31. Perasaan Yang Tidak Dimengerti

Romance Series 94

BAB 31
PERASAAN YANG TIDAK DIMENGERTI

Beberapa hari berlalu setelah perjalanan mereka ke Lyrandel.

Pagi itu, Darrien dan Fiona kembali pergi ke desa kecil bersama Elarion untuk membeli beberapa bahan ramuan.

Setelah selesai berbelanja, Elarion meminta mereka menunggu di dekat jalan sementara ia berbicara dengan seorang pedagang.

Fiona berdiri sambil memegang keranjang kecil.

Darrien berada di sampingnya.

Saat itulah seorang pemuda yang tampaknya seorang pelancong menghampiri.

“Permisi.”

Fiona menoleh.

“Ya?”

Pemuda itu tersenyum sopan.

“Apakah kau tahu jalan menuju penginapan di sebelah timur?”

Fiona melihat ke arah jalan.

“Yang dekat dengan toko ramuan?”

“Ya.”

“Lewat jalan itu, lalu belok kiri di persimpangan.”

Pemuda itu mengangguk.

“Terima kasih.”

Ia masih berdiri di sana.

“Apakah kau juga tinggal di desa ini?”

Fiona menggeleng.

“Tidak. Aku bersama Elarion.”

Pemuda itu tersenyum.

“Begitu.”

Darrien yang sejak tadi diam mulai mengerutkan kening.

Pemuda itu kembali bertanya,

“Kalau begitu, apakah kau sering datang ke sini?”

Fiona menjawab dengan ramah.

“Kadang-kadang.”

Darrien tiba-tiba melangkah maju.

“Dia sudah menjawab.”

Pemuda itu menatap Darrien.

“Oh.”

Darrien berdiri di samping Fiona.

“Kalau kau sudah tahu jalannya, sebaiknya pergi.”

Fiona menatap Darrien dengan bingung.

“Darrien?”

Pemuda itu mengangkat kedua tangannya.

“Baik. Maaf.”

Ia kemudian pergi.

Fiona memperhatikan punggungnya.

“Kenapa kau begitu?”

“Begitu bagaimana?”

“Kasar.”

“Aku tidak kasar.”

“Kau jelas kasar.”

Darrien mengerutkan kening.

“Dia terlalu banyak bertanya.”

Fiona tertawa kecil.

“Dia hanya menanyakan jalan.”

Darrien tidak menjawab.

Entah mengapa, sejak pemuda itu mendekatinya, ada sesuatu yang terasa tidak nyaman di dadanya.

Bukan hawa dingin.

Bukan sihir.

Sesuatu yang lain.

Ia tidak menyukainya.

Beberapa saat kemudian, Elarion kembali.

“Ayo.”

Mereka berjalan pulang.

Sepanjang perjalanan, Fiona beberapa kali melirik Darrien.

“Kau masih kesal?”

“Tidak.”

“Wajahmu terlihat kesal.”

“Aku baik-baik saja.”

Fiona mengangkat bahu.

“Baiklah.”

Namun setelah sampai di rumah, Darrien tetap terlihat gelisah.

Saat Fiona pergi membantu menyiapkan tanaman, Darrien akhirnya menghampiri Elarion.

“Elarion.”

“Hm?”

“Aku ingin bertanya.”

“Tanyakan.”

Darrien terdiam cukup lama.

“Kenapa aku merasa kesal ketika orang lain mendekati Fiona?”

Elarion yang sedang membersihkan botol berhenti.

Ia menatap Darrien.

“Orang lain?”

“Seorang pemuda tadi.”

“Yang menanyakan jalan?”

Darrien mengangguk.

Elarion tersenyum kecil.

“Dan kau tidak suka dia berbicara dengan Fiona?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Darrien langsung menjawab,

“Karena dia terlalu dekat.”

Elarion menahan senyum.

“Apakah dia melakukan sesuatu yang salah?”

Darrien terdiam.

“…Tidak.”

“Apakah dia mengancam Fiona?”

“Tidak.”

“Apakah dia menyakitinya?”

“Tidak.”

“Lalu?”

Darrien tidak bisa menjawab.

Elarion meletakkan botol di atas meja.

“Darrien.”

“Hm?”

“Ada perasaan yang muncul ketika seseorang merasa orang yang sangat penting baginya mungkin akan menjadi dekat dengan orang lain.”

Darrien mengerutkan kening.

“Perasaan apa?”

“Bisa jadi cemburu.”

“Cemburu?”

“Ya.”

Darrien terdiam.

Ia memikirkan kejadian tadi.

Kemudian wajahnya sedikit berubah.

“Kenapa aku harus cemburu?”

Elarion tersenyum.

“Itulah yang harus kau tanyakan kepada dirimu sendiri.”

Darrien menunduk.

Ia tidak mengerti.

Fiona adalah Fiona.

Gadis yang telah bersamanya sejak mereka masih kecil.

Orang yang selalu ia lindungi.

Orang yang selalu ada di sisinya.

Lalu mengapa sekarang keberadaan orang lain di dekat Fiona terasa begitu mengganggunya?

Darrien menghela napas.

“Aku tidak suka perasaan ini.”

Elarion tertawa kecil.

“Kau tidak harus menyukainya.”

“Lalu?”

“Pahami saja.”

Darrien menatapnya.

“Perasaan bukan sesuatu yang bisa kau perintahkan untuk datang atau pergi.”

Darrien terdiam.

Dari luar rumah, suara Fiona terdengar.

“Darrien!”

Ia langsung menoleh.

Fiona berdiri di dekat pintu.

“Bantu aku membawa ini!”

Darrien segera bangkit.

“Ya.”

Ia berjalan menghampirinya.

Fiona tersenyum.

Darrien membalas senyumnya.

Dan entah kenapa…

rasa tidak nyaman yang tadi memenuhi dadanya perlahan menghilang.

Elarion hanya memperhatikan mereka dari belakang.

Ia tersenyum tipis.

Anak itu belum mengerti.

Namun perlahan, ia mulai belajar bahwa ada beberapa perasaan yang jauh lebih sulit dikendalikan daripada sihir.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience