61. Tanggal Yang Ditetapkan

Romance Series 94

BAB 61
TANGGAL YANG DITETAPKAN

Jamuan keluarga Ardika berlangsung hingga larut malam.

Setelah makanan terakhir disajikan, Keith Varian akhirnya meletakkan cangkirnya.

“Surya.”

Surya yang duduk di seberangnya menatapnya.

“Ya?”

“Kita sudah menunggu cukup lama.”

Suasana di meja langsung berubah.

Susanti menatap suaminya.

Marcus yang berdiri di belakang Surya juga memperhatikan.

Keith melanjutkan,

“Saya ingin kita menetapkan tanggal pernikahan.”

Surya terdiam.

Ia sudah menduga hal itu akan terjadi.

Namun mendengarnya secara langsung tetap membuat dadanya terasa berat.

“Tentu.”

Keith mengangguk.

“Bagaimana jika satu bulan dari sekarang?”

Clara menoleh kepada suaminya.

“Bukankah itu terlalu cepat?”

Keith menggeleng.

“Kita sudah menunggu satu tahun.”

Clark yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

“Sebulan?”

Keith menatap putranya.

“Apakah kau keberatan?”

Clark mengangkat bahu.

“Tidak.”

Ia kemudian melirik Fiona.

Fiona membeku.

Satu bulan.

Hanya satu bulan.

Ia menggenggam ujung gaunnya.

Surya memperhatikan wajahnya.

“Bagaimana menurutmu, Lola?”

Fiona mengangkat kepala.

“Aku…”

Ia hampir mengatakan namanya.

Namun Susanti memegang tangannya dari bawah meja.

Fiona terdiam.

Ia menatap Clark.

Pemuda itu tidak terlihat memaksanya.

Ia bahkan tampak sama tidak nyamannya dengan keadaan tersebut.

Namun itu tidak mengubah kenyataan.

Mereka ingin menikahkannya.

Dengan seseorang yang bukan Darrien.

Fiona menundukkan kepala.

“Aku tidak setuju.”

Ruangan kembali sunyi.

Keith mengangkat alis.

Surya langsung berkata,

“Lola…”

“Aku tidak setuju.”

Fiona mengulanginya.

Clark menatapnya.

Untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa gadis ini benar-benar serius.

Keith menatap Surya.

“Dia masih belum pulih?”

Surya menarik napas.

“Dia hanya membutuhkan waktu.”

Keith menggeleng.

“Tidak ada lagi waktu.”

Ia meletakkan tangannya di atas meja.

“Pernikahan akan dilaksanakan satu bulan dari sekarang.”

Surya tidak menjawab.

Namun akhirnya ia mengangguk.

“Baik.”

Fiona menatapnya dengan kecewa.

Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

***

Malam semakin larut.

Setelah keluarga Varian kembali ke kediaman mereka, Surya berdiri sendirian di ruang kerjanya.

Marcus masuk.

“Tuan.”

Surya tidak menoleh.

“Sudah ditetapkan.”

“Ya.”

“Sebulan.”

Marcus mengangguk.

Surya menutup matanya.

“Pastikan semua persiapan selesai.”

Marcus terdiam.

Kemudian bertanya,

“Bagaimana dengan Fiona?”

Surya tidak menjawab.

Marcus menatapnya.

“Tuan…”

“Dia harus siap.”

Marcus mengepalkan tangannya.

Namun ia tetap menundukkan kepala.

“Baik.”

***

Jauh dari sana…

Darrien sedang berlatih ketika Ace kembali.

Kevin berdiri di sampingnya.

Elarion duduk di bawah pohon.

Ace berhenti beberapa langkah dari mereka.

Darrien langsung menoleh.

“Ada kabar?”

Ace mengangguk.

“Ya.”

Darrien menurunkan tangannya.

“Fiona?”

Ace menjawab,

“Pernikahannya telah ditetapkan.”

Darrien membeku.

Kevin langsung memperhatikan ekspresinya.

“Kapan?”

Ace menatapnya.

“Satu bulan dari sekarang.”

Tidak ada suara.

Darrien menundukkan kepala.

Tangannya perlahan mengepal.

Kevin bersiap.

Namun kali ini…

tidak ada ledakan sihir.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada kemarahan yang meledak.

Darrien hanya berdiri diam.

Kemudian ia bertanya,

“Dengan siapa?”

“Clark Varian.”

Darrien mengangkat wajah.

Matanya jauh lebih tenang daripada sebelumnya.

“Baik.”

Elarion mengerutkan kening.

“Darrien?”

Darrien menatap Ace.

“Apakah kau tahu di mana mereka berada?”

“Ya.”

“Apakah kau tahu bagaimana masuk ke wilayah mereka?”

Ace terdiam.

Kevin menatap Darrien.

“Jangan katakan kau ingin pergi sekarang.”

“Aku tidak akan pergi sekarang.”

Darrien menjawab tenang.

Kevin sedikit terkejut.

“Lalu?”

Darrien menatap kristal latihan di depannya.

“Aku punya satu bulan.”

Ia mengangkat tangannya.

Sihir mulai mengalir.

“Aku akan menjadi lebih kuat.”

Kevin tersenyum tipis.

“Itu jawaban yang lebih baik.”

Darrien menatap kristal.

Namun sebelum memulai latihan, ia berkata,

“Dan satu hal lagi.”

Ace memperhatikannya.

“Aku tidak menerima pernikahan itu.”

Elarion menghela napas.

Kevin mengangkat alis.

Ace hanya menatapnya.

Darrien melanjutkan,

“Bukan karena aku bisa menentukan apakah mereka menikah atau tidak.”

Ia mengepalkan tangan.

“Tapi karena aku tahu Fiona tidak menginginkannya.”

Hawa dingin perlahan memenuhi udara.

“Kalau dia tidak ingin menikah…”

Darrien menatap jauh ke arah cakrawala.

“…aku akan membawanya pulang.”

Ace terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda dalam tatapan anak itu.

Bukan amarah.

Bukan kepanikan.

Sebuah keputusan.

Kevin mengangguk.

“Kalau begitu…”

Ia mengambil kristal latihan baru.

“Latihan dimulai.”

Darrien menerima kristal itu.

“Berapa banyak?”

Kevin tersenyum.

“Tidak seratus.”

Darrien mengangkat alis.

“Dua ratus.”

Darrien terdiam.

Kemudian tersenyum tipis.

“Baik.”

Elarion menutup wajahnya.

“Anak-anak ini…”

Ace hampir tertawa.

Namun di dalam hatinya, ia tahu.

Satu bulan bukan waktu yang panjang.

Dan jika Darrien benar-benar berniat pergi…

ia harus memastikan anak itu siap.

Karena kali ini…

mereka tidak sedang menghadapi latihan.

Mereka sedang menuju sebuah pernikahan yang tidak pernah diinginkan Fiona.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience