Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 286 — DESSERT YANG MENGHILANGKAN JEJAK
Pasar Cahaya kembali ramai ketika rombongan itu akhirnya tiba di kios dessert yang selama seminggu terakhir menjadi bahan pembicaraan.
Fiona langsung memperlambat langkah.
Aroma manis yang keluar dari kios itu berbeda dari makanan yang pernah ia temui sebelumnya.
Ia menatap berbagai dessert yang tersusun rapi di depan kios.
“Yang mana yang paling terkenal?”
Darrien tersenyum kecil.
“Bukankah kau ingin mencoba semuanya?”
Fiona menoleh.
“…Mungkin.”
Ace tertawa dari belakang.
“Jawaban yang sangat jujur.”
Fiona mengabaikannya.
Perhatiannya sudah tertuju pada dessert di depannya.
Bentuknya indah.
Teksturnya berbeda.
Dan beberapa di antaranya menggunakan bahan yang bahkan tidak pernah Fiona lihat di Veyth.
Ia mencicipi satu.
Matanya langsung berbinar.
“Enak…”
Darrien memperhatikannya.
“Benarkah?”
Fiona mengangguk cepat.
“Ini berbeda dari semua dessert yang pernah aku coba.”
Ia kemudian menoleh kepada Darrien dan yang lainnya.
“Kalau ini dibawa ke Veyth…”
Senyumnya semakin lebar.
“…pasti akan keren.”
Giselle, yang berdiri di balik meja, tersenyum.
“Terima kasih sudah menyukainya.”
Fiona menoleh kepadanya.
Giselle membungkuk sedikit.
“Merupakan kesenangan bagiku jika kalian menikmati dessert yang kubuat.”
Fiona kembali melihat dessert di tangannya.
Kemudian sebuah pikiran muncul.
“Kalau begitu…”
Ia menatap Giselle.
“Bolehkah aku belajar membuatnya?”
Giselle terdiam.
Hanya sesaat.
Namun cukup untuk membuat senyum kecil di wajahnya berhenti.
“Belajar?”
Fiona mengangguk.
“Ya.”
Ia menunjuk dessert tersebut.
“Aku ingin mencoba membuatnya sendiri setelah kami kembali ke Veyth.”
Giselle menatap Fiona.
Kemudian matanya bergerak ke arah rombongan.
Darrien.
Elyon.
Elarion.
Ace.
Rowan.
Kevin.
Seolah meminta persetujuan tanpa mengatakannya secara langsung.
Darrien akhirnya tersenyum.
“Kalau Fiona ingin belajar, tidak masalah.”
Elyon mengangguk.
“Selama tidak membutuhkan waktu terlalu lama.”
Ace tersenyum.
“Biarkan saja. Dia terlihat sangat tertarik.”
Rowan ikut mengangguk.
“Belajar sesuatu yang baru tidak buruk.”
Kevin hanya berkata,
“Tidak masalah.”
Fiona langsung tersenyum lebar.
“Benarkah?”
Darrien mengangguk.
“Pergilah.”
Giselle akhirnya tersenyum kembali.
“Tentu.”
Ia keluar dari balik meja.
“Kalau begitu, ikut aku.”
***
Fiona mengikuti Giselle menuju bagian dalam kios.
Darrien memperhatikan mereka sampai pintu kecil menuju dapur tertutup.
Kios itu ternyata jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar.
Ada ruang depan untuk pelanggan.
Beberapa meja.
Sebuah aula kecil di bagian tengah.
Dan dapur yang berada di bagian belakang.
Darrien memandang sekeliling.
“Cukup luas.”
Elyon mengangguk.
“Untuk sebuah kios, memang lebih besar dari biasanya.”
Darrien tidak terlalu memikirkannya.
Ia kemudian duduk bersama yang lainnya.
Mereka mulai berbincang.
Ace membicarakan senjata yang ia lihat di pasar.
Rowan menunjukkan sebagian isi buku yang baru ditemukannya.
Elarion bahkan membawa beberapa catatan mengenai bahan herbal yang ingin ia cari.
Kevin mendengarkan percakapan mereka dengan tenang.
Semuanya terasa normal.
Sangat normal.
***
Di dalam dapur—
Fiona berdiri di samping Giselle.
Ia memperhatikan setiap bahan yang disiapkan.
“Jadi ini yang digunakan?”
“Ya.”
Giselle tersenyum.
“Namun ada beberapa langkah khusus.”
Fiona mendekat.
“Boleh aku lihat?”
“Tentu.”
Giselle mulai menjelaskan.
Fiona mendengarkan dengan penuh perhatian.
Ia bahkan beberapa kali bertanya.
“Kalau yang ini?”
“Tambahkan setelah yang pertama.”
“Oh…”
Fiona mengangguk.
Kemudian tersenyum.
“Aku harus mengingat semuanya.”
Giselle tersenyum.
“Tidak perlu terburu-buru.”
Ia mengambil sebuah wadah.
“Pelan-pelan saja.”
Fiona mengangguk.
Tidak ada yang terasa aneh.
Tidak ada suara perkelahian.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada tanda bahaya.
Hanya suara peralatan dapur yang sesekali terdengar.
***
Di aula depan—
Darrien masih berbicara dengan yang lainnya.
Beberapa menit berlalu.
Kemudian—
ia berhenti.
Tatapannya secara refleks menuju pintu dapur.
Sunyi.
Tidak ada suara Fiona.
Darrien kembali berbicara.
Mungkin mereka sedang memasak.
Beberapa menit lagi berlalu.
Tetap tidak ada suara.
Elyon juga mulai memperhatikan.
“Sudah cukup lama.”
Kevin mengangguk.
“Benar.”
Ace menoleh ke arah dapur.
“Mungkin sedang sibuk.”
Rowan tersenyum.
“Fiona mungkin terlalu fokus belajar.”
Darrien tidak menjawab.
Ia masih menatap pintu itu.
Entah mengapa—
ada sesuatu yang terasa salah.
Namun belum cukup untuk membuatnya berdiri.
Di luar—
Pasar Cahaya tetap ramai.
Suara pedagang masih terdengar.
Orang-orang masih berlalu-lalang.
Tidak ada yang menyadari bahwa di dalam sebuah kios dessert—
sebuah jebakan telah tertutup.
Dan Fiona—
telah menghilang dari jangkauan mereka.
Sementara itu, Giselle sudah membawa Fiona jauh dari pasar.
Dan beberapa saat kemudian—
pintu dapur yang kosong itu menjadi satu-satunya petunjuk yang tersisa.
