454. Wajah Yang Tak Terlihat

Romance Completed 594

BAB 454 — WAJAH YANG TAK TERLIHAT

Dan malam itu...

Fiona bermimpi.

Ia berdiri di tepi sebuah danau.

Airnya tenang.

Begitu tenang hingga permukaannya memantulkan cahaya langit seperti sebuah cermin.

Angin lembut menyentuh rambutnya.

Namun Fiona tidak sendirian.

Ada seseorang di sampingnya.

Tangannya menggenggam tangan orang itu.

Hangat.

Nyaman.

Aneh sekali...

Rasanya begitu familiar.

Mereka berjalan perlahan di sepanjang tepian danau.

Fiona menoleh.

Ia mencoba melihat wajah orang di sampingnya.

Namun—

wajah itu buram.

Bukan karena gelap.

Bukan karena orang itu membelakanginya.

Ia hanya...

tidak bisa melihatnya.

Seolah ada kabut tipis yang selalu menutupi wajah tersebut setiap kali Fiona mencoba memandangnya.

Fiona mengerutkan kening.

"Siapa kau...?"

Tidak ada jawaban.

Mereka tetap berjalan.

Tangannya masih digenggam.

Dan entah mengapa—

hati Fiona terasa begitu hangat.

Ada perasaan yang sangat dalam di sana.

Perasaan yang tidak perlu dijelaskan.

Ia tahu.

Ia mencintai orang ini.

Fiona berhenti berjalan.

Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

"Raizen...?"

Untuk sesaat, ia mengira itu Raizen.

Namun...

bukan.

Aura orang ini berbeda.

Sangat berbeda.

Aura Raizen terasa dingin, kuno, tenang, dan memiliki tekanan yang sulit dijelaskan.

Sedangkan orang ini...

rasanya berbeda.

Lebih familiar.

Lebih lembut.

Seperti sesuatu yang sudah ada di dalam dirinya sejak lama.

Fiona menatap wajah yang tetap buram itu.

"Kalau bukan Raizen..."

Ia menggenggam tangan itu sedikit lebih erat.

"Siapa kau?"

Kabut di sekitar wajah itu bergerak.

Seolah sesuatu hampir terlihat.

Hampir—

Namun sebelum Fiona bisa melihatnya...

—

Fiona membuka matanya.

---

Cahaya pagi yang lembut masuk melalui tirai kamar.

Fiona berkedip beberapa kali.

Ia terdiam.

Mimpi?

Tangannya bergerak sedikit di atas selimut.

Ia mencoba mengingat kembali wajah orang tadi.

Tidak bisa.

Sama sekali tidak.

Hanya perasaan yang tertinggal.

Perasaan hangat.

Dan suara hatinya sendiri yang mengatakan bahwa ia mencintai orang itu.

Fiona mengerutkan kening.

Aneh.

Ia memiringkan kepala.

Kemudian pandangannya beralih ke samping.

Raizen masih tertidur.

Wajahnya terlihat jauh lebih tenang ketika sedang tidur.

Tidak ada tatapan tajam.

Tidak ada aura mengintimidasi.

Tidak ada ekspresi seorang penguasa kuno.

Hanya Raizen.

Fiona memperhatikannya beberapa saat.

Kemudian senyum kecil muncul di wajahnya.

"Ah..."

Ia berbisik pelan.

"Mungkin cuma mimpi."

Kalau begitu—

tidak perlu diceritakan.

Fiona tidak ingin membangunkan Raizen hanya karena mimpi aneh.

Ia mengangkat tangannya.

Ujung jarinya perlahan menyentuh wajah Raizen.

Menyusuri pipinya dengan lembut.

Raizen sedikit mengerutkan alis dalam tidurnya.

Fiona langsung berhenti.

Ia menahan tawa.

Namun beberapa detik kemudian, jarinya kembali bergerak.

Menyentuh rambutnya.

Kemudian pipinya.

Hidungnya.

Fiona tersenyum semakin lebar.

"Kau terlihat jauh lebih muda kalau tidur."

Tidak ada jawaban.

Raizen masih tidur.

Fiona mendekat sedikit.

"Dan tidak menakutkan."

Alis Raizen bergerak lagi.

Fiona langsung menarik tangannya.

"...Kau dengar?"

Tetap tidak ada jawaban.

Fiona menatapnya curiga.

Kemudian ia menyentuh pipinya sekali lagi.

Kali ini Raizen bergerak.

Tangannya terangkat perlahan.

Fiona sempat terkejut ketika tangan Raizen menangkap pergelangan tangannya.

Namun Raizen tidak membuka mata.

Ia hanya menarik tangan Fiona mendekat dan meletakkannya di dadanya.

Fiona membeku.

"Raizen..."

Raizen masih setengah tertidur.

Suaranya rendah dan serak.

"Jangan mengganggu."

Fiona menahan tawa.

"Aku cuma menyentuh wajahmu."

"Hm."

"Kenapa tanganku malah kau tarik?"

"Nyaman."

Fiona terdiam.

Kemudian tertawa kecil.

"Pemalas."

Raizen membuka mata sedikit.

Tatapan crimson-nya masih berat karena mengantuk.

Ia menatap Fiona beberapa detik.

Lalu memejamkan mata kembali.

"Masih pagi."

Fiona tersenyum.

"Kalau begitu tidur lagi."

Raizen menariknya lebih dekat.

Fiona akhirnya membiarkan dirinya bersandar di dadanya.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Mimpi aneh tadi perlahan menghilang dari pikirannya.

Fiona memejamkan mata.

Mungkin memang hanya mimpi.

Dan ia tidak perlu memikirkannya lagi.

---

Sementara itu...

Di Istana Veyth.

Pagi yang sama tidak terasa setenang itu.

King Edward dan Queen Gloria kembali berada di aula utama.

Kali ini seluruh kelompok Veyth telah berkumpul.

Mereka sudah beristirahat.

Setidaknya cukup untuk bisa berbicara tanpa terlihat seperti baru saja selamat dari bencana.

Edward berdiri di depan mereka.

"Baik."

Tatapannya berpindah dari satu orang ke orang lain.

"Kalian mengatakan bahwa kalian berhasil mencapai istana Shadowcresent."

Kevin mengangguk.

"Benar."

"Dan kalian melihat Fiona."

"Benar."

Edward menarik napas.

"Lalu mengapa dia tidak bersama kalian?"

Ruangan kembali sunyi.

Darrien berdiri diam.

Ia tahu pertanyaan itu akan datang.

Dan kali ini—

tidak ada gunanya menghindarinya.

Kevin mulai menjelaskan.

"Kami berhasil mencapai istana setelah melewati pertahanan luar Shadowcresent."

Ia menjelaskan tentang perjalanan mereka.

Tentang jalur yang terus berubah.

Tentang sihir spasial.

Tentang rune.

Tentang pertahanan yang dikendalikan Mufasa dan para penjaga.

Sampai akhirnya—

mereka mencapai istana.

Gloria mendengarkan dengan serius.

"Dan Raizen?"

Kevin terdiam sebentar.

"Dia ada di sana."

Elyon melanjutkan.

"Dan kekuatannya..."

Ia menghela napas.

"Masih jauh di atas apa yang bisa kita ukur."

Edward mengerutkan kening.

"Apakah kalian bertarung dengannya?"

Darrien akhirnya menjawab.

"Ya."

Tatapan Edward langsung berpindah kepadanya.

Darrien menunduk sedikit.

"Kami menyerangnya."

Ia berhenti.

"Namun..."

Tangannya mengepal perlahan.

"Rasanya terlalu mudah."

Elarion mengangguk.

"Itulah yang membuat kami curiga."

"Raizen membiarkan kami menyerangnya," lanjut Darrien.

Gloria terlihat semakin serius.

"Kenapa?"

Tidak ada yang langsung menjawab.

Karena mereka semua tahu jawabannya.

Raizen ingin melihat reaksi Fiona.

Dan ia berhasil.

Darrien menutup matanya sesaat.

"Kami baru menyadarinya setelah terlambat."

Kemudian ia membuka mata.

"Fiona datang."

Suasana aula berubah.

Gloria menahan napas.

"Dan..."

Darrien menatap lantai.

"Ia tidak mengenaliku."

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Karena kalimat itu—

jauh lebih menyakitkan daripada semua jebakan Shadowcresent yang mereka lewati.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience