanya karena merasa jari Fiona bergerak.
Namun setiap kali dia membuka mata...
tidak ada apa-apa.
Fiona masih tidur.
Napasnya masih lemah.
Detak jantungnya masih dijaga oleh sihir penyembuhan.
Tetapi dia belum bangun.
Seorang penyembuh datang membawa sebuah botol kecil.
“Ramuan baru dari penyihir penyembuhan Lunaris.”
Elarion menerimanya.
Dia memeriksa isinya.
“Efeknya?”
“Seharusnya membantu mempercepat regenerasi jaringan.”
Elarion menatap Fiona.
Kemudian memberikan botol itu kepada penyembuh.
“Coba.”
Ramuan itu diberikan.
Cahaya lembut mengalir ke tubuh Fiona.
Beberapa saat...
detak jantungnya menjadi sedikit lebih stabil.
Namun luka itu tetap ada.
Tidak menutup.
Tidak memburuk.
Hanya...
tetap seperti sebelumnya.
Elyon menghela napas.
“Tidak ada perubahan berarti.”
Sylvester menutup buku di tangannya.
“Bahkan teknik dari arsip kerajaan Lunaris tidak cukup.”
Elarion menatapnya.
“Berarti kita masih hanya membeli waktu.”
“Ya.”
Darrien mendengar kalimat itu.
Namun dia tidak bereaksi.
Dia hanya menatap wajah Fiona.
Kemudian ibu jarinya bergerak perlahan mengusap punggung tangan Fiona.
“Fiona.”
Tidak ada jawaban.
“Aku tahu kau bisa mendengarku.”
Masih tidak ada jawaban.
Darrien tersenyum kecil.
Sangat kecil.
“Aku tidak akan memaksamu.”
Dia menundukkan kepala.
“Kalau kau masih ingin beristirahat...”
Jarinya menggenggam tangan Fiona.
“...istirahatlah.”
“Tapi jangan pergi terlalu jauh.”
Matanya mulai memerah.
“Aku masih di sini.”
***
Jauh di Shadowcresent...
Raizen masih berada di tempat yang sama.
Mufasa datang membawa laporan baru.
Raizen bahkan tidak perlu bertanya.
Namun dia tetap bertanya.
“Bagaimana?”
Mufasa menundukkan kepala.
“Tidak ada perubahan.”
Raizen diam.
Hari ketujuh.
Hari kedelapan.
Hari kesembilan.
Laporan yang sama.
Fiona masih hidup.
Fiona masih belum sadar.
Lukanya masih belum sembuh.
Dan tidak ada satu pun berita yang mengatakan kapan dia akan bangun.
Raizen perlahan berdiri.
Dia berjalan menuju taman mawar hitam.
Tangannya menyentuh salah satu bunga.
Dulu Fiona pernah berdiri di tempat ini.
Pernah tersenyum kepadanya.
Pernah memanggil namanya.
Raizen memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya sejak ribuan tahun...
dia berharap waktu bisa berjalan mundur.
Namun waktu tidak pernah kembali.
Dan penyesalan...
tidak bisa menyembuhkan luka.
Raizen membuka matanya.
Tatapannya jatuh pada kursi kosong di taman.
“Fiona...”
Hanya satu nama.
Tidak ada jawaban.
Mufasa berdiri jauh di belakangnya.
Tidak mengganggu.
Tidak mengatakan apa pun.
Karena dia tahu...
untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat panjang,
Rajanya tidak membutuhkan pasukan.
Tidak membutuhkan sihir.
Tidak membutuhkan kekuasaan.
Dia hanya membutuhkan satu hal.
Seseorang yang mungkin...
tidak akan kembali kepadanya.
Dan itu adalah hukuman yang bahkan seorang Raja Vampire tidak dapat lawan.
