387. Latihan Tanpa Jeda

Romance Completed 594

BAB 387 — LATIHAN TANPA JEDA

Pagi itu—

Darrien kembali tiba di area latihan Veyth.

Namun sejak langkah pertamanya memasuki hutan kecil tersebut, ia sudah merasakan sesuatu yang berbeda.

Terlalu tenang.

Tidak ada magic dummy.

Tidak ada target.

Tidak ada suara Kevin yang biasanya sudah terdengar dari kejauhan.

Darrien berhenti di antara pepohonan.

Ia melihat ke sekeliling.

“…”

Tidak ada siapa-siapa.

Darrien menghela napas.

“Jangan bilang dia sedang menyiapkan sesuatu.”

“Benar.”

Suara Kevin terdengar dari belakangnya.

Darrien langsung berbalik.

Kevin berdiri beberapa meter di belakangnya dengan kedua tangan bersilang.

Dan—

senyum tipis itu kembali muncul.

Darrien langsung menyipitkan mata.

“Aku tidak menyukai senyum itu.”

Kevin tertawa kecil.

“Bagus.”

“Kenapa bagus?”

“Berarti instingmu mulai bekerja.”

Darrien menghela napas.

“Jadi apa yang akan kita lakukan hari ini?”

Kevin tidak langsung menjawab.

Ia hanya berjalan melewati Darrien.

Kemudian berhenti di tengah area latihan.

“Hari ini berbeda.”

Darrien mengikuti.

“Seberapa berbeda?”

“Cukup untuk membuatmu tidak bisa hanya mengandalkan apa yang sudah kau pelajari.”

Darrien terdiam.

Kevin mengangkat tangannya.

**BOOM.**

Sebuah barrier besar muncul.

Namun berbeda dari sebelumnya—

barrier itu tidak hanya mengelilingi arena.

Sebagian hutan di sekitar mereka ikut masuk ke dalamnya.

Pepohonan.

Tanah.

Batu.

Bahkan beberapa jalur sempit di antara pepohonan.

Semuanya menjadi bagian dari area latihan.

Darrien memperhatikan sekeliling.

“Ini bukan arena.”

“Benar.”

“Lalu?”

Kevin menatapnya.

“Mulai sekarang, hutan ini adalah arenamu.”

Darrien mengangkat alis.

Kevin melanjutkan.

“Kau akan belajar menemukan seseorang yang tidak ingin ditemukan.”

Darrien langsung memahami.

“Berarti…”

“Cari aku.”

Kevin menghilang.

Tidak ada suara.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada jejak magicure yang jelas.

Darrien berdiri diam.

Kemudian tersenyum kecil.

“Baiklah.”

***

POV DARRIEN

Aku menutup mata.

Tidak ada gunanya menggunakan penglihatan.

Aku sudah mempelajari ini dari mimpi.

Jika Grandmaster benar-benar menguasai teknik seperti itu—

maka aku juga harus berhenti bergantung pada mata.

Aku menarik napas.

Perlahan.

Tenang.

Magicure di dalam tubuhku bergerak.

Aku membiarkannya mengalir.

Tidak memaksa.

Tidak memperluasnya secara berlebihan.

Aku hanya—

merasakan.

Angin bergerak dari sebelah kiri.

Daun bergeser.

Seekor burung terbang dari salah satu dahan.

Ada magicure tipis di tanah.

Namun—

bukan itu.

Aku memperluas magic sense sedikit lagi.

Hutan menjadi lebih jelas.

Aku bisa merasakan pepohonan.

Batu.

Aliran air yang jauh.

Makhluk kecil di balik semak.

Kemudian—

sebuah perubahan.

Sangat kecil.

Hampir tidak terlihat.

Magicure bergerak.

Aku membuka mata.

“Di sana.”

Aku langsung bergerak.

**WHOOSH!**

Tubuhku melesat melewati beberapa pohon.

Aku mengikuti perubahan magicure itu.

Namun ketika aku tiba—

tidak ada siapa-siapa.

Aku berhenti.

“…Terlambat.”

Sebuah suara terdengar dari belakang.

“Benar.”

Aku langsung berbalik.

Kevin sudah berdiri di belakangku.

Tangannya bergerak.

**BOOM!**

Serangan langsung datang.

Aku menghilang.

Serangan itu menghantam tanah.

Aku muncul di atas cabang pohon.

Kevin menatapku dari bawah.

“Jangan hanya mencari.”

Aku mengerutkan kening.

“Lalu?”

“Rasakan.”

Aku terdiam.

Kevin menghilang lagi.

***

Aku menutup mata.

Sekali lagi.

Namun kali ini—

aku tidak mengejar jejaknya.

Aku mencoba memahami lingkungan.

Kevin pasti bergerak.

Dan setiap gerakan pasti meninggalkan perubahan kecil.

Tidak peduli seberapa baik ia menyembunyikan dirinya.

Udara akan bergerak.

Daun akan bereaksi.

Magicure akan bergetar.

Aku menunggu.

Beberapa detik.

Kemudian—

sebuah perubahan muncul di sisi kanan.

Aku langsung bergerak.

**WHOOSH!**

Sebuah bayangan melintas.

Kevin menyerang.

Aku menghindar.

Namun kali ini aku tidak berhenti.

Tubuhku berputar.

Dark magic muncul di telapak tanganku.

Aku menyerang balik.

Kevin mundur.

“Bagus.”

Aku tersenyum.

“Ketemu.”

Kevin kembali menghilang.

“Lagi.”

Aku menghela napas.

“Tidak boleh istirahat?”

“Belum.”

“…Tentu saja.”

***

Latihan terus berlanjut.

Kevin tidak memberiku pola yang sama.

Setiap kali aku menemukan caranya—

ia mengubah metode.

Kadang ia bergerak perlahan.

Kadang sangat cepat.

Kadang sengaja meninggalkan jejak magicure.

Kadang menghilangkan hampir semuanya.

Aku dipaksa membaca lingkungan.

Bukan sekadar membaca lawan.

Dan semakin lama—

aku mulai mengerti.

Magic sense bukan hanya tentang memperluas jangkauan.

Ia tentang memahami perubahan.

Sedikit saja.

Satu daun yang bergerak berbeda.

Satu aliran udara yang berubah.

Satu getaran magicure.

Semuanya bisa menjadi petunjuk.

***

Kevin tiba-tiba muncul di depanku.

Serangannya langsung menuju wajahku.

Aku menghindar.

Namun serangan kedua datang dari bawah.

Aku melompat.

Serangan ketiga—

dari belakang.

Aku berputar.

Dark magic muncul.

**BOOM!**

Kami bertabrakan.

Aku terdorong beberapa meter.

Kakiku menghantam tanah.

Aku menarik napas.

Kevin masih berdiri tegak.

“Bagaimana?”

Aku menatapnya.

“Sulit.”

“Bagus.”

“Kenapa setiap jawabanku selalu dianggap bagus?”

“Karena kau masih berdiri.”

Aku menghela napas.

“…Aku mulai membenci kalimat itu.”

Kevin tertawa.

“Kalau begitu, kau akan sering mendengarnya.”

***

Beberapa saat kemudian—

Fiona, Ace, Rowan, Elyon, dan Elarion tiba di luar barrier.

Ace melihat ke dalam.

“Kenapa mereka ada di dalam hutan?”

Rowan menjawab,

“Sepertinya Kevin menaikkan level latihan.”

Elarion tersenyum.

“Sudah waktunya.”

Elyon memperhatikan perubahan magicure di dalam barrier.

“Darrien tidak lagi mengejar Kevin menggunakan mata.”

Fiona mengangguk.

“Dia mulai menggunakan magic sense.”

Ace menghela napas.

“Kasihan.”

Rowan mengangguk.

“Benar.”

Fiona menoleh.

“Kalian kasihan padanya?”

Ace dan Rowan saling memandang.

Kemudian—

“Sedikit.”

Fiona tertawa kecil.

***

Di dalam hutan—

Darrien kembali mengejar Kevin.

Kali ini ia tidak terburu-buru.

Ia menutup mata.

Merasakan.

Kemudian—

senyum kecil muncul.

“Aku tahu kau di mana.”

Kevin berhenti.

Untuk sesaat—

ia tidak bergerak.

Darrien muncul beberapa meter di depannya.

Keduanya saling memandang.

Kevin tersenyum.

“Bagus.”

Darrien menghela napas.

“Sekarang boleh berhenti?”

Kevin menggeleng.

“Belum.”

Darrien menatap langit.

“…Aku sudah tahu.”

Kevin mengambil posisi.

“Sekarang kita mulai bagian berikutnya.”

Darrien langsung waspada.

“Bagian berikutnya?”

Kevin mengangguk.

“Menemukan lawan itu satu hal.”

“Menemukannya sambil diserang…”

Dark magic mulai berkumpul di tangan Kevin.

“…adalah hal lain.”

Darrien menatapnya.

Kemudian—

ia tersenyum.

“Baiklah.”

Magicure gelap mulai mengalir di tubuhnya.

Kali ini—

ia tidak akan menunggu Kevin menyerang.

Ia akan menemukannya lebih dulu.

Dan latihan baru pun dimulai.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience