Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 397 — MENUNGGU JAWABAN
Di dalam barrier—
“Sekali lagi.”
Suara Kevin terdengar tenang.
Darrien menatapnya dengan wajah lelah.
“Bukankah kita baru saja melakukan itu?”
“Benar.”
“Lalu?”
“Sekali lagi.”
Darrien menghela napas panjang.
“…Aku mulai mengerti kenapa Ace menyebutmu iblis.”
Kevin tersenyum tipis.
“Bagus.”
Kemudian keduanya kembali bergerak.
**WHOOSH!**
Ledakan magicure terdengar dari dalam hutan.
Sementara itu—
di luar barrier, suasananya jauh lebih tenang.
Setidaknya… secara fisik.
Fiona, Ace, Rowan, Elyon, dan Elarion masih berada di sekitar area latihan.
Namun perhatian mereka kini terbagi antara suara latihan dari dalam barrier dan masalah yang belum terselesaikan.
Ace melirik ke arah barrier.
“Menurut kalian, mereka akan benar-benar datang mengambil jawaban itu?”
Rowan menghela napas.
“Mungkin.”
“Mereka sendiri yang mengirim surat.”
Elarion mengangguk.
“Dan Raizen sudah meminta jawaban secepatnya.”
Elyon menyandarkan tubuhnya pada pohon.
“Yang menjadi masalah…”
Ia melihat ke arah istana Veyth yang terlihat jauh di balik pepohonan.
“…kita masih tidak tahu bagaimana cara mereka mengirim surat dari Shadowcresent.”
Ace mengangkat alis.
“Dan kita bahkan tidak tahu di mana Shadowcresent berada.”
“Benar,” jawab Rowan.
“Jadi kita hanya bisa menunggu.”
Ace menghela napas.
“Menunggu vampire datang ke pintu depan Veyth?”
Elarion tertawa kecil.
“Kurang lebih.”
Ace menatapnya.
“Itu sama sekali tidak membuatku merasa lebih tenang.”
Fiona tersenyum kecil.
“Setidaknya kita tidak perlu mencari mereka terlebih dahulu.”
Elyon mengangguk.
“Itu juga yang kupikirkan.”
“Kalau mereka memang ingin jawaban, mereka pasti memiliki cara untuk mengambilnya.”
Rowan kemudian bertanya,
“Namun bagaimana kalau mereka tidak datang?”
Semua terdiam.
Pertanyaan itu cukup masuk akal.
Edward dan Gloria sudah memutuskan untuk tidak mengirim surat secara sembarangan.
Mereka tidak mengetahui jalur menuju Shadowcresent.
Dan mengirim seseorang tanpa mengetahui lokasi tujuan justru akan menjadi tindakan yang ceroboh.
Fiona menatap ke arah langit.
“Mungkin mereka akan datang.”
Ace mengangguk.
“Atau…”
Ia menunjuk ke arah barrier.
“…mungkin mereka sedang menunggu Darrien selesai dipukuli dulu.”
Dari dalam barrier—
**BOOM!**
Darrien terlempar melewati beberapa meter.
Ace langsung menutup mulut.
Rowan menahan tawa.
Elarion menggeleng.
“Sepertinya latihan itu masih jauh dari selesai.”
Fiona tertawa kecil.
“Biarkan mereka.”
***
Di dalam barrier—
Darrien kembali berdiri.
Ia membersihkan debu dari pakaiannya.
“Kevin.”
“Hm?”
“Kalau vampire benar-benar datang…”
Kevin menatapnya.
Darrien menarik napas.
“…kau mau ikut?”
Kevin tersenyum.
“Kalau diperlukan.”
Darrien mengangguk.
Kemudian—
Kevin kembali mengambil posisi.
“Sekarang fokus.”
Darrien menatapnya.
“…Kau tidak bisa memberiku waktu berpikir sedikit saja?”
“Tidak.”
Darrien menghela napas.
“Baiklah.”
**WHOOSH!**
Latihan kembali dimulai.
***
Di luar—
Fiona memperhatikan Darrien melalui barrier.
Senyumnya perlahan menghilang.
Ia tahu Darrien sedang berubah.
Bukan hanya menjadi lebih kuat.
Cara dia merasakan magicure—
cara dia bergerak—
semuanya mulai berbeda.
Namun Fiona juga tahu sesuatu yang lain.
Mimpi-mimpi Darrien belakangan ini semakin sering memengaruhinya.
Ia tidak tahu apa yang dilihat Darrien malam sebelumnya.
Namun ia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang terus dipikirkan olehnya.
Fiona tidak bertanya.
Belum.
Ia akan membiarkan Darrien menceritakannya ketika dia siap.
***
Sementara itu—
di ruang kerja kerajaan—
surat jawaban untuk Shadowcresent telah disegel.
Kini hanya tersisa satu pertanyaan.
**Siapa yang akan datang mengambilnya?**
Tidak seorang pun di Veyth mengetahui jawabannya.
Namun dua hari yang diberikan Raizen —
semakin dekat.
