33. Sebuah Hari Yang Terasa Berbeda

Romance Series 94

BAB 33
SEBUAH HARI YANG TERASA BERBEDA

Pagi itu, Elarion memberikan mereka sebuah tugas sederhana.

“Pergilah ke sungai sebelah utara.”

Fiona mengambil keranjang kecil.

“Untuk apa?”

“Ambil beberapa bunga bulan.”

Darrien mengambil tasnya.

“Berapa banyak?”

“Sepuluh.”

Fiona tersenyum.

“Baik.”

Elarion menyerahkan sebuah kantong kecil kepada Darrien.

“Dan jangan kembali sebelum kalian menemukan semuanya.”

Darrien mengangguk.

Mereka pun berjalan meninggalkan rumah.

Awalnya perjalanan terasa seperti biasa.

Fiona berjalan sambil memetik beberapa bunga liar di sepanjang jalan.

Darrien membawa keranjang.

Namun setelah beberapa menit, Fiona tiba-tiba menyadari sesuatu.

Ia dan Darrien berjalan terlalu dekat.

Bahu mereka beberapa kali hampir bersentuhan.

Fiona bergeser sedikit.

Darrien ikut bergeser.

Mereka kembali berjalan beberapa langkah.

Kemudian Fiona meliriknya.

“Kenapa kau ikut bergeser?”

Darrien menoleh.

“Apa?”

“Tidak apa-apa.”

Fiona kembali melihat ke depan.

Darrien mengerutkan kening.

“Kau aneh akhir-akhir ini.”

Fiona langsung membalas,

“Kau juga.”

“Aku?”

“Ya.”

“Kenapa?”

Fiona tidak menjawab.

Mereka terus berjalan.

Saat sampai di sungai, Fiona mulai mencari bunga bulan.

Bunga itu tumbuh di dekat bebatuan yang lembap.

Darrien membantu mencarinya.

“Di sini ada tiga.”

Fiona mengambilnya.

“Bagus.”

Kemudian ia melihat bunga lain di tengah sungai kecil.

“Itu!”

Fiona melangkah maju.

Batu yang diinjaknya licin.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

“Fiona!”

Darrien langsung menangkap tangannya.

Fiona berhenti tepat sebelum jatuh ke air.

Beberapa detik mereka hanya saling menatap.

Darrien masih memegang tangannya.

“Kau tidak apa-apa?”

Fiona mengangguk perlahan.

“Tidak.”

Namun ketika menyadari tangan mereka masih saling menggenggam, wajah Fiona langsung memanas.

Darrien juga menyadarinya.

Ia segera melepaskan tangan Fiona.

“Maaf.”

“Tidak apa-apa.”

Keduanya memalingkan wajah.

Suasana menjadi aneh.

Sangat aneh.

Fiona akhirnya berjongkok dan pura-pura sibuk mengambil bunga.

Darrien menatap sungai.

“Ayo kita selesaikan.”

“Ya.”

Beberapa saat kemudian, Fiona akhirnya bertanya,

“Darrien.”

“Hm?”

“Kalau aku jatuh tadi…”

“Aku akan menangkapmu.”

“Bukan itu.”

Fiona memainkan ujung bunganya.

“Kalau suatu hari nanti aku benar-benar pergi jauh…”

Darrien menatapnya.

“Kau mau pergi ke mana?”

“Aku tidak tahu.”

Ia tersenyum kecil.

“Mungkin ke kota besar.”

Darrien diam.

Kemudian menjawab,

“Kalau kau pergi, aku ikut.”

Fiona menatapnya.

“Kenapa?”

Darrien terlihat bingung dengan pertanyaan itu.

“Karena…”

Ia berhenti.

Seolah baru menyadari bahwa jawabannya tidak sesederhana dulu.

“Karena aku sudah terbiasa bersamamu.”

Fiona tersenyum.

“Begitu?”

“Ya.”

Ia mengambil keranjang.

“Ayo pulang.”

Fiona mengikutinya.

Namun kali ini, ia berjalan sedikit lebih dekat.

Dan ketika tangan mereka tanpa sengaja bersentuhan—

tidak ada yang menjauh.

Jauh di belakang mereka, di rumah, Elarion sedang menyiapkan ramuan.

Ia berhenti sejenak.

Entah kenapa, ia merasa suasana hutan hari itu sedikit berbeda.

Ia tersenyum kecil.

“Anak-anak…”

Kemudian ia kembali bekerja.

Beberapa perasaan tidak perlu dipaksa untuk tumbuh.

Cukup diberi waktu.

Dan waktu…

masih menjadi milik mereka.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience