Series
94
BAB 39
TANDA DARAH YANG TERSEMBUNYI
Beberapa hari berlalu setelah Ace pertama kali mencoba berbicara dengan Darrien.
Ia masih mengawasi dari kejauhan.
Namun semakin lama ia memperhatikan anak itu, semakin kuat keyakinannya bahwa ada sesuatu yang berbeda.
Bukan dari wajah.
Wajah Darrien terlihat seperti manusia biasa.
Rambutnya.
Kulitnya.
Bentuk telinganya.
Semuanya tidak menunjukkan ciri khas bangsa Dark Elf.
Bahkan Ace sendiri tidak akan mengira anak itu memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan hanya dengan melihatnya.
Namun ada satu hal yang tidak bisa disembunyikan selamanya.
Darah.
Hari itu, Ace kembali mengamati latihan mereka dari balik pepohonan.
Darrien sedang berlatih pedang bersama Elarion.
Fiona duduk tidak jauh dari mereka.
“Sekali lagi,” kata Elarion.
Darrien maju.
Ia menyerang.
Elarion menangkis.
Gerakan mereka cepat.
Kemudian pedang latihan Darrien terpental.
Ujung kayu pedang Elarion mengenai lengannya.
Tidak terlalu keras.
Namun cukup untuk membuat kulit Darrien tergores.
Darah muncul.
Darrien melihat lukanya.
“Aku baik-baik saja.”
Namun Ace yang mengawasi dari kejauhan tiba-tiba membeku.
Ada sesuatu yang terasa berbeda.
Ia menggunakan sihir pengindraannya.
Sangat samar.
Namun darah yang menetes dari luka Darrien membawa aura dingin yang tidak mungkin dimiliki manusia biasa.
Ace mempersempit matanya.
“Tidak…”
Darrien mengusap luka itu.
Beberapa tetes darah jatuh ke tanah.
Hawa dingin menyebar sangat tipis.
Elarion juga memperhatikannya.
“Kau merasakan itu?”
Darrien menatap tangannya.
“Ya.”
“Jangan biarkan emosimu memengaruhinya.”
Darrien menarik napas.
Hawa dingin perlahan menghilang.
Fiona segera mendekat.
“Lukamu.”
“Tidak apa-apa.”
Fiona menyentuh lengannya.
Cahaya keemasan muncul dan menutup luka tersebut.
Ace masih berdiri diam di balik pepohonan.
Matanya tidak pernah meninggalkan Darrien.
Ia pernah melihat aura darah itu.
Bertahun-tahun lalu.
Ketika masih bertugas di istana.
Ketika Pangeran kecil masih bayi.
Ace mengingat malam ketika ia pertama kali menggendong sang pewaris.
Bahkan saat itu, darah sang bayi memiliki hawa dingin yang khas.
Hawa yang tidak dimiliki Dark Elf biasa.
Hawa darah kerajaan Veyth.
Ace menarik napas panjang.
“Jadi benar…”
Namun ia belum bergerak.
Ia masih membutuhkan satu bukti terakhir.
Malam itu, Ace kembali menggunakan kristal komunikasi.
“Yang Mulia.”
Cahaya kristal muncul.
Edward dan Gloria muncul di permukaannya.
“Ace?”
“Aku sudah mendapatkan petunjuk yang jauh lebih kuat.”
Edward langsung menatapnya.
“Apa yang kau temukan?”
“Darahnya.”
Gloria terdiam.
Ace melanjutkan.
“Anak itu memiliki aura darah yang sama dengan garis keturunan Veyth.”
Edward berdiri.
“Kau yakin?”
“Belum pernah ada keraguan seperti ini sebelumnya.”
Ace menundukkan kepala.
“Wajahnya memang tidak menyerupai keluarga kerajaan.”
“Namun auranya…”
Ia menarik napas.
“Persis seperti darah pewaris yang pernah saya rasakan bertahun-tahun lalu.”
Gloria menutup mulutnya.
Air mata kembali memenuhi matanya.
“Darrien…”
Nama itu keluar hampir seperti bisikan.
Edward mengepalkan tangannya.
“Apakah kau yakin dia adalah putra kami?”
Ace terdiam beberapa detik.
Kemudian menjawab,
“Sekarang…”
Tatapannya menjadi tegas.
“Ya, Yang Mulia.”
Ruangan kerajaan menjadi sunyi.
Edward menatap Gloria.
Gloria menangis tanpa suara.
Bertahun-tahun mereka menunggu.
Bertahun-tahun mereka tidak memiliki jawaban.
Dan sekarang…
jawaban itu akhirnya datang.
Putra mereka masih hidup.
Namun Ace belum selesai.
“Ada satu masalah.”
Edward menatapnya.
“Apa?”
“Pangeran tidak tahu siapa dirinya.”
Gloria terdiam.
Ace melanjutkan.
“Dia percaya dirinya hanya seorang anak biasa.”
“Dan dia memiliki seseorang yang sangat dekat dengannya.”
“Seorang gadis bernama Fiona.”
Edward mengangguk perlahan.
“Kalau begitu jangan ganggu mereka.”
Ace terkejut.
“Yang Mulia?”
“Jika anak itu telah hidup bertahun-tahun tanpa mengetahui dirinya seorang pangeran…”
Edward menatap Gloria.
“…kita tidak boleh menghancurkan kehidupannya hanya karena kita akhirnya menemukannya.”
Gloria menghapus air matanya.
“Awasi dia.”
“Lindungi dia dari jauh.”
“Dan tunggu.”
Ace menundukkan kepala.
“Baik, Yang Mulia.”
Cahaya kristal padam.
Ace kembali menatap rumah kecil di tengah hutan.
Kini ia tidak lagi mencari seorang anak yang mungkin merupakan pewaris.
Ia sedang menjaga seorang pangeran.
Namun Darrien sendiri belum mengetahuinya.
Dan untuk sementara…
Ace akan membiarkannya tetap begitu.
Share this novel