Series
382
BAB 221
MIMPI YANG KEMBALI
Suara tawa kecil terdengar di dekat telinga Fiona.
“Gigigi…”
Fiona perlahan membuka matanya.
Ia tidak terkejut.
Suara itu sudah cukup familiar baginya.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
“Selamat pagi.”
Dua tiny elf kecil terbang mengelilinginya.
Mereka tertawa seperti biasa.
Fiona memandang keduanya beberapa saat.
Kemudian ia melihat ke sekeliling.
“Sekarang…”
“Di mana aku?”
Ia baru menyadari bahwa dirinya sedang duduk di sebuah kursi kristal.
Kursi itu berada di balkon sebuah ruangan yang terasa sangat familiar.
Di hadapannya terbentang Crystal Garden.
Kristal-kristal memenuhi seluruh taman.
Cahaya dari dalamnya berpendar lembut dalam berbagai warna.
Putih.
Biru.
Ungu.
Merah muda.
Bahkan beberapa cahaya terlihat seperti warna pelangi yang bercampur menjadi satu.
Fiona terdiam.
“Indah…”
Ia tersenyum kecil.
Tatapannya kemudian berpindah ke arah pohon besar yang berdiri di kejauhan.
Pohon yang pernah menjadi tempatnya tidur.
Fiona memandangnya cukup lama.
“Jadi aku kembali ke sini.”
Dua tiny elf itu masih berada di dekatnya.
Tidak seperti sebelumnya ketika mereka sering menghilang begitu saja—
kali ini mereka tetap terbang di sekitarnya.
Fiona merasa sedikit lega.
“Setidaknya kalian masih di sini.”
Salah satu tiny elf berputar di udara.
Yang lainnya terbang lebih jauh.
Fiona mengikuti gerakan mereka dengan matanya.
“Kalian mau membawaku ke mana hari ini?”
Kedua tiny elf itu terus terbang.
Fiona tertawa kecil.
“Benar.”
“Aku lupa.”
“Kalian tidak bisa menjawab.”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara tawa kecil mereka.
Fiona menggeleng.
“Benar-benar misterius.”
Ia kemudian hendak turun dari balkon.
Namun tiba-tiba sesuatu menarik perhatiannya.
Fiona melihat pergelangan tangannya.
Matanya membesar sedikit.
Gelang itu masih ada.
Gelang dengan simbol daun perak kecil di tengahnya.
Fiona menyentuhnya perlahan.
“Masih ada…”
Ia teringat kembali pada apa yang terjadi sebelumnya.
Mahkota kristal.
Keinginannya sendiri.
Kemudian mahkota itu berubah menjadi gelang.
Dan ketika ia terbangun—
gelang tersebut benar-benar berada di dunia nyata.
Fiona kemudian menyentuh lehernya.
Kalungnya juga masih ada.
Ia menghela napas lega.
“Syukurlah.”
Namun rasa lega itu segera digantikan rasa penasaran.
Jika gelang itu bisa keluar dari tempat ini bersamanya…
Lalu apa sebenarnya tempat ini?
Dan—
siapa wanita di dalam potret itu?
Fiona mengangkat wajah.
Tatapannya jatuh ke arah dua tiny elf.
Kemudian ia teringat ruangan yang pernah ia kunjungi sebelumnya.
Ruangan penuh potret.
“Ah…”
Fiona tersenyum.
“Ruangan potret.”
Mungkin kali ini ia bisa menemukan sesuatu.
Atau setidaknya—
sebuah petunjuk.
Fiona mulai berjalan.
Kedua tiny elf segera terbang di depannya.
Fiona mengikuti mereka.
“Sudah beberapa hari rasanya aku tidak bertemu kalian.”
Tiny elf itu hanya tertawa.
Fiona ikut tertawa.
“Baiklah.”
“Kalau begitu, tunjukkan jalannya.”
Mereka terus bergerak melewati Crystal Garden.
Cahaya kristal memantul di sekitar Fiona.
Untuk sesaat—
semuanya terasa damai.
Namun Fiona tidak tahu bahwa tempat ini menyimpan lebih banyak jawaban daripada yang selama ini ia bayangkan.
Dan mungkin—
juga lebih banyak rahasia.
***
Di dunia nyata—
pagi sudah dimulai jauh berbeda.
**BOOM!**
Ledakan sihir mengguncang battlefield kerajaan.
Darrien melompat mundur.
Serangan Kevin menghantam tanah tepat di tempat ia berdiri sebelumnya.
Darrien segera mengatur napas.
Ia teringat kembali perkataan Elarion malam sebelumnya.
**Jangan memberikan pola yang mudah dibaca.**
Darrien mengambil posisi.
Kali ini ia tidak langsung menyerang.
Ia menunggu.
Kevin bergerak.
Darrien menghindar.
Kevin kembali menyerang.
Darrien memperlambat gerakannya.
Kemudian—
ia mengubah ritmenya secara tiba-tiba.
Tubuhnya bergerak ke arah yang berbeda.
Kevin sedikit terlambat membaca gerakannya.
Darrien memanfaatkan celah itu.
**WHOOSH!**
Serangannya meluncur.
Kevin menangkis.
**BAM!**
Namun kali ini—
Kevin terdorong setengah langkah.
Keduanya berhenti.
Darrien menatap tangannya sendiri.
Kemudian ia menatap Kevin.
“Aku berhasil.”
Kevin melihat posisi kakinya sendiri.
Kemudian tersenyum tipis.
“Lumayan.”
Darrien langsung tersenyum.
“Lumayan?”
“Jangan terlalu bangga.”
Kevin kembali mengambil posisi.
“Tapi…”
Ia mengamati Darrien.
“Gerakanmu memang berbeda.”
Darrien semakin percaya diri.
Ia mengingat semua yang diajarkan Elarion.
Mengubah ritme.
Membuat lawan membaca gerakan yang salah.
Tidak hanya mengandalkan kekuatan.
Darrien mengepalkan tangannya.
“Sekali lagi.”
Kevin tersenyum.
“Baik.”
Ia melesat.
Darrien menyambutnya.
Pertarungan kembali dimulai.
***
Di luar barrier—
Rowan dan Ace memperhatikan arena.
Namun sesekali keduanya melirik ke arah pintu masuk.
Ace mengerutkan kening.
“Fiona belum datang?”
Rowan menggeleng.
“Belum.”
Ace melihat ke arah battlefield lagi.
“Padahal latihan sudah dimulai cukup lama.”
“Benar.”
Rowan terdiam.
Biasanya Fiona sudah berada di sekitar arena.
Bahkan ketika ia tidak ikut bertarung—
ia hampir selalu datang untuk melihat latihan Darrien.
Ace mengangkat bahu.
“Mungkin dia masih beristirahat.”
Rowan mengangguk.
“Mungkin.”
Namun keduanya tetap merasa ada sesuatu yang sedikit berbeda pagi itu.
Mereka tidak tahu—
Fiona sebenarnya sedang berada di tempat lain.
Bukan di istana.
Bukan di battlefield.
Melainkan di dalam sebuah dunia yang bahkan belum mereka ketahui keberadaannya.
Di antara Crystal Garden—
dua tiny elf terus membawanya menuju sebuah ruangan lama.
Ruangan penuh potret.
Dan Fiona—
tanpa menyadarinya—
sedang berjalan semakin dekat menuju jawaban tentang siapa dirinya sebenarnya.
Share this novel