Series
390
BAB 333 — JAWABAN FIONA
Pagi kembali datang.
Cahaya matahari perlahan menyinari Danau Lunaris.
Fiona masih berada di sana.
Namun kali ini—
ia sudah berdiri.
Tatapannya mengarah kepada Istana Lunaris yang terlihat dari kejauhan.
Ia menarik napas panjang.
“Baiklah…”
Tangannya mengepal.
“Tidak ada lagi alasan untuk melarikan diri.”
Fiona kemudian menggunakan sihir teleportasi.
Cahaya Silver Leaf menyelimuti tubuhnya.
Dalam sekejap—
ia menghilang.
***
Di Istana Lunaris—
pagi itu terasa berbeda.
Semua orang telah berkumpul.
Zeith dan Seraphine berada di ruang utama.
Edward dan Gloria juga masih berada di Lunaris setelah kejadian sebelumnya.
Elyon.
Elarion.
Sylvester.
Ace.
Rowan.
Kevin.
Dan Darrien.
Mereka semua menunggu.
Tidak ada yang tahu kapan Fiona akan kembali.
Kemudian—
**WHOOM!**
Cahaya muncul di tengah ruangan.
Semua langsung menoleh.
Fiona muncul.
Tidak membawa senjata.
Tidak membawa aura permusuhan.
Ia hanya berdiri diam.
Darrien langsung menatapnya.
Fiona—
juga melihatnya.
Untuk beberapa detik, mereka saling menatap.
Fiona hampir mengalihkan pandangan.
Namun kali ini—
ia tidak melakukannya.
Ia memaksa dirinya tetap menatap mata Darrien.
Darrien tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya menunggunya.
Fiona menarik napas.
“Aku kembali.”
Elyon mengangguk.
“Kami tahu.”
Fiona melihat semua orang.
“Aku tahu kalian memiliki banyak pertanyaan.”
Ace langsung mengangkat tangan.
“Banyak sekali.”
Rowan menurunkan tangannya.
“Jangan sekarang.”
Ace kembali duduk.
Fiona tersenyum kecil.
“Baiklah.”
Ia kemudian berjalan menuju tempat duduk.
Namun sebelum duduk—
ia berkata,
“Aku akan menjawab semuanya.”
Ruangan langsung sunyi.
***
Fiona duduk.
Tangannya berada di atas pangkuannya.
Beberapa detik ia hanya diam.
Seolah sedang mengumpulkan keberanian.
Kemudian—
“Aku memang Fiona.”
Elyon mengangguk.
“Tapi aku juga seseorang yang pernah hidup lebih dari dua ribu lima ratus tahun yang lalu.”
Zeith memperhatikan dengan serius.
“Dan pada zaman itu…”
Fiona menarik napas.
“…aku dikenal sebagai Saintess.”
Keheningan.
Tidak ada yang bergerak.
Seraphine perlahan menatapnya.
“Saintess?”
Fiona mengangguk.
“Saintess dari Light Elf.”
Elyon terdiam.
Sekarang—
semuanya mulai terhubung.
Silver Leaf.
Crystal Hall.
Sihir cahaya yang sangat murni.
Usianya.
Sejarah yang dihapus.
Namun satu pertanyaan masih tersisa.
Elarion bertanya,
“Kalau kau adalah Saintess…”
Ia menatap Fiona.
“…mengapa kau sekarang menjadi Fiona yang kami kenal?”
Fiona menunduk.
“Karena aku memilih untuk memulai kehidupan baru.”
***
Edward akhirnya bertanya.
“Dan Darrien?”
Fiona menatapnya.
Ekspresinya menjadi lembut.
“Darrien…”
Ia berhenti.
“…adalah alasan aku bertahan selama ribuan tahun.”
Gloria menahan napas.
Fiona melanjutkan.
“Pada zaman itu, dia adalah Grandmaster Dark Elf.”
Darrien diam.
Ia sudah melihatnya di cermin.
Namun mendengar kata-kata itu langsung dari Fiona—
terasa berbeda.
“Kami seharusnya menjadi musuh.”
Fiona tersenyum tipis.
“Namun kami jatuh cinta.”
***
Fiona kemudian menceritakan semuanya.
Tentang bagaimana mereka bertemu.
Bagaimana hubungan mereka disembunyikan.
Bagaimana pengkhianatan terjadi.
Bagaimana Darrien terbunuh.
Bagaimana ia menggunakan Forbidden Magic untuk mempertahankan jiwanya.
Tentang kesendiriannya.
Tentang waktu yang terus berlalu.
Tentang pencariannya.
Sampai akhirnya—
Veyth.
Edward dan Gloria.
Kelahiran Darrien.
Dan keputusan yang paling sulit dalam hidupnya.
Membawanya pergi.
Menyegel kekuatannya.
Menyegel ingatannya.
Dan membawa Darrien ke Akasia.
Semua orang mendengarkan.
Tidak ada yang memotong.
Tidak ada yang bercanda.
Bahkan Ace.
Untuk pertama kalinya—
ia benar-benar diam.
***
Setelah semuanya selesai—
Fiona menundukkan kepala.
“Aku tahu apa yang kulakukan kepada kalian terlihat salah.”
Ia menatap Edward dan Gloria.
“Aku mengambil anak kalian.”
Gloria terdiam.
Namun Fiona melanjutkan.
“Aku tidak akan mengatakan bahwa aku tidak bersalah.”
Edward menggenggam tangannya.
Ia masih terlihat berat.
Namun ia akhirnya berkata,
“Kau menyelamatkan jiwanya.”
Fiona menatapnya.
Edward menghela napas.
“Aku masih ingin tahu lebih banyak.”
“Tapi…”
Ia melihat Darrien.
“…aku tidak bisa mengatakan bahwa kau tidak mencintainya.”
Gloria mengusap air matanya.
“Tidak setelah melihat semua itu.”
***
Fiona kemudian menoleh kepada Darrien.
Dan—
seketika seluruh keberaniannya hampir menghilang.
Darrien masih menatapnya.
Tidak marah.
Tidak jijik.
Tidak takut.
Hanya menunggu.
Fiona menggenggam tangannya.
“Aku…”
Suaranya bergetar.
“Aku takut kau akan menganggapku monster.”
Darrien akhirnya dapat berbicara.
“Aku tidak pernah menganggapmu monster.”
Fiona membeku.
Darrien melangkah mendekat.
“Bahkan setelah melihat semuanya…”
Ia berhenti di hadapannya.
“…aku masih melihat Fiona.”
Air mata langsung memenuhi mata Fiona.
Darrien melanjutkan,
“Wanita yang duduk bersamaku di taman.”
“Wanita yang memarahiku karena makan terlalu banyak.”
“Wanita yang selalu mencari makanan baru.”
Ace perlahan menundukkan kepala.
Rowan menahan tawa.
Kevin memalingkan wajah.
Bahkan Elyon tersenyum tipis.
Darrien tersenyum.
“Dan wanita yang bertanya kepadaku apakah aku akan tetap berada di sisinya jika dia menjadi monster.”
Fiona menggigit bibirnya.
Darrien mengulurkan tangannya.
“Jawabanku tetap sama.”
Ia menggenggam tangan Fiona.
“Aku akan tetap di sisimu.”
Fiona tidak mampu menahan air matanya lagi.
Ia menundukkan kepala.
“Darrien…”
Darrien menariknya perlahan ke dalam pelukannya.
“Kau tidak perlu melarikan diri lagi.”
Fiona memejamkan mata.
Dan untuk pertama kalinya—
ia tidak mencoba bersembunyi.
Tidak mencoba menghilang.
Tidak mencoba melarikan diri.
Ia hanya memeluk Darrien kembali.
Setelah ribuan tahun—
akhirnya…
Saintess tidak lagi harus berdiri sendirian.
Share this novel