Completed
594
BAB 484 — PERMAINAN DI DALAM DIMENSI
WHOOM!
Begitu kelompok Darrien memilih salah satu jalur—
dunia di sekitar mereka berubah.
Darrien berhenti.
Matanya langsung menyipit.
"Berhenti."
Namun terlambat.
Tanah di bawah kaki mereka menghilang.
Bukan runtuh.
Bukan pecah.
Menghilang.
Dalam satu tarikan napas—
seluruh kelompok Darrien jatuh ke dalam kegelapan.
"WOAAAAAH!"
Ace berteriak.
"Aku benci tempat ini!"
WHOOSH!
Tubuh mereka terlempar ke ruang yang berbeda.
Darrien berputar di udara dan mendarat dengan satu kaki.
DUK!
Elyon mendarat beberapa meter di belakangnya.
Elarion mendarat dengan tenang.
Rowan berguling sekali sebelum berhenti.
Kevin mendarat dengan pedangnya sudah berada di tangan.
Dan Ace—
BRAK!
langsung jatuh telentang.
"...Aku baik-baik saja."
Rowan menatapnya.
"Kau bahkan belum berdiri."
"Aku sedang memastikan tanahnya aman."
Darrien tidak menanggapi.
Ia mengangkat kepala.
Mereka berada di sebuah magical dimension.
Tidak ada langit.
Tidak ada matahari.
Tidak ada gunung.
Hanya ruang luas berwarna kelabu dengan kabut tipis yang bergerak perlahan.
Di kejauhan berdiri puluhan pilar batu.
Setiap pilar memiliki rune berbeda.
Elyon perlahan berdiri.
"Ini bukan dimensi yang sama seperti sebelumnya."
Elarion menyentuh udara di depannya.
"Benar."
Ia mengerutkan kening.
"Strukturnya berubah."
Kevin menatap sekeliling.
Magicure-nya bergerak tipis.
"Dan dimensi ini..."
Ia mengangkat pedang.
"...aktif."
Darrien menatapnya.
"Maksudmu?"
Kevin menunjuk salah satu pilar.
"Ruangnya bereaksi terhadap kita."
Ting.
Salah satu rune menyala.
Kemudian—
TING!
Rune lain menyala.
TING!
TING!
Dalam hitungan detik, seluruh pilar mulai bersinar.
Ace berdiri cepat.
"Kenapa semuanya menyala?!"
Rowan membuka peta.
"Karena kita mungkin mengaktifkannya."
Ace menatapnya.
"Dan kau mengatakan itu dengan tenang?"
Rowan menatap peta.
"Kalau aku panik, apa yang berubah?"
Ace berpikir.
"...Tidak ada."
"Jadi?"
Ace menghela napas.
"Baik."
Darrien mengamati pilar-pilar itu.
"Tidak ada jalan keluar."
Elyon mengangguk.
"Belum."
Darrien menatapnya.
"Belum?"
Elyon menunjuk ke depan.
"Perhatikan kabut."
Kabut yang tadi bergerak perlahan...
mulai berputar.
Melingkar.
Semakin cepat.
Kemudian—
BOOM!
Sebuah tekanan besar menghantam seluruh dimensi.
Darrien langsung mengangkat tangan.
WHOOOM!
Magicure membentuk penghalang.
Serangan itu menghantamnya.
DUARRR!
Tanah bergetar.
Ace hampir terjatuh.
"APA ITU?!"
Sesuatu muncul dari balik kabut.
Bukan satu.
Bukan dua.
Puluhan magical beasts berbentuk bayangan muncul.
Mata mereka menyala.
Cakar mereka memanjang.
Elarion mengangkat alis.
"Jadi sekarang ada monster."
Ace menarik senjatanya.
"Kenapa tempat ini semakin tidak ramah?!"
Kevin tersenyum.
"Bagus."
Ace menoleh.
"Jangan bilang bagus!"
Kevin mengangkat pedangnya.
"Kita bisa menguji respons dimensi."
Ace menunjuk monster.
"Kita sedang DIUJI!"
Kevin mengangguk.
"Lebih bagus."
Ace:
"...Aku menyerah."
Monster pertama menerjang.
WHOOSH!
Darrien menghilang.
BAM!
Satu pukulan menghantam kepala monster.
Tubuhnya terlempar.
Namun tiga monster lain langsung menyerang dari sisi.
Darrien berputar.
DUK!
Satu ditendang.
WHAM!
Yang kedua terkena siku.
Monster ketiga membuka mulut.
Sebuah gelombang sihir keluar.
Darrien menunduk.
SHHHHRAAAK!
Serangan itu melewati atas kepalanya.
Darrien mengangkat tangannya.
Magicure terkumpul.
BOOM!
Monster itu terpental.
Namun—
lantai berubah.
Darrien tiba-tiba kehilangan pijakan.
"Apa—"
WHOOSH!
Seluruh permukaan tanah terlipat.
Darrien melompat.
Di bawahnya bukan lagi lantai.
Melainkan jurang.
"Jangan jatuh!"
Elyon berteriak.
Ace langsung meraih Rowan.
"ROWWAAAN!"
"Apa?!"
"LANTAINYA HILANG!"
"Aku bisa lihat!"
"AKU PANIK!"
"Jangan panik!"
"Aku sedang mencoba!"
Elarion menghela napas.
"Fokus."
Ia mengangkat tangan.
Sebuah jembatan cahaya terbentuk.
Namun baru beberapa meter—
KRAK!
Jembatan itu ikut berubah.
Elarion terdiam.
"...Baik."
Ace menatapnya.
"Apa?"
"Dimensinya memanipulasi sihir kita."
Elyon langsung memahami.
"Jadi bukan hanya ruang."
Ia menatap pilar-pilar.
"Ia juga membaca bentuk energi yang kita gunakan."
Kevin tersenyum.
"Semakin menarik."
Ace berteriak,
"KEVIN!"
"Apa?"
"BERHENTI TERLIHAT SENANG!"
Kevin tidak menjawab.
Darrien mendarat kembali.
Ia menarik napas.
Magicure dalam tubuhnya bergerak.
Padat.
Tenang.
Ia memejamkan mata.
Tidak mencoba melawan ruang.
Tidak mencoba memaksanya.
Ia merasakan.
Satu aliran magicure bergerak dari pilar sebelah kiri.
Yang kedua dari bawah.
Yang ketiga—
berasal dari belakang mereka.
Darrien membuka mata.
"Jangan serang pilarnya."
Semua menoleh.
Rowan mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Karena pilar itu bukan pusat."
Darrien menunjuk ke tanah.
"Ruangnya sendiri adalah mekanismenya."
Elyon menatapnya.
"Kau yakin?"
"Belum."
Darrien tersenyum tipis.
"Tapi aku akan mencari tahu."
Monster-monster kembali bergerak.
Puluhan sekaligus.
WHOOSH!
Darrien melesat.
"Jaga punggung!"
Elyon dan Elarion bergerak ke sisi berlawanan.
Rowan mengaktifkan rune pendeteksi.
Kevin maju.
Pedangnya berkilat.
BAM!
Ia menghantam satu monster.
Kemudian berputar.
SLASH!
Monster kedua terbelah.
Ace berdiri di sampingnya.
"...Kau bisa tersenyum lebih sedikit?"
Kevin menendang monster lain.
"Kenapa?"
"Kau membuatku gugup."
Kevin tersenyum.
"Bagus."
Ace mengangkat senjata.
"AKU BENCI JAWABAN ITU!"
Pertarungan semakin sengit.
Monster datang dari berbagai arah.
Namun yang paling berbahaya bukan monster itu.
Melainkan—
dimensinya.
Setiap kali mereka bergerak terlalu jauh ke satu arah...
ruang berubah.
Lorong muncul.
Lorong menghilang.
Dinding terbentuk.
Kemudian berpindah.
Bahkan jarak antara mereka berubah.
Darrien melihat Ace yang baru saja berada sepuluh meter darinya—
tiba-tiba berada lima puluh meter jauhnya.
"Ace!"
"Aku di sini!"
Suara Ace terdengar dari kejauhan.
"AKU TIDAK TAHU KENAPA AKU ADA DI SINI!"
Rowan berteriak,
"Jangan bergerak!"
Ace menjawab,
"AKU TIDAK BERGERAK!"
Kemudian lantai di bawah Ace bergeser.
"AAAAAH!"
Ace menghilang.
Hening.
Beberapa detik kemudian—
*duk.*
Ace jatuh dari langit.
"...Aku benci gunung ini."
Rowan menatapnya.
"Kita bahkan tidak berada di gunung sekarang."
Ace menatap sekeliling.
"...Lebih buruk."
Darrien hampir tertawa.
Namun ia segera kembali fokus.
Ia melihat pola.
Setiap kali mereka menyerang—
dimensi bereaksi.
Setiap kali mereka mencoba menghancurkan sesuatu—
jalurnya berubah.
Seolah-olah tempat itu sedang belajar dari mereka.
Darrien menarik napas.
"Jangan gunakan serangan besar!"
Elyon mengangguk.
"Kita harus membaca reaksinya."
Elarion menambahkan,
"Dan menemukan pola perubahan."
Kevin menahan satu serangan.
"Kalau begitu..."
Ia melihat Darrien.
"...kita bertahan."
Darrien mengangguk.
"Untuk sekarang."
Mereka bergerak sebagai satu kelompok.
Tidak lagi menyerang secara liar.
Tidak lagi mencoba menghancurkan seluruh dimensi.
Mereka bertahan.
Mengamati.
Mencatat.
Membaca.
Dan sedikit demi sedikit—
mereka mulai memahami bahwa dimensi itu bukan sekadar perangkap.
Ia adalah—
sebuah maze hidup.
Dan mereka sedang berada tepat di dalamnya.
---
### — Shadowcresent —
Di tempat yang jauh dari kekacauan itu...
hari terasa sangat damai.
Raizen sedang duduk di bawah pohon besar.
Cahaya matahari hangat menyinari taman.
Fiona tertidur di dalam pelukannya.
Kepalanya bersandar nyaman di dada Raizen.
Napasnya teratur.
Tenang.
Raizen menunduk.
Melihat wajah Fiona.
Ia tersenyum kecil.
Satu tangannya mengusap rambut Fiona perlahan.
Angin bertiup.
Daun-daun bergerak.
Raizen langsung menarik selimut sedikit lebih tinggi.
Fiona bergerak kecil dalam tidurnya.
"Hm..."
Raizen berhenti.
Kemudian tersenyum.
"Jangan khawatir."
Ia kembali bersandar.
"Anginnya tidak dingin."
Fiona tetap tidur.
Raizen memandang langit.
Damai.
Untuk saat ini—
tidak ada yang mengganggu mereka.
Tidak ada laporan.
Tidak ada pertempuran.
Tidak ada Veyth.
Setidaknya...
itulah yang ia pikirkan.
Beberapa saat kemudian—
Mufasa muncul dari ujung taman.
Langkahnya berhenti ketika melihat Raizen dan Fiona.
Ia menatap mereka.
Kemudian melihat Fiona yang tidur pulas dalam pelukan rajanya.
Mufasa diam.
"..."
Ia menghela napas.
Kemudian berjalan mendekat.
"Yang Mulia."
Raizen menoleh.
"Hm?"
Mufasa berhenti beberapa meter jauhnya.
"Maaf mengganggu."
Raizen menatapnya.
"Ada apa?"
Mufasa membuka mulut.
Namun sebelum ia menjawab—
Fiona bergerak sedikit dalam pelukan Raizen.
Raizen langsung menurunkan suaranya.
"Pelan."
Mufasa menatapnya.
Kemudian menatap Fiona.
Ia menarik napas.
"Veyth."
Raizen terdiam.
Mata crimson-nya perlahan berubah tajam.
Mufasa melanjutkan.
"Mereka sudah melewati bagian tengah gunung."
Raizen tidak langsung menjawab.
Ia masih memeluk Fiona.
Namun tangannya berhenti mengusap rambutnya.
"Seberapa jauh?"
"Mereka sudah masuk ke magical dimension."
Raizen menatap Mufasa.
"...Begitu."
Mufasa mengangguk.
"Pertahanan sudah berubah."
Raizen menatap Fiona yang masih tidur.
Kemudian kembali kepada Mufasa.
"Jangan ganggu mereka terlalu cepat."
Mufasa sedikit terkejut.
"Yang Mulia?"
Raizen tersenyum tipis.
"Biarkan mereka bermain."
Mufasa menatap rajanya.
Kemudian ke arah pegunungan.
"...Mereka tidak terlihat sedang bermain."
Raizen terkekeh kecil.
"Kalau begitu..."
Ia menatap Fiona lagi.
"...buat mereka sibuk."
Mufasa menghela napas.
"Baik, Yang Mulia."
Ia berbalik.
Namun sebelum pergi—
Raizen berkata,
"Mufasa."
Mufasa berhenti.
"Ya?"
"Jangan biarkan mereka mencapai istana."
Mufasa mengangguk.
"Dimengerti."
Ia pergi.
Raizen kembali melihat Fiona.
Fiona masih tertidur dengan tenang.
Seolah tidak ada apa pun yang sedang terjadi.
Raizen tersenyum kecil.
"Kita akan tetap menikmati hari ini."
Ia menarik selimut Fiona sedikit lebih tinggi.
Sementara jauh di pegunungan—
Veyth masih terjebak di dalam maze.
Dan Shadowcresent...
baru saja mulai bermain.
Share this novel