Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 368 — JANGAN PISAHKAN AKU LAGI
Pagi kembali tiba di Istana Lunaris.
Namun suasana di area latihan terasa berbeda.
Darrien sudah berdiri di tengah lapangan.
Diam.
Tidak bergerak.
Tatapannya lurus ke depan.
Kevin datang beberapa saat kemudian.
Ia berhenti ketika melihat Darrien.
Biasanya—
Darrien akan mengeluh.
Atau membuat lelucon.
Atau setidaknya menghela napas panjang ketika melihat Kevin datang.
Hari ini—
tidak ada apa-apa.
Hanya diam.
Kevin mengangkat alis.
“Kau baik-baik saja?”
Tidak ada jawaban.
Darrien tetap menatap ke depan.
Kevin berjalan mendekat.
“Darrien.”
Masih diam.
Fiona yang berdiri di luar barrier juga memperhatikan.
Ada sesuatu yang berbeda pada dirinya.
Bukan sekadar lelah.
Bukan sekadar kesal karena latihan.
Tatapan Darrien terlalu tenang.
Namun justru karena terlalu tenang—
Fiona bisa merasakan sesuatu yang lebih dalam.
Ia tahu ada sesuatu yang terjadi.
Namun ia tidak bertanya.
***
Kevin berdiri di hadapan Darrien.
“Kalau ada sesuatu yang mengganggumu, katakan.”
Darrien akhirnya menarik napas.
“Aku baik-baik saja.”
Kevin menatapnya.
“Kau berbohong.”
Darrien tidak menjawab.
Pikirannya masih berada di dalam mimpi tadi malam.
Danau.
Bulan.
Fiona.
Grandmaster Darrien.
Tangan mereka.
Penghalang.
Teriakan Fiona.
Dan tangan yang hampir bersentuhan—
namun tidak pernah berhasil.
Dadanya terasa sesak ketika mengingatnya.
Darrien mengepalkan tangan.
*Tidak lagi.*
Jika sesuatu seperti itu benar-benar pernah terjadi—
jika suatu hari nanti ada kekuatan yang mencoba memisahkan Fiona darinya—
ia tidak akan membiarkannya terjadi.
Tidak peduli apa pun yang harus ia lakukan.
***
Kevin akhirnya mengambil posisi.
“Baik.”
Ia mengangkat tangan.
“Kalau kau tidak ingin berbicara…”
Senyumnya tipis.
“…maka bertarunglah.”
Darrien mengangkat wajah.
“Aku memang ingin bertarung.”
Kevin tersenyum.
“Bagus.”
***
**WHOOSH!**
Kevin menyerang lebih dulu.
Darrien menghindar.
Namun kali ini—
gerakannya berbeda.
Lebih tenang.
Lebih tajam.
Tidak ada gerakan yang sia-sia.
Kevin mengayunkan tangan.
Darrien menunduk.
Serangan berikutnya datang dari samping.
Darrien memutar tubuh.
Menghindar.
Kemudian—
dark magic muncul.
Tipis.
Padat.
Terkontrol.
Darrien mengarahkan telapak tangannya.
**BOOM!**
Kevin menahan serangan itu.
Tanah di bawah kaki mereka retak.
Kevin tersenyum.
“Begitu.”
Darrien tidak menjawab.
Ia langsung bergerak lagi.
***
Dark magic mengalir di sepanjang lengannya.
Tidak ada chanting panjang.
Hanya silent chant.
Sebuah perintah dalam pikirannya.
Magicure merespons.
Darrien bergerak.
Satu langkah.
Kemudian dua.
Ia menghilang dari pandangan.
Kevin berbalik.
Darrien sudah berada di belakangnya.
**CLANG!**
Kevin menahan serangan.
Keduanya bertukar serangan dengan kecepatan tinggi.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada ejekan.
Tidak ada tawa.
Hanya suara benturan.
**BOOM!**
**WHOOSH!**
**THUD!**
Darrien terus bergerak.
Namun pikirannya tidak hanya memikirkan Kevin.
Ia membayangkan sesuatu yang lain.
Sebuah penghalang.
Sebuah dinding yang memisahkannya dari Fiona.
Darrien mengangkat tangannya.
Dark magic berkumpul.
Lebih dalam.
Lebih padat.
Ia menekan magicure-nya sampai terasa seperti satu titik.
Kevin melihat perubahan itu.
“Jangan kehilangan kendali.”
“Aku tidak akan.”
Darrien mengarahkan telapak tangannya.
**BOOM!**
Gelombang dark magic melesat.
Kevin menahannya.
Namun kali ini—
kakinya terdorong beberapa langkah.
Kevin tersenyum.
“Lebih kuat.”
Darrien menatapnya.
“Bukan cukup.”
Kevin mengangkat alis.
“Belum puas?”
Darrien menggeleng.
“Belum.”
***
Darrien kembali menyerang.
Ia tidak menggunakan kekuatan besar secara sembarangan.
Justru sebaliknya.
Ia semakin menghemat magicure.
Gerakannya menjadi semakin efisien.
Silent chant.
Gerakan tubuh.
Dark magic.
Semuanya menyatu.
Kevin mulai menaikkan kecepatannya.
Darrien mengikutinya.
Lebih cepat.
Lebih tajam.
Lebih tenang.
Sampai—
Kevin tiba-tiba menciptakan sebuah barrier kecil di antara mereka.
Darrien membeku.
Hanya sepersekian detik.
Namun matanya langsung berubah.
*Barrier.*
Bayangan mimpi tadi malam muncul kembali.
Fiona di sisi lain.
Tangan mereka terpisah.
Teriakan.
Ketakutan.
Darrien langsung bergerak.
Dark magic meledak dari tubuhnya.
**BOOM!**
Barrier Kevin pecah.
Kevin mundur.
Darrien berdiri di depannya.
Napasnya berat.
Namun tatapannya tetap tenang.
Kevin memperhatikannya.
“…”
Ia akhirnya memahami.
“Jadi itu yang ada di pikiranmu.”
Darrien tidak menjawab.
Kevin mengangkat tangan.
“Sekali lagi.”
Darrien mengangguk.
***
Di luar barrier—
semua orang terdiam.
Ace menatap Darrien.
“Dia…”
Rowan mengangguk.
“Ya.”
Elarion menyilangkan tangan.
“Berbeda.”
Elyon memperhatikan dengan serius.
“Dia tidak bertarung seperti biasanya.”
Fiona tidak berkata apa-apa.
Matanya tetap tertuju pada Darrien.
Ia bisa merasakan emosinya.
Tenang.
Namun di bawah ketenangan itu—
ada sesuatu yang jauh lebih kuat.
Ketakutan.
Bukan takut terhadap Kevin.
Bukan takut kalah.
Melainkan takut kehilangan sesuatu.
Ace akhirnya berbisik,
“Haruskah kita menghentikan mereka?”
Rowan menggeleng.
“Kevin masih mengendalikan situasi.”
Ace melihat Kevin yang baru saja terpental beberapa meter.
“…Yakin?”
Rowan terdiam.
“Setidaknya aku berharap begitu.”
Elarion tertawa kecil.
“Jangan khawatir.”
Ia menunjuk Darrien.
“Dia masih sadar.”
Ace mengangguk.
“Benar.”
Kemudian ia melihat Kevin.
“…Tapi Kevin terlihat terlalu bahagia.”
Semua terdiam.
Elyon menghela napas.
“Itu masalah lain.”
***
Di dalam barrier—
Kevin kembali berdiri.
Ia mengusap sedikit debu dari pakaiannya.
“Darrien.”
Darrien menatapnya.
“Ya?”
“Jangan mencoba menjadi Grandmaster masa lalu.”
Darrien terdiam.
Kevin melanjutkan.
“Gunakan apa yang kau miliki sekarang.”
“Biarkan tubuhmu belajar.”
“Jangan mengejar sesuatu yang belum waktunya kembali.”
Darrien menarik napas.
Kemudian mengangguk.
“Baik.”
Kevin mengambil posisi.
“Sekarang…”
Ia tersenyum.
“…coba lagi.”
Darrien mengangkat tangannya.
Dark magic kembali muncul.
Namun kali ini—
lebih tenang.
Tidak ada kemarahan yang meledak.
Hanya tekad.
Ia mengingat satu hal.
*Jika suatu hari nanti ada sesuatu yang mencoba memisahkan kami lagi…*
Tangannya mengepal.
*Aku akan menghancurkannya.*
***
Latihan kembali dimulai.
Kevin menyerang.
Darrien menghindar.
Darrien membalas.
Kevin menahan.
Mereka bergerak semakin cepat.
Namun kali ini—
Darrien tidak lagi berusaha memaksa dirinya menjadi seseorang dari masa lalu.
Ia hanya belajar.
Sedikit demi sedikit.
Gerakan demi gerakan.
Magicure demi magicure.
Sampai tubuhnya sendiri mulai memahami sesuatu yang pikirannya belum mampu ingat.
Di luar barrier—
Fiona masih memperhatikan.
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi—
senyum kecil muncul di wajahnya.
Bukan karena Darrien menang.
Bukan karena kekuatannya meningkat.
Namun karena ia tahu—
Darrien sedang berusaha.
Bukan untuk menjadi Grandmaster.
Melainkan untuk menjadi seseorang yang bisa berdiri di sisinya.
Dan bagi Fiona—
itu sudah lebih dari cukup.
