407. Jejak Lebih Dari Lima Ribu Tahun

Romance Completed 594

BAB 407 — JEJAK LEBIH DARI LIMA RIBU TAHUN

Ruang arsip Veyth—

Suasana yang sebelumnya dipenuhi kelelahan mendadak berubah.

Elarion masih memegang buku tua yang ditemukan sebelumnya.

Simbol bulan sabit itu masih terlihat jelas di salah satu sudut halaman.

Tidak besar.

Tidak mencolok.

Namun setelah diperiksa lebih dekat—

simbol tersebut ternyata jauh lebih tua daripada yang mereka bayangkan.

Elarion mengusap perlahan bagian halaman di sekitar simbol.

“Ini bukan simbol baru.”

Elyon berdiri di sampingnya.

“Seberapa tua?”

Elarion tidak langsung menjawab.

Ia membuka beberapa halaman lain.

Kemudian menemukan catatan kecil yang hampir tidak terlihat.

Matanya membesar sedikit.

“Lebih dari lima ribu tahun.”

Ruangan langsung sunyi.

Ace yang sebelumnya bersandar di kursi langsung berdiri.

“Lima ribu?”

Rowan mendekat.

“Pastikan kau tidak salah membaca.”

Elarion menggeleng.

“Aku tidak salah.”

Ia menunjuk bagian tulisan tersebut.

“Catatan ini menyebut simbol ini sudah dikenal sebelum pencatatan kerajaan modern dimulai.”

Elyon mengambil buku itu.

Ia membaca sendiri.

Beberapa detik kemudian—

wajahnya menjadi serius.

“Lebih dari lima ribu tahun…”

Edward mengerutkan kening.

“Berarti Shadowcresent sudah ada sejak saat itu?”

Elarion menggeleng perlahan.

“Belum tentu.”

Ia menutup buku.

“Kita hanya tahu simbol ini sudah ada.”

“Siapa yang menggunakannya…”

Elarion menatap simbol tersebut.

“…belum diketahui.”

Gloria menghela napas.

“Jadi kita masih belum memiliki jawaban.”

“Belum.”

Elyon melihat kembali buku itu.

Namun kali ini—

tatapannya berubah.

Ia seperti telah mengingat sesuatu.

“Lunaris.”

Semua orang menoleh.

Ace mengangkat alis.

“Lunaris?”

Elyon mengangguk.

“Royal Library Lunaris memiliki arsip yang jauh lebih tua daripada Veyth.”

Rowan langsung memahami.

“Karena sejarah Lunaris lebih banyak berhubungan dengan ras-ras kuno.”

“Benar.”

Elarion mengangguk.

“Dan para penyihir Lunaris mungkin memiliki catatan mengenai simbol ini.”

Elyon menatap Edward.

“Aku akan pergi ke Lunaris.”

Edward tidak langsung menjawab.

Kemudian ia mengangguk.

“Pergilah.”

Elyon menoleh kepada yang lain.

“Elarion.”

Elarion langsung berdiri.

“Aku ikut.”

“Rowan.”

Rowan menutup buku yang sedang dibacanya.

“Sudah kuduga.”

Ace menyeringai.

“Kalau kalian pergi tanpa aku, siapa yang akan membawa semua buku yang kalian temukan?”

Rowan menatapnya.

“Kau hanya ingin ikut.”

Ace mengangkat bahu.

“Mungkin.”

Elyon menghela napas.

“Baik.”

Ia kemudian melihat mereka satu per satu.

“Kita pergi bersama.”

***

Beberapa waktu kemudian—

persiapan keberangkatan dimulai.

Tidak semua orang ikut.

Edward dan Gloria tetap berada di Veyth.

Mereka tidak mungkin meninggalkan kerajaan tanpa pengawasan.

Darrien dan Kevin juga tetap tinggal.

Keduanya memiliki alasan lain.

Latihan.

Darrien masih belum mampu melupakan apa yang terjadi di Shadowcresent.

Dan Kevin masih memiliki satu tujuan—

memahami kekuatan yang bahkan tidak mampu ia baca.

Sementara Elyon membawa Elarion, Rowan, dan Ace menuju Lunaris.

Sebelum berangkat—

Darrien berdiri di depan Elyon.

“Cari sesuatu.”

Elyon menatapnya.

“Informasi tentang vampire?”

“Ya.”

Darrien terdiam sejenak.

Kemudian berkata,

“Dan kalau ada sesuatu mengenai Shadowcresent…”

Ia berhenti.

“…bawa kembali.”

Elyon mengangguk.

“Kami akan melakukannya.”

Darrien menatap mereka.

Kemudian berkata pelan,

“Fiona mungkin masih berada di sana.”

Elyon memahami maksudnya.

“Kami tahu.”

Ia menepuk bahu Darrien.

“Karena itu kami tidak akan kembali dengan tangan kosong.”

***

Tidak lama kemudian—

rombongan kecil itu meninggalkan Veyth.

Elyon berada di depan.

Elarion membawa beberapa catatan.

Rowan membawa salinan dokumen lama.

Dan Ace—

membawa tas yang entah bagaimana sudah penuh sebelum mereka bahkan tiba di Lunaris.

Rowan meliriknya.

“Apa yang kau bawa?”

Ace tersenyum.

“Persiapan.”

“Untuk apa?”

“Tidak tahu.”

Rowan menggeleng.

“Tidak pernah berubah.”

Elarion yang mendengar percakapan mereka hanya tersenyum kecil.

Namun setelah beberapa saat—

suasana kembali serius.

Karena mereka semua tahu tujuan mereka.

Mereka bukan sedang pergi untuk berkunjung.

Mereka sedang mencari sejarah.

Sejarah yang mungkin berusia—

lebih dari lima ribu tahun.

***

LUNARIS.

Beberapa waktu kemudian—

rombongan itu akhirnya tiba.

Istana Lunaris terlihat seperti biasanya.

Tenang.

Megah.

Namun Elyon tidak berhenti untuk menikmati pemandangan.

Begitu mereka tiba—

ia langsung menuju bagian dalam istana.

Elarion mengikuti.

Rowan dan Ace berjalan di belakang.

Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah pintu besar.

Dua penjaga berdiri di sana.

Elyon menunjukkan tanda kerajaan.

“Kami ingin menggunakan Royal Library.”

Para penjaga segera memberi jalan.

Pintu besar perlahan terbuka.

***

Royal Library Lunaris—

berbeda dari perpustakaan Veyth.

Jauh lebih besar.

Rak-raknya menjulang tinggi.

Buku-buku tua memenuhi hampir setiap dinding.

Beberapa gulungan disimpan dalam tabung khusus.

Beberapa dokumen dilindungi lapisan magicure.

Bahkan udara di dalam ruangan terasa berbeda.

Elarion langsung terdiam.

Matanya bergerak ke seluruh ruangan.

“…”

Ace memperhatikan reaksinya.

“Kau bahagia?”

Elarion menjawab tanpa menoleh.

“Jangan ganggu.”

Ace tertawa.

Rowan berjalan mendekati salah satu rak.

“Kalau catatan lima ribu tahun masih ada…”

Ia melihat deretan buku.

“…kemungkinan besar ada di sini.”

Elyon mengangguk.

“Itulah harapanku.”

Ia kemudian mengangkat buku yang berisi simbol tersebut.

“Kita mencari simbol ini.”

Ia menunjukkan halaman kepada mereka.

“Bukan hanya nama Shadowcresent.”

“Cari semua yang berhubungan dengan simbol ini.”

Elarion mengangguk.

“Sejarah.”

Rowan menambahkan,

“Perang.”

Ace menyahut,

“Ras.”

Elyon mengangguk.

“Dan vampire.”

Mereka berpencar.

Satu demi satu—

rak mulai diperiksa.

Buku-buku tua dibuka.

Gulungan dikeluarkan.

Dokumen kuno mulai dibaca.

***

Di sisi lain—

Veyth.

Darrien kembali berada di halaman latihan.

Pedangnya berada di tangannya.

Kevin berdiri di depannya.

“Kau siap?”

Darrien mengangguk.

“Ya.”

Kevin mengangkat senjatanya.

“Kalau begitu jangan pikirkan Raizen.”

Darrien mengerutkan kening.

“Sulit.”

“Aku tahu.”

Kevin tersenyum tipis.

“Justru karena itu.”

Ia mengambil posisi.

“Belajar bertarung tanpa membiarkan kemarahan menentukan gerakanmu.”

Darrien mengangkat pedangnya.

“Baik.”

***

Sementara itu—

di Royal Library Lunaris—

Elarion membuka sebuah buku yang sangat tua.

Halaman pertama tidak memiliki nama penulis.

Tidak ada tanggal.

Hanya sebuah simbol.

Bulan sabit.

Elarion membeku.

“Elyon…”

Elyon langsung datang.

“Apa?”

Elarion menunjuk halaman itu.

“Lihat.”

Rowan dan Ace juga mendekat.

Elyon melihat simbol tersebut.

Sama.

Tidak salah lagi.

Simbol yang sama dengan yang mereka temukan di Veyth.

Namun di bawahnya—

terdapat tulisan kuno.

Elarion mencoba membacanya.

Perlahan.

“Hanya mereka yang hidup di bawah…”

Ia berhenti.

Membaca kembali.

Kemudian melanjutkan.

“…bayangan bulan merah.”

Ruangan menjadi sunyi.

Ace menatap halaman itu.

“Bulan merah?”

Elyon tidak menjawab.

Elarion membalik halaman berikutnya.

Namun—

halaman tersebut kosong.

Tidak ada tulisan.

Tidak ada penjelasan.

Hanya satu simbol yang sama.

Bulan sabit.

Elyon menatapnya lama.

“Terus cari.”

Rowan mengangguk.

Ace menghela napas.

Elarion sudah membuka buku berikutnya.

Dan untuk pertama kalinya—

mereka mulai menyadari bahwa apa yang mereka cari mungkin bukan sekadar sejarah sebuah klan vampire.

Mungkin—

mereka sedang membuka sesuatu yang telah disembunyikan selama lebih dari lima ribu tahun.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience