10. Malam Untuk Melarikan Diri

Romance Series 94

BAB 10
MALAM UNTUK MELARIKAN DIRI

Darrien tidak langsung membangunkan Fiona.

Ia berdiri di dekat jendela, mengamati bayangan di halaman. Maria masih berbicara dengan beberapa orang asing, tetapi suara mereka terlalu jauh untuk didengar dengan jelas.

Namun Darrien bisa melihat satu hal.

Maria beberapa kali menatap ke arah panti.

Ke arah kamar mereka.

Dadanya terasa sesak.

Mereka tidak punya waktu lagi.

Darrien berbalik dan menghampiri Fiona.

“Fiona.”

Gadis itu perlahan membuka mata.

“Ada apa?”

“Kita pergi.”

Fiona langsung bangun.

“Malam ini?”

Darrien mengangguk.

“Sekarang.”

Ia segera mengambil tas kecil yang telah disiapkannya dari bawah papan kayu longgar. Isinya hanya beberapa potong pakaian, makanan kering, sebotol air, dan daun perak yang selama ini disimpan Fiona.

Fiona mengenakan sepatunya tanpa suara.

Mereka tidak banyak bicara.

Mereka telah menghabiskan hampir seluruh hidup mereka di tempat ini.

Meninggalkannya terasa menakutkan.

Tetapi tetap tinggal jauh lebih menakutkan.

Darrien membuka jendela perlahan.

Udara malam masuk ke dalam kamar.

Dingin.

Segar.

Bebas.

Darrien keluar lebih dulu dan turun dengan hati-hati ke tanah.

Kemudian ia mengangkat kedua tangannya.

“Ayo.”

Fiona memanjat keluar melalui jendela.

Sesaat ia ragu.

Darrien segera menggenggam tangannya.

“Aku akan menangkapmu.”

Fiona melompat.

Darrien berhasil menangkapnya.

Mereka mendarat di atas rumput tanpa suara.

Fiona menoleh ke arah panti.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Ini rumah kita…”

Darrien ikut memandang bangunan gelap itu.

“Aku tahu.”

Ia menggenggam tangan Fiona.

“Tapi kita bisa menemukan rumah yang baru.”

Tiba-tiba terdengar suara dari dalam panti.

Sebuah pintu terbuka.

Ekspresi Darrien berubah.

“Lari.”

Mereka segera bergerak.

Melewati halaman belakang, memanjat pagar kayu tua, lalu masuk ke jalan kecil yang menuju keluar kota.

Fiona berusaha mengikuti langkah Darrien, tetapi napasnya mulai berat.

“Darrien…”

“Terus jalan.”

“Aku tidak bisa…”

Darrien langsung berhenti.

“Kau terluka?”

Fiona menggeleng.

“Cuma lelah.”

Darrien mengambil tas dari bahunya.

“Aku yang bawa.”

“Tapi—”

“Aku lebih kuat.”

Fiona menatapnya sebentar sebelum akhirnya mengangguk.

Mereka kembali berlari.

Kemudian terdengar teriakan dari arah panti.

“Mereka kabur!”

Wajah Fiona memucat.

Darrien menggenggam tangannya lebih erat.

“Jangan berhenti.”

Lampu-lampu Akasia perlahan menghilang di belakang mereka.

Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, dua anak itu meninggalkan satu-satunya rumah yang pernah mereka kenal.

Mereka tidak tahu di mana akan tidur.

Tidak tahu apa yang akan mereka makan esok hari.

Bahkan tidak tahu ke mana jalan di depan mereka akan membawa.

Namun mereka masih bersama.

Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.

Di belakang mereka, Maria keluar ke halaman dan menatap jendela yang terbuka.

Wajah ramah yang selama ini ia tunjukkan kepada Margaret telah menghilang sepenuhnya.

“Cari mereka.”

Beberapa pria segera berpencar ke dalam kegelapan.

Sementara itu, Darrien dan Fiona terus berlari semakin jauh dari Akasia.

Mereka tidak tahu bahwa malam itu bukan hanya akhir dari kehidupan mereka di panti asuhan.

Itu adalah awal dari perjalanan menuju dunia yang jauh lebih luas—dan jauh lebih kejam.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience