121. Pasar Malam Veyra

Romance Series 382

BAB 121
PASAR MALAM VEYRA

Matahari telah tenggelam ketika Darrien dan Fiona meninggalkan danau.

Namun bukannya langsung kembali ke kediaman Rowan—

Fiona tiba-tiba berhenti.

Darrien menoleh.

“Apa?”

Fiona menunjuk ke kejauhan.

“Lihat.”

Di antara bangunan kota, cahaya lampu mulai bermunculan.

Satu demi satu.

Semakin banyak.

Suara musik dan percakapan terdengar dari kejauhan.

Darrien menyipitkan mata.

“Pasar?”

Fiona tersenyum lebar.

“Pasar malam.”

Darrien langsung menghela napas.

“Kita baru saja meninggalkan pasar.”

“Yang ini berbeda.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Karena ada lampu.”

Darrien menatapnya.

“Itu bukan alasan.”

Fiona sudah menarik tangannya.

“Ayo.”

Darrien tidak punya pilihan selain mengikutinya.

***

Pasar malam Veyra jauh lebih ramai daripada pasar siang.

Lampu-lampu warna-warni digantung di antara bangunan.

Beberapa kristal kecil melayang di udara, memberikan cahaya lembut.

Aroma makanan memenuhi jalan.

Manusia, Elf, dwarf, beastfolk, dan berbagai ras lain berjalan berdampingan.

Di satu sisi jalan, seorang dwarf menjual makanan panggang.

Di sisi lain, seorang Elf memainkan alat musik.

Beberapa beastfolk membuka kios makanan.

Bahkan ada penyihir yang membuat pertunjukan kecil dengan bola cahaya di udara.

Mata Fiona langsung berbinar.

“Wah…”

Darrien tersenyum.

“Aku sudah tahu.”

“Apa?”

“Kau akan mengatakan itu.”

Fiona mengabaikannya.

Ia langsung berjalan menuju salah satu kios.

“Lihat!”

Seorang pedagang beastfolk menjual kue kecil berbentuk bunga.

Fiona menunjuknya.

“Apa itu?”

“Manisan madu.”

“Boleh coba?”

Pedagang itu tersenyum.

“Tentu.”

Fiona mengambil satu.

Ia mencicipinya.

Matanya langsung berbinar.

“Enak!”

Darrien tertawa.

“Kau selalu mengatakan itu.”

“Karena memang enak.”

Pedagang itu tertawa.

“Kalau begitu beli dua.”

Fiona melihat Darrien.

Darrien menghela napas.

“Baik.”

***

Mereka berjalan semakin dalam ke pasar.

Seorang anak Elf sedang menari di tengah jalan.

Beberapa beastfolk bertepuk tangan mengikuti irama.

Di dekatnya, seorang dwarf memainkan drum kecil.

Tidak ada yang terlihat peduli dengan ras masing-masing.

Mereka hanya menikmati malam.

Fiona memperhatikan mereka.

“Veyra benar-benar berbeda saat malam.”

Darrien mengangguk.

“Lebih hidup.”

“Semua orang sepertinya bahagia.”

“Tidak semuanya.”

Fiona menatapnya.

Darrien menunjuk seorang pedagang yang sedang berdebat dengan pembeli.

“Kita masih berada di dunia nyata.”

Fiona tertawa.

“Benar.”

***

Tidak jauh dari sana, sebuah pertunjukan kecil sedang berlangsung.

Seorang penyihir muda mengangkat tangannya.

Puluhan cahaya kecil muncul di udara.

Kemudian berubah menjadi kupu-kupu bercahaya.

Anak-anak berteriak kagum.

Fiona berhenti.

“Cantik…”

Darrien melihat wajahnya.

“Kalau kau ingin mencoba…”

Fiona langsung menoleh.

“Bisa?”

Penyihir itu mendengar mereka.

“Tentu.”

Ia memberikan sebuah kristal kecil kepada Fiona.

“Salurkan sedikit energi.”

Fiona memegang kristal itu.

Tidak terjadi apa-apa.

Ia mencoba lagi.

Masih tidak ada.

Darrien tersenyum.

“Tidak apa-apa.”

Fiona mengerutkan kening.

“Aku bisa.”

Ia mencoba sekali lagi.

Kristal itu akhirnya menyala.

Sangat kecil.

Hanya cahaya lembut.

Namun Fiona langsung tersenyum.

Penyihir itu ikut tersenyum.

“Bagus.”

Fiona melihat cahaya di tangannya.

“Lihat, Darrien!”

“Ya.”

Ia tersenyum.

Namun tanpa Fiona sadari—

daun perak di lehernya juga memantulkan cahaya yang sama.

Sangat samar.

Darrien tidak melihatnya.

Dan penyihir muda itu juga tidak menyadarinya.

***

Malam semakin larut.

Fiona membawa kantong kecil berisi makanan.

Darrien membawa sisanya.

“Kita benar-benar membeli terlalu banyak.”

Fiona tersenyum.

“Tidak apa-apa.”

“Kau akan menghabiskan semuanya?”

“Tidak.”

“Lalu?”

Fiona menyerahkan satu kantong kepadanya.

“Kita makan bersama.”

Darrien tertawa.

“Baiklah.”

Mereka berjalan meninggalkan pasar malam.

Lampu-lampu perlahan menjauh di belakang mereka.

Veyra tetap ramai.

Namun jalan menuju kediaman Rowan mulai lebih tenang.

Fiona berjalan di samping Darrien.

Kemudian ia berkata,

“Hari ini menyenangkan.”

Darrien mengangguk.

“Ya.”

“Dan kita tidak melakukan penelitian.”

“Bagian terbaiknya.”

Fiona tertawa.

“Besok kita harus kembali.”

Darrien menghela napas.

“Besok kita pasti kembali.”

Ia menatap Fiona.

“Elarion akan memastikan itu.”

Fiona tertawa lagi.

Mereka terus berjalan.

Tanpa mereka sadari—

di antara cahaya pasar yang semakin jauh—

sebuah daun perak di leher Fiona kembali berkilau lembut.

Dan jauh di Lunaris—

Kristal Kerajaan kembali memberikan satu denyutan kecil.

Namun malam itu—

tidak ada seorang pun yang menyadarinya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience