Series
94
BAB 18
RAHASIA DI BALIK BOTOL-BOTOL KECIL
Beberapa hari berikutnya, latihan mereka mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Darrien semakin terbiasa dengan latihan fisik.
Fiona mulai mampu mempertahankan cahaya kecil di ujung jarinya tanpa membuatnya muncul secara tidak sengaja.
Namun hari itu, Elarion membawa mereka ke belakang rumah.
Di sana terdapat sebuah meja panjang yang dipenuhi tanaman, akar, bunga, dan botol-botol kecil.
Fiona langsung memperhatikan semuanya.
“Apakah kita akan belajar membuat ramuan?”
Elarion mengangguk.
“Ya.”
Darrien memandang berbagai bahan di atas meja.
“Untuk apa?”
“Karena suatu hari nanti kalian mungkin terluka ketika tidak ada tabib.”
Elarion mengambil sebuah daun kecil.
“Ini untuk demam.”
Ia mengambil akar berwarna pucat.
“Ini membantu menyembuhkan luka ringan.”
Kemudian ia mengangkat sebuah bunga berwarna biru.
“Dan ini…”
Ia berhenti.
“Jangan pernah memasukkannya ke dalam ramuan tanpa mengetahui jumlahnya.”
Fiona memiringkan kepala.
“Kenapa?”
“Karena terlalu banyak bisa membuat seseorang tertidur selama berhari-hari.”
Fiona langsung menarik tangannya dari bunga itu.
Darrien tertawa kecil.
Elarion tersenyum.
“Pelajaran pertama: tidak semua tanaman cantik itu aman.”
Ia kemudian menunjukkan beberapa bahan lain.
“Ramuan bukan hanya soal mencampur sesuatu ke dalam botol.”
Elarion mengambil pisau kecil.
“Kalian harus tahu apa yang kalian gunakan.”
Ia memotong daun menjadi bagian kecil.
“Berapa banyak.”
Ia menimbangnya.
“Berapa lama.”
Ia memasukkannya ke dalam wadah.
“Dan bagaimana reaksi setiap bahan terhadap bahan lainnya.”
Fiona memperhatikan dengan serius.
“Seperti memasak?”
Elarion berhenti.
“Kurang lebih.”
Fiona tersenyum.
“Kalau begitu aku bisa belajar.”
Darrien menatapnya.
“Kau bahkan pernah membakar roti.”
“Itu cuma sekali.”
“Dua kali.”
Fiona memukul lengannya pelan.
Elarion tertawa.
“Baiklah. Kita mulai dari yang mudah.”
Ia memberikan mereka masing-masing beberapa bahan.
“Buat ramuan pemulih tenaga.”
Darrien mulai mengikuti instruksi.
Fiona juga.
Namun setelah beberapa menit, Fiona berhenti.
“Elarion.”
“Hm?”
“Daun ini bukankah harus dikeringkan dulu?”
Elarion menoleh.
Ia memeriksa daun yang dimaksud.
“Benar.”
Darrien menatap Fiona.
“Bagaimana kau tahu?”
Fiona menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Elarion mengambil daun itu.
“Kau pernah melihatnya?”
“Tidak.”
Elarion memperhatikan Fiona beberapa detik.
Kemudian ia tersenyum.
“Insting yang bagus.”
Fiona melanjutkan pekerjaannya.
Tidak lama kemudian, ramuan pertama mereka selesai.
Warnanya tidak terlalu indah.
Bahkan agak keruh.
Darrien menatap botolnya.
“Apakah ini benar-benar bisa diminum?”
Elarion mengambilnya.
“Bisa.”
Ia mencium aromanya.
“Walaupun rasanya mungkin buruk.”
Fiona menahan tawa.
Darrien menatapnya.
“Apa?”
“Tidak apa-apa.”
Elarion memberikan botol itu kepada Darrien.
“Minum sedikit.”
Darrien menatapnya curiga.
“Kau yakin?”
“Aku yang mengajarkannya.”
Darrien akhirnya meneguk sedikit.
Wajahnya langsung berubah.
“Pahit.”
Fiona tertawa.
Elarion mengangguk puas.
“Berarti berhasil.”
“Kenapa?”
“Kalau terlalu enak, aku akan curiga kalian membuat sirup.”
Fiona tertawa semakin keras.
Hari itu mereka menghabiskan waktu berjam-jam mempelajari berbagai tanaman dan cara membuat ramuan sederhana.
Untuk pertama kalinya, Fiona menyadari bahwa dunia tidak hanya memiliki sihir yang terlihat seperti cahaya dan bayangan.
Ada banyak bentuk keajaiban yang jauh lebih sederhana.
Tumbuhan.
Ramuan.
Pengetahuan.
Dan tangan seseorang yang tahu cara menggunakannya.
Menjelang sore, Elarion menyimpan beberapa botol hasil latihan mereka.
“Suatu hari nanti,” katanya, “kalian mungkin harus membuat ramuan sendiri.”
Darrien mengangguk.
“Karena kita tidak akan selalu punya seseorang untuk membantu.”
Elarion menatapnya.
“Benar.”
Ia tersenyum kecil.
“Itulah tujuan sebenarnya dari semua yang kalian pelajari.”
Fiona menatap botol kecil di tangannya.
Bukan untuk menjadi kuat.
Bukan untuk mengalahkan orang lain.
Tetapi untuk bisa bertahan ketika mereka sendirian.
Dan tanpa mereka sadari, pelajaran sederhana itu perlahan mengubah dua anak yatim dari Akasia menjadi dua anak yang mulai mampu menghadapi dunia di luar sana.
Share this novel