465. Jalan- jalan Di Shadowcresent

Romance Completed 594

BAB 465 — JALAN-JALAN DI SHADOWCRESENT

Pagi itu berjalan cukup santai.

Setelah sarapan, Fiona mengira mereka akan kembali ke taman mawar seperti biasanya.

Namun ketika ia keluar dari ruang makan—

Raizen sudah menunggunya di koridor.

Fiona berhenti.

"Kita mau ke mana?"

Raizen mengulurkan tangannya.

"Ikut aku."

Fiona memandang tangannya.

Kemudian memandang wajah Raizen.

"Itu bukan jawaban."

"Kau akan tahu setelah sampai."

Fiona menyipitkan mata.

"Kau suka sekali membuat kejutan."

"Dan kau suka sekali bertanya sebelum waktunya."

Fiona mendengus.

"Karena aku penasaran."

"Aku tahu."

"Jadi?"

Raizen masih mengulurkan tangan.

Fiona akhirnya menggenggamnya.

"Baiklah."

Ia berjalan di samping Raizen.

"Tapi kalau ternyata tempatnya membosankan..."

Raizen meliriknya.

"Kau akan melakukan apa?"

"Aku akan mengeluh."

Raizen tersenyum.

"Aku sudah menduga."

---

Mereka meninggalkan bagian utama istana.

Kali ini Raizen tidak membawa Fiona menuju taman.

Mereka melewati koridor luar dan turun menuju jalan batu yang mengarah ke bagian lain dari wilayah Shadowcresent.

Fiona memperhatikan sekeliling.

"Selama ini aku hanya melihat bagian dekat istana."

"Karena sebagian besar tempat yang ingin kau kunjungi ada di sini."

Raizen menunjuk ke arah hutan di kejauhan.

"Wilayah ini jauh lebih luas."

Fiona menoleh.

"Seberapa luas?"

Raizen menjawab santai.

"Lebih luas daripada yang kau kira."

Fiona berhenti berjalan.

"Jawaban macam apa itu?"

Raizen ikut berhenti.

"Jawaban yang benar."

Fiona menatapnya beberapa detik.

Kemudian menghela napas.

"Kau menyebalkan."

Raizen tersenyum.

"Aku tahu."

"Dan kau bangga."

"Sedikit."

Fiona akhirnya tertawa.

---

Mereka melewati sebuah area yang dipenuhi pohon-pohon tua.

Beberapa di antaranya memiliki batang yang sangat besar hingga Fiona harus mendongakkan kepala untuk melihat ujungnya.

"Apa pohon-pohon ini juga sudah ada sejak dulu?"

"Sebagian."

"Seberapa lama?"

"Beberapa ratus tahun."

Fiona menatapnya.

"Bagimu itu sebentar, kan?"

Raizen berpikir.

"Ya."

Fiona menggeleng.

"Jangan pernah membandingkan umurmu dengan orang biasa."

"Kenapa?"

"Karena membuatku merasa tua."

Raizen menatapnya.

"Kau tidak tua."

Fiona mengangkat alis.

"Itu pujian?"

"Fakta."

"Bagaimana kalau aku benar-benar tua?"

"Aku tetap akan mengenalimu."

Fiona terdiam.

Kemudian tersenyum kecil.

"Jawaban yang bagus."

Raizen kembali berjalan.

"Aku belajar."

Fiona menyusul.

"Oh?"

"Darimu."

"Berarti aku guru yang hebat."

Raizen menoleh.

"Kadang."

Fiona langsung mencubit lengannya.

"Kadang?"

Raizen tertawa kecil.

---

Mereka terus berjalan sampai tiba di sebuah area terbuka.

Di sana terdapat bangunan batu tua yang sebagian dikelilingi tanaman merambat.

Fiona memandangnya penasaran.

"Apa ini?"

"Bekas paviliun."

"Dulu digunakan untuk apa?"

"Tempat berkumpul."

"Untuk pesta?"

"Kadang."

Fiona masuk perlahan.

Bagian dalamnya sederhana.

Tidak seperti aula utama istana.

Tidak ada kemewahan berlebihan.

Hanya beberapa meja batu dan kursi yang sudah tua.

Fiona menyentuh salah satu permukaannya.

"Tempat ini terasa tenang."

Raizen mengangguk.

"Dulu aku sering datang ke sini."

"Sendirian?"

"Biasanya."

Fiona menatapnya.

"Kasihan sekali."

Raizen mengangkat alis.

"Aku tidak merasa kasihan pada diriku sendiri."

"Aku yang merasa kasihan."

"Kenapa?"

"Karena kau terlalu lama sendirian."

Raizen diam.

Fiona tersenyum kecil.

Kemudian menarik tangannya.

"Sudah."

Ia menunjuk keluar.

"Jangan murung."

"Aku tidak murung."

"Ekspresimu seperti itu."

"Ini wajahku."

Fiona menahan tawa.

"Kalau begitu wajahmu yang murung."

Raizen menghela napas.

"Kau mulai berani."

"Karena kau membiarkanku."

Raizen tersenyum.

"Mungkin."

---

Menjelang siang—

mereka tiba di sebuah dataran tinggi.

Dari sana Fiona bisa melihat sebagian besar Shadowcresent.

Pegunungan.

Hutan.

Dan wilayah luas yang mengelilingi istana.

Fiona berdiri di tepi tebing dengan mata berbinar.

"Wow..."

Raizen berdiri di sampingnya.

"Bagaimana?"

"Indah."

Ia melihat ke arah lain.

"Kenapa aku tidak pernah melihat tempat ini sebelumnya?"

"Karena aku tidak membawamu."

Fiona langsung menoleh.

"Jadi salahmu."

"Benar."

"Bagus. Kau mengaku."

Raizen tertawa kecil.

Fiona tersenyum puas.

Kemudian ia melihat jalan menurun di sisi lain.

"Apa ada sesuatu di sana?"

"Jangan."

Fiona berhenti.

"Kenapa?"

"Jalannya curam."

"Aku bisa berjalan."

"Fiona."

"Aku bisa."

Raizen menatapnya.

Fiona menatap balik.

Beberapa detik.

Akhirnya Raizen menghela napas.

"Baik."

Fiona tersenyum lebar.

"Tapi kau ikut."

"Aku memang akan ikut."

"Dan jangan bilang aku tidak boleh pergi."

"Aku tidak bilang begitu."

"Bagus."

Fiona mulai berjalan.

Beberapa langkah kemudian—

Raizen berkata,

"Pelan."

Fiona langsung menoleh.

"Aku baru saja bilang jangan melarang."

"Aku menyuruhmu pelan."

"Itu hampir sama."

"Berbeda."

"Menurutmu."

"Menurut siapa lagi?"

Fiona mendengus.

Raizen tersenyum.

Mereka akhirnya turun bersama.

---

Saat matahari mulai tinggi—

Fiona berhenti.

"Aku haus."

Raizen langsung menoleh.

"Kalau begitu kita istirahat."

Mereka kembali ke jalur yang lebih aman.

Tidak lama kemudian, Mufasa sudah muncul di salah satu paviliun kecil.

Ia membawa nampan teh.

Fiona menatapnya.

"Mufasa?"

Mufasa menunduk.

"Yang Mulia meminta saya menyiapkan teh."

Fiona duduk.

"Kau ikut kami sejak tadi?"

"Tidak."

Mufasa meletakkan cangkir.

"Saya hanya menerima perintah untuk menunggu di sini."

Fiona melihat Raizen.

Raizen sudah duduk di sebelahnya.

"Kau sengaja menyiapkan semuanya?"

"Ya."

Fiona tersenyum.

"Terima kasih."

Mufasa mengangguk.

"Sama-sama."

Ia kemudian berdiri di samping mereka.

Fiona mengambil cangkir.

Menyesap sedikit.

"Enak."

Raizen memperhatikan.

"Bagus."

Fiona menatapnya.

"Kenapa kau terlihat puas?"

"Karena kau menyukainya."

Fiona tersenyum.

"Kau memang mulai pintar."

Mufasa yang berdiri di belakang mereka:

*...*

Ia menatap keduanya.

Kemudian menghela napas kecil.

Raizen menoleh.

"Kenapa kau menghela napas?"

Mufasa menjawab datar.

"Tidak ada."

Fiona menahan tawa.

"Kau sering sekali menghela napas."

"Saya sudah lama bekerja untuk Yang Mulia."

"Itu menjelaskan semuanya."

Raizen menatap Fiona.

"Jangan mengganggu Mufasa."

Fiona tersenyum polos.

"Aku hanya berbicara."

Mufasa mengangguk.

"Benar."

Kemudian ia menatap Raizen.

"Yang Mulia sebaiknya berhati-hati."

Raizen mengangkat alis.

"Dengan apa?"

"Fiona mulai mengetahui bahwa Yang Mulia bisa diganggu."

Fiona langsung tertawa.

Raizen terdiam.

Kemudian ia menatap Mufasa.

"Kau juga mulai berani."

Mufasa membungkuk sedikit.

"Saya belajar dari Fiona."

Fiona tertawa semakin keras.

Raizen hanya bisa menggeleng.

---

Setelah teh selesai—

Fiona berdiri.

"Ke mana sekarang?"

Raizen memandangnya.

"Kau belum lelah?"

"Belum."

"Tadi kau mengeluh haus."

"Itu berbeda."

"Bagaimana?"

"Aku hanya haus."

Raizen tertawa.

"Baik."

Ia mengulurkan tangan.

"Kalau begitu ikut aku."

Fiona menggenggam tangannya.

Mereka kembali berjalan.

Mufasa memperhatikan dari belakang.

Ia kemudian mengambil nampan kosong.

Menghela napas.

Lagi.

Namun kali ini senyum kecil muncul di wajahnya.

Beberapa minggu lalu—

ia masih sibuk mengatur pertahanan Shadowcresent.

Sekarang—

ia membawa teh untuk rajanya yang sedang membawa Fiona berkeliling kerajaan.

Aneh.

Sangat aneh.

Namun Mufasa tidak membencinya.

Karena setidaknya—

istana yang selama ribuan tahun terasa terlalu sunyi kini memiliki suara tawa.

Dan itu mungkin perubahan terbesar yang pernah terjadi di Shadowcresent.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience