Completed
594
BAB 487 — PINTU YANG AKHIRNYA TERBUKA
DUARRRR!
Ledakan besar kembali mengguncang seluruh dimensi.
Gelombang energi menyapu ruang kelabu itu dan membuat puluhan batu raksasa yang melayang di udara berputar liar.
Debu hitam beterbangan.
Cahaya dari lingkaran sihir kuno berkedip-kedip di antara kabut.
Dan sebelum siapa pun sempat menarik napas—
GRRRRRRR!
Geraman panjang terdengar dari segala arah.
Darrien mengangkat wajah.
Matanya bergerak perlahan ke kiri.
Kemudian ke kanan.
Bayangan mulai muncul dari balik batu-batu yang melayang.
Satu.
Lima.
Sepuluh.
Puluhan.
Kemudian jumlahnya terus bertambah.
Makhluk-makhluk bayangan itu memiliki bentuk seperti serigala besar, tetapi tubuh mereka tidak memiliki daging.
Mereka seluruhnya tersusun dari magicure hitam.
Mata merah mereka menyala dalam kegelapan.
Cakar mereka menggores permukaan batu.
KRRRK...
Darrien tersenyum tipis.
"Sepertinya mereka belum selesai."
Kevin berdiri di sebelahnya sambil mengamati gerakan makhluk-makhluk tersebut.
"Bukan mereka yang menentukan."
Darrien menoleh.
Kevin menunjuk ke langit.
"Lihat lingkarannya."
Darrien mengangkat pandangan.
Beberapa lingkaran sihir yang sebelumnya diam kini berputar perlahan.
Satu lingkaran menyala.
Kemudian lingkaran kedua.
Ketiga.
Keempat.
Kevin menarik napas.
"Dimensinya yang menentukan berapa banyak yang akan muncul."
Darrien mengangkat sudut bibirnya.
"Jadi gunung ini benar-benar tidak mau kita masuk."
Kevin tertawa kecil.
"Sepertinya begitu."
Darrien memutar bahunya.
Sendi lengannya berbunyi pelan.
"Bagus."
Kevin menatapnya.
"Bagus?"
"Aku sudah lama tidak bertarung seperti ini."
Kevin tertawa.
"Kau menikmati ini."
"Sedikit."
"Sedikit?"
Darrien menatap gerombolan makhluk di depan mereka.
"Baiklah."
Senyumnya semakin lebar.
"Banyak."
Kevin langsung mengangkat tangannya.
"Kalau begitu jangan ambil semua."
Darrien meliriknya.
"Kenapa?"
"Aku juga ingin bermain."
Darrien tertawa kecil.
"Baik."
Keduanya maju bersamaan.
WHOOOSH!
Darrien melesat lebih dulu.
Tubuhnya menembus udara dengan kecepatan tinggi.
Seekor makhluk bayangan menerkam.
Darrien memiringkan tubuhnya.
Cakar melewati bahunya hanya beberapa sentimeter.
Ia berputar.
Tangannya menghantam sisi tubuh makhluk itu.
BOOM!
Makhluk tersebut terlempar.
Belum sempat tubuhnya jatuh—
Darrien sudah berada di depannya.
Pukulan kedua.
BOOM!
Tubuh bayangan itu pecah.
Namun serpihan hitam tidak menghilang.
Kabutnya kembali berkumpul.
Darrien berhenti.
"Hm."
Makhluk itu bangkit kembali.
Darrien mengusap dagunya.
"Regenerasi?"
Kevin muncul di sampingnya.
"Kurang tepat."
Ia menunjuk tubuh makhluk tersebut.
"Lihat."
Kabut hitam yang membentuk tubuh makhluk itu sebenarnya tidak berasal dari dirinya.
Sebagian energi terus mengalir dari lingkaran sihir di atas.
Darrien memperhatikan beberapa detik.
Kemudian matanya menyipit.
"Jadi tubuhnya hanya wadah."
"Ya."
Kevin tersenyum.
"Kalau begitu jangan buang waktu menghancurkan mereka."
Darrien mengangguk.
"Kita cari sumbernya."
Mereka kembali bergerak.
Kali ini serangan mereka tidak lagi diarahkan untuk membunuh.
Mereka mulai menguji.
Darrien menghantam satu makhluk.
Kevin memblokir yang lain.
Elyon dan Elarion mengawasi dari kejauhan.
"Perhatikan lingkaran ketiga!" teriak Elarion.
Elyon mengangkat tangannya.
Cahaya melesat.
Sebuah makhluk bayangan yang sedang bergerak tiba-tiba membeku.
Lingkaran di atasnya berkedip.
Elyon menyipitkan mata.
"Benar."
Elarion segera mendekat.
"Apa yang kau lihat?"
"Alirannya."
Elyon menunjuk udara.
"Setiap kali makhluk itu menerima kerusakan besar, energi dari lingkaran ketiga meningkat."
Elarion memandangnya beberapa detik.
"Jadi lingkaran itu yang memasoknya?"
"Mungkin."
Elarion menggeleng.
"Jangan terlalu cepat menyimpulkan."
Elyon tertawa kecil.
"Aku hanya mengatakan mungkin."
"Bagus."
Elarion kembali mengangkat tangan.
"Karena kalau kita salah..."
DUARR!
Sebuah ledakan terjadi tepat di samping mereka.
Elyon terdorong beberapa langkah.
"...kita mati."
Elarion menghela napas.
"Itulah maksudku."
Elyon tertawa.
"Baik."
Mereka kembali fokus.
Namun tiba-tiba—
KRAAAK!
Lantai di bawah kaki mereka retak.
Elarion langsung melompat.
"Elyon!"
"Aku lihat!"
Retakan menyebar.
Seluruh lantai berubah menjadi potongan-potongan batu yang terpisah.
Beberapa batu naik.
Beberapa turun.
Beberapa bahkan menghilang ke dalam kegelapan.
Elyon melayang menggunakan sihir.
Elarion ikut terbang.
Di bawah mereka—
ruang kosong terbuka.
Tidak ada dasar.
Tidak ada ujung.
Elarion menatap ke bawah.
"...Aku mulai membenci tempat ini."
Elyon tersenyum.
"Mulai?"
Elarion meliriknya.
"Jangan membuatku mendorongmu."
Elyon tertawa.
Di sisi lain—
Darrien dan Kevin masih bertarung.
DUARR!
DUARR!
DUARR!
Mereka bergerak seperti sudah berlatih bersama selama bertahun-tahun.
Darrien menghancurkan satu sisi.
Kevin menutup sisi lainnya.
Ketika satu makhluk mencoba menyerang dari belakang—
Kevin langsung memasang penghalang.
Ketika tiga makhluk mengepung Kevin—
Darrien muncul dari samping.
BOOM!
"Terima kasih."
"Jangan lengah."
"Aku tidak lengah."
"Barusan hampir kena."
"Itu strategi."
Darrien tertawa.
"Strategi apa?"
"Memberi mereka harapan."
Darrien menggeleng.
"Kau mulai seperti Ace."
Kevin terdiam.
"...Jangan menghina aku."
Dari jauh—
Ace berteriak.
"Aku DENGAR!"
Rowan yang berdiri di sampingnya menebas makhluk yang mendekat.
"Dia tidak mengatakan sesuatu yang salah."
Ace menoleh.
"Kau juga?"
Rowan mengangkat bahu.
Ace menghela napas panjang.
"Baiklah."
Ia mengangkat pedangnya.
"Kalau begitu aku akan membuktikan bahwa aku berguna."
Makhluk bayangan menerjang.
Ace menarik napas.
"Datang!"
CLANG!
Pedangnya menahan cakar.
Ace mendorongnya.
Kemudian menendang perut makhluk itu.
Makhluk tersebut terpental.
Ace tersenyum.
"Ha!"
Ia menunjuknya.
"LIHAT?"
Rowan mengangguk.
"Bagus."
Ace tersenyum puas.
Kemudian makhluk yang sama bangkit kembali.
Ace:
"..."
Rowan:
"..."
Ace perlahan menurunkan pedangnya.
"Aku tidak jadi membuktikan apa pun."
Rowan menghela napas.
"Kau menyerah terlalu cepat."
"Aku realistis."
***
Pertempuran berlangsung semakin lama.
Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu berapa lama mereka sudah berada di dalam dimensi itu.
Waktu terasa aneh.
Kadang beberapa menit terasa seperti jam.
Kadang perubahan ruang terjadi begitu cepat sehingga mereka bahkan tidak tahu apakah mereka masih berada di lokasi yang sama.
Namun perlahan—
Elarion dan Elyon mulai memahami sesuatu.
Dimensi ini tidak berubah secara acak.
Ada pola.
Sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
Setiap kali mereka menghancurkan sesuatu—
dimensi bereaksi.
Setiap kali mereka menggunakan jenis magicure tertentu—
ruang menyesuaikan.
Dan setiap kali mereka mencoba mengikuti jalan—
jalan itu berubah.
Elyon tiba-tiba berhenti.
"Tunggu."
Elarion menoleh.
"Apa?"
Elyon menatap lantai.
"Jangan bergerak."
Elarion ikut melihat.
Di antara retakan batu terdapat garis tipis berwarna perak.
Sangat tipis.
Hampir seperti goresan biasa.
Elyon berlutut.
Ia tidak menyentuhnya.
Hanya mengamati.
"Ini bukan perangkap."
Elarion mendekat.
"Bagaimana kau tahu?"
"Magicurenya."
Elyon mengangkat tangannya perlahan.
"Semua perangkap sebelumnya mencoba membaca kita."
Ia menunjuk garis tersebut.
"Yang ini tidak."
Elarion mengamati lebih dekat.
"...Ia mengarah ke sana."
Keduanya menoleh.
Di kejauhan—
sebuah jalan panjang baru saja muncul.
Dan di ujungnya—
terlihat sesuatu.
Sebuah bangunan.
Tidak.
Lebih tepatnya—
sebuah gerbang.
Elyon tersenyum.
"Jangan bilang..."
Elarion sudah berdiri.
"Jangan terlalu berharap."
"Tapi itu gerbang."
"Mungkin."
Elyon menatapnya.
"Kalau begitu?"
Elarion menghela napas.
"Kita periksa."
Keduanya mulai bergerak.
Namun dimensi seolah menyadari mereka.
WHOOOOM!
Seluruh ruang kembali bergetar.
Jalan yang baru muncul mulai menyempit.
Gerbang di kejauhan mulai menghilang.
Elyon langsung berlari.
"Elarion!"
"Aku tahu!"
Mereka berdua melesat.
Di belakang mereka—
ratusan makhluk bayangan kembali bergerak.
Darrien melihat gerbang yang semakin jauh.
"Elyon!"
"BUKA JALANNYA!"
Darrien mengerti.
Ia menarik napas dalam.
Magicure mengalir ke seluruh tubuhnya.
Kemudian—
BOOOOM!
Darrien menghantam permukaan dimensi.
Gelombang energi menyebar.
Bukan untuk menghancurkan.
Melainkan untuk menahan perubahan ruang selama beberapa detik.
Kevin langsung mengikutinya.
Ia menciptakan beberapa lapisan penghalang.
"Satu!"
DUARR!
Penghalang pertama pecah.
"Dua!"
DUARR!
Penghalang kedua retak.
"Tiga!"
Makhluk-makhluk bayangan menghantam penghalang ketiga.
Kevin menggertakkan gigi.
"Jangan bercanda..."
Darrien berdiri di sampingnya.
"Berapa lama?"
"Sepuluh detik!"
Darrien tersenyum.
"Cukup."
Ia melesat.
Kevin mengikutinya.
Ace, Rowan, dan yang lain bergerak menyusul.
Elarion dan Elyon akhirnya mencapai gerbang.
Elarion meletakkan tangannya di permukaan batu.
Cahaya muncul.
Kemudian mati.
Elyon mencoba.
Hal yang sama terjadi.
Keduanya saling pandang.
Elyon menghela napas.
"Belum."
Elarion mengangguk.
"Gerbang ini tidak dibuka dengan kekuatan."
"Jadi dengan apa?"
Elarion melihat garis-garis kuno di permukaannya.
"Pola."
Elyon terdiam.
Kemudian tersenyum.
"Dimensi sudah mengenali kita."
"Ya."
"Kalau begitu..."
Elyon menutup mata.
"...kita gunakan apa yang sudah dipelajarinya."
Elarion mengangguk.
Keduanya mengalirkan magicure secara perlahan.
Tidak dipaksa.
Tidak meledak.
Tidak menyerang.
Mereka membiarkan energi mereka bergerak mengikuti pola yang telah dipelajari dimensi.
Satu simbol menyala.
Kemudian simbol kedua.
Ketiga.
Keempat.
Di belakang mereka—
Darrien dan Kevin masih bertahan.
DUARR!
DUARR!
DUARR!
"BERAPA LAMA LAGI?!"
teriak Darrien.
Elarion menjawab tanpa menoleh.
"SEDIKIT LAGI!"
Kevin tertawa.
"Aku harap 'sedikit' milikmu benar-benar sedikit!"
Elyon membuka mata.
"SEKARANG!"
KRAAAAK—
Gerbang bergetar.
Cahaya muncul di celahnya.
Perlahan...
pintu itu terbuka.
Udara berbeda mengalir masuk.
Angin.
Udara pegunungan.
Udara Shadowcresent yang sebenarnya.
Elarion terdiam.
Elyon juga.
Mereka menatap cahaya di balik pintu.
Untuk pertama kalinya—
mereka benar-benar melihat jalan keluar.
Elarion berbisik,
"...Kita menemukannya."
Elyon tersenyum.
"Ya."
Namun—
mereka belum tahu apa yang menunggu di balik pintu itu.
***
Jauh dari sana...
Mufasa masih berdiri di ruang pengawasan.
Kristal besar di depannya menampilkan seluruh pergerakan Veyth.
Ia melihat gerbang terbuka.
Tatapannya berubah serius.
"Mereka berhasil."
Seorang penyihir vampir berdiri di sampingnya.
"Apakah kita menutupnya?"
Mufasa diam.
Kemudian menggeleng.
"Tidak."
Penyihir itu terkejut.
"Tidak?"
Mufasa menatap gerbang.
"Biarkan."
"Kenapa?"
Mufasa tersenyum tipis.
"Karena mereka belum keluar dari gunung."
Ia mengangkat tangan.
"Siapkan lapisan berikutnya."
Para penyihir langsung bergerak.
Mufasa memberikan perintah satu demi satu.
"Ubah jalur utara."
"Alihkan energi ke sektor tujuh."
"Jangan gunakan pola yang sama."
"Dan pastikan mereka tidak mendapatkan jalur lurus menuju istana."
"Ya, Tuan."
Mufasa kembali melihat kristal.
Darrien dan kelompoknya sekarang berdiri di depan pintu.
Mereka mengira telah menemukan jalan keluar.
Mufasa menghela napas.
"Selamat datang di tahap berikutnya."
***
Sementara itu—
di dalam istana Shadowcresent...
Raizen berjalan perlahan melewati koridor.
Fiona berada dalam pelukannya.
Tertidur nyenyak.
Kepalanya bersandar di dada Raizen.
Salah satu tangannya mencengkeram pakaian Raizen tanpa sadar.
Raizen menunduk.
Melihat wajah Fiona yang tenang.
Senyumnya muncul kecil.
"Nyaman?"
Fiona tidak menjawab.
Ia hanya bergerak sedikit dan semakin dekat.
Raizen memperbaiki posisi lengannya.
Ia berjalan lagi.
Koridor istana begitu tenang.
Tidak ada suara perang.
Tidak ada suara ledakan.
Hanya langkah kaki Raizen.
Dan napas Fiona.
Raizen berhenti sejenak di dekat jendela.
Dari sana ia bisa melihat pegunungan Shadowcresent.
Jauh di sana—
jaringan pertahanan sedang bergerak.
Raizen bisa merasakannya.
Veyth masih ada.
Masih berjuang.
Masih mencari jalan.
Ia menatap pegunungan beberapa detik.
Kemudian menatap Fiona lagi.
Raizen menghela napas.
"Seharusnya mereka sudah menyerah."
Ia melanjutkan langkah.
Namun setelah beberapa detik, ia mulai menghitung dalam pikirannya.
Mereka telah mempelajari terlalu banyak.
Mereka telah menembus terlalu jauh.
Dan sekarang mereka bahkan sudah menemukan jalan keluar dari salah satu dimensi.
Raizen menyipitkan mata.
"...Mungkin."
Ia berhenti di depan pintu kamarnya.
"Sehari?"
Ia menggeleng.
"Tidak."
"Dua hari?"
Raizen membuka pintu.
Ia masuk sambil tetap menggendong Fiona.
Kemudian meletakkannya perlahan di tempat tidur.
Fiona bergerak sedikit.
Raizen segera menarik selimut ke tubuhnya.
Ia duduk di sisi tempat tidur.
Menatap wajah Fiona.
Kemudian ia tersenyum kecil.
"Dua hari."
Ia mengusap rambut Fiona.
"Kurasa dua hari lagi..."
Raizen menghela napas panjang.
"...kedamaian yang baru kutemukan akan dirusak oleh mereka lagi."
Fiona masih tertidur.
Tidak mengetahui apa pun.
Tidak mengetahui bahwa di kejauhan—
Darrien sedang berjuang untuk mencapainya.
Dan tidak mengetahui bahwa Raizen sedang berharap...
agar pria itu akhirnya menyerah.
Raizen menunduk.
Mencium kening Fiona.
"Untuk sekarang..."
Ia berbisik.
"...tidurlah."
Di luar jendela—
bulan perlahan naik.
Dan jauh di pegunungan Shadowcresent...
sebuah gerbang yang baru saja ditemukan Veyth—
terbuka lebar.
Menunggu mereka melangkah keluar.
Atau mungkin...
masuk lebih jauh ke dalam perangkap berikutnya.
Share this novel