300. Cahaya yang Terbangun

Romance Series 382

BAB 300 — CAHAYA YANG TERBANGUN

Giselle telah lenyap.

Tidak meninggalkan kesempatan untuk melawan.

Tidak meninggalkan kesempatan untuk melarikan diri.

Hanya keheningan yang tersisa di tempat ia sebelumnya berdiri.

Darrien tidak memperhatikannya lagi.

Tatapannya langsung kembali kepada Fiona.

Ia perlahan menurunkan tubuh Fiona dari pelukannya.

“Elyon.”

Elyon segera mendekat.

“Aku di sini.”

“Jaga dia.”

Darrien menyerahkan Fiona dengan sangat hati-hati.

Elyon dan Elarion segera membaringkannya di atas tanah yang relatif aman.

Elarion langsung memeriksa kondisi Fiona.

“Napasnya terlalu lemah.”

“Aku tahu.”

Elyon mengangkat kedua tangannya.

Sihir penyembuhan kembali muncul.

Namun kali ini—

Darrien tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu mereka.

Ia mengangkat satu tangan.

Dark Magic menyebar dari tubuhnya.

**BOOM.**

Sebuah penghalang hitam pekat terbentuk mengelilingi Elyon, Elarion, dan Fiona.

Lapisan sihirnya begitu padat hingga udara di sekitarnya terasa berubah.

Elyon menatap penghalang tersebut.

“Darrien…”

“Jangan keluar.”

Tatapan Darrien tetap mengarah ke medan perang.

“Aku akan menyelesaikannya.”

Elarion memahami maksudnya.

“Jadi kami tidak perlu khawatir tentang serangan dari luar?”

“Tidak akan ada yang bisa masuk.”

Darrien menoleh sebentar.

“Bawa dia kembali ke Lunaris.”

Elyon mengangguk.

“Kami akan melakukannya.”

Darrien kemudian berdiri.

Auranya kembali meningkat.

Ia menatap Kaguya.

***

Kaguya masih berdiri beberapa meter jauhnya.

Namun sekarang—

tatapannya jauh berbeda.

Giselle baru saja menghilang di hadapannya.

Dan Darrien bahkan tidak menunjukkan ekspresi apa pun setelah melakukannya.

Kaguya mengepalkan tangannya.

“Jadi…”

Ia menatap Darrien.

“Kau masih ingin melanjutkan?”

Darrien menjawab singkat.

“Aku harus kembali ke Lunaris.”

Kaguya terdiam.

Darrien mengambil posisi.

“Jadi jangan buang waktuku.”

Kaguya mengangkat tangannya.

Aura vampire kembali memenuhi hutan.

“Kalau begitu…”

Ia tersenyum.

“…kau harus melewatiku terlebih dahulu.”

Darrien menghilang.

**BOOM!**

Pertarungan kembali pecah.

Namun kali ini—

gerakan Darrien jauh berbeda.

Tidak ada lagi keraguan.

Tidak ada lagi keinginan untuk menguji lawan.

Setiap gerakannya diarahkan pada satu tujuan.

**Mengakhiri pertarungan secepat mungkin.**

***

Di sisi lain—

Mufasa kembali berhadapan dengan Kevin.

Kevin memperhatikan perubahan suasana.

“Sepertinya temanmu mulai serius.”

Mufasa tidak menjawab.

Ia langsung menyerang.

Kevin menangkis.

CLANG!

Keduanya kembali bertarung.

Mufasa tidak berniat membiarkan Kevin mendekati Kaguya.

Kevin juga tidak berniat membiarkan Mufasa mengganggu Darrien.

Pertarungan mereka kembali berlangsung.

***

Sementara itu—

di dalam penghalang Darrien—

Elyon dan Elarion masih bekerja.

Berbagai jenis sihir penyembuhan telah digunakan.

Cahaya memenuhi tubuh Fiona.

Satu lapisan.

Kemudian lapisan lainnya.

Namun—

tidak ada reaksi.

Napas Fiona masih sangat lemah.

Elyon menggertakkan gigi.

“Fiona…”

Tidak ada jawaban.

Elarion kembali memeriksa lukanya.

“Masih belum.”

“Gunakan metode lain.”

“Aku sudah mencoba beberapa.”

Elyon meningkatkan energinya.

Cahaya semakin terang.

Namun luka itu tetap tidak menunjukkan tanda-tanda pulih.

Darah yang tersisa masih membasahi pakaian Fiona.

Elyon menatap wajahnya.

“Bertahanlah.”

***

Kemudian—

sesuatu bergerak.

Sangat samar.

Hampir tidak terlihat.

Elarion berhenti.

“Tunggu.”

Elyon menoleh.

“Apa?”

Elarion menunjuk dada Fiona.

“Lihat.”

Di sana—

tepat di dekat luka—

kalung dengan simbol daun perak mulai bersinar.

Sangat lembut.

Hampir seperti cahaya bulan.

Elyon membeku.

“Apa itu?”

Sebelum ia sempat mendekat—

gelang di pergelangan tangan Fiona juga mulai bercahaya.

Cahaya yang sama.

Murni.

Tenang.

Namun kali ini—

cahaya tersebut tidak berasal dari sihir Elyon.

Elarion menatapnya dengan mata melebar.

“Bukan dari kita.”

Elyon perlahan mendekat.

“Tidak…”

Keduanya memperhatikan benda-benda itu.

Cahaya dari daun perak semakin jelas.

Sangat tipis.

Namun stabil.

Kemudian—

cahaya dari kalung bergerak menuju luka Fiona.

Garis tipis seperti benang cahaya menyentuh darah yang mengalir.

Gelang itu ikut bereaksi.

Dua sumber cahaya kecil bekerja bersamaan.

Elyon terdiam.

“…”

Elarion juga tidak mengatakan apa-apa.

Cahaya tersebut perlahan menyelimuti luka.

Tidak kasar.

Tidak memaksa.

Tidak seperti sihir penyembuhan biasa.

Justru terasa—

sangat murni.

Sangat lembut.

Seolah kedua benda itu sendiri—

menyadari bahwa pemiliknya berada dalam bahaya.

Luka Fiona mulai berhenti mengeluarkan darah.

Sedikit demi sedikit.

Napasnya yang sebelumnya begitu lemah—

perlahan menjadi lebih stabil.

Elyon membelalakkan mata.

“Elarion…”

“Aku melihatnya.”

Mereka berdua hanya mampu menatap.

Tidak ada yang menyentuh kalung itu.

Tidak ada yang mengaktifkannya.

Tidak ada mantra yang digunakan.

Cahaya itu muncul—

dengan sendirinya.

Dan semakin lama—

semakin jelas.

Elarion mendekat sedikit.

Tatapannya penuh rasa ingin tahu.

“Sejak kapan benda itu bisa melakukan ini?”

Elyon tidak menjawab.

Karena ia juga tidak tahu.

Mereka hanya bisa menyaksikan—

dua benda dengan simbol daun perak itu perlahan menggunakan cahaya mereka sendiri untuk menyembuhkan Fiona.

Di luar penghalang—

Darrien masih bertarung.

Kaguya masih bertahan.

Mufasa dan Kevin masih beradu kekuatan.

Tidak seorang pun mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam penghalang.

Tidak seorang pun menyadari bahwa—

sesuatu yang telah lama diam pada diri Fiona—

akhirnya mulai merespons.

Dan untuk pertama kalinya malam itu—

napas Fiona menjadi sedikit lebih stabil.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience