Series
94
BAB 99
WAJAH YANG DISEGEL
Malam telah semakin larut ketika Kevin akhirnya menutup buku terakhir.
“Cukup.”
Ace yang duduk di seberangnya langsung mengangkat kepala.
“Menyerah?”
“Bukan.”
Kevin mendorong beberapa dokumen ke samping.
“Kita berhenti mencari catatan tentang kekacauan lama.”
Rowan menatapnya.
“Kenapa?”
Kevin menunjuk satu catatan.
“Karena kita terus mencari jawaban di masa lalu, sementara masalahnya sedang terjadi pada Darrien sekarang.”
Elarion mengangguk perlahan.
“Wajahnya.”
Kevin mengangguk.
“Penyamaran itu.”
Ace bersandar di kursinya.
“Retakannya semakin sering.”
“Dan setiap kali muncul,” lanjut Kevin, “kita melihat bagian dari wajah aslinya.”
Rowan mengambil sebuah catatan.
“Kalau begitu kita harus mencari tahu jenis sihir apa yang digunakan untuk menyegel wajahnya.”
Elarion menatap Darrien yang saat itu sedang berada di taman bersama Fiona.
“Bukan hanya jenis sihirnya.”
Ia berhenti.
“Kita perlu mengetahui siapa yang membuatnya.”
Ruangan kembali hening.
Ace menyilangkan tangan.
“Kalau penyamaran itu dibuat untuk menyembunyikan identitas…”
Kevin melanjutkan,
“…maka mungkin ada alasan mengapa wajah aslinya harus disembunyikan.”
Rowan membuka beberapa buku lama.
“Ini bagian yang sulit.”
“Apa?”
“Tidak semua sihir penyamaran bekerja dengan cara yang sama.”
Ia membalik halaman.
“Sebagian hanya mengubah penampilan.”
“Sebagian?”
“Sebagian lainnya benar-benar menekan karakteristik ras tertentu.”
Elarion langsung menatapnya.
“Karakteristik ras?”
Rowan mengangguk.
“Telinga. Mata. Aura. Bahkan struktur wajah.”
Ace mengerutkan kening.
“Jadi penyamaran Darrien bukan sekadar ilusi.”
“Sepertinya tidak.”
Kevin mengambil sebuah kristal pemeriksa kecil.
“Kalau benar, maka retakan yang kita lihat bukan kegagalan biasa.”
Ia meletakkan kristal tersebut di atas meja.
“Mungkin segelnya sedang kehilangan kestabilan.”
Elarion menghela napas.
“Dan jika segelnya benar-benar pecah?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Rowan akhirnya berkata,
“Wajah aslinya akan terlihat sepenuhnya.”
Ace menatap ke arah taman.
“Dan semua orang yang melihatnya mungkin akan tahu bahwa dia bukan manusia biasa.”
Kevin mengangguk.
“Itulah yang harus kita cegah.”
Elarion menatap mereka.
“Bukan selamanya.”
Kevin menoleh.
“Apa maksudmu?”
“Jika wajah itu memang bagian dari dirinya…”
Elarion berkata pelan,
“…kita tidak bisa terus menyembunyikannya hanya karena kita takut dengan apa yang akan terjadi setelahnya.”
Kevin terdiam.
Ace mengangguk perlahan.
“Jadi kita bukan mencari cara untuk mempertahankan penyamaran itu.”
“Benar,” jawab Elarion.
“Kita mencari tahu bagaimana cara mengendalikannya.”
Rowan tersenyum tipis.
“Sekarang itu penelitian yang lebih berguna.”
***
Mereka mulai membagi tugas.
Kevin memeriksa teori sihir penyegelan.
Ace mencari catatan mengenai teknik penyamaran ras.
Rowan membuka arsip lama mengenai ritual perubahan penampilan.
Elarion memeriksa catatan yang berhubungan dengan darah dan aura.
Tidak ada yang berbicara tentang kerajaan.
Tidak ada yang membahas Ardika.
Tidak ada yang mencoba memecahkan seluruh misteri dalam satu malam.
Mereka hanya ingin memahami satu hal.
**Apa yang sebenarnya terjadi pada wajah Darrien?**
***
Di taman—
Darrien sedang duduk bersama Fiona.
Fiona masih memainkan daun perak yang kini tergantung di lehernya.
“Darrien.”
“Hm?”
“Menurutmu bagus?”
“Sudah kau tanyakan tiga kali.”
“Karena aku masih senang.”
Darrien tersenyum.
“Bagus.”
Fiona menyentuh kalungnya.
“Terima kasih sudah membantuku membuatnya.”
Darrien menatapnya.
“Aku hanya memberi sedikit ide.”
“Tetap saja.”
Ia tersenyum.
Kemudian—
Darrien tiba-tiba menyentuh sisi wajahnya.
Fiona langsung memperhatikannya.
“Retak lagi?”
Darrien mengangguk.
“Sedikit.”
Fiona mendekat.
Ia melihat garis tipis yang muncul di dekat rahangnya.
Tidak separah sebelumnya.
Namun cukup untuk membuatnya khawatir.
“Apakah sakit?”
“Tidak.”
Darrien mengusap wajahnya.
“Hanya terasa… seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam.”
Fiona menggenggam tangannya.
“Kalau begitu jangan paksa.”
Darrien tersenyum.
“Baik.”
Di balik jendela—
Kevin melihat mereka.
Ia kemudian kembali kepada tiga orang lainnya.
“Kita harus menemukan jawabannya sebelum segel itu pecah sendiri.”
Elarion mengangguk.
“Besok kita lanjutkan.”
Rowan menutup buku.
Ace menguap.
“Untuk malam ini, aku setuju.”
Mereka akhirnya meninggalkan arsip.
Untuk pertama kalinya—
mereka tidak mengejar jawaban tentang masa lalu.
Mereka hanya mencoba memahami **Darrien yang sekarang.**
Dan tanpa mereka sadari—
sebuah retakan kecil di wajah Darrien perlahan mulai membentuk pola yang berbeda.
Bukan sekadar retakan.
Melainkan—
**awal dari sesuatu yang sedang terbangun.**
Share this novel