404. Kamar Siang Raja Vampire

Romance Completed 594

BAB 404 — KAMAR SANG RAJA VAMPIRE

Shadowcresent—

Pagi telah tiba.

Namun bagi Fiona—

pagi itu terasa sangat berbeda.

Perlahan—

matanya terbuka.

Cahaya redup menyentuh wajahnya dari balik tirai.

Fiona mengerjapkan mata beberapa kali.

Untuk beberapa detik, ia tidak bergerak.

Ia hanya menatap langit-langit yang asing.

Terlalu tinggi.

Terlalu gelap.

Ukiran-ukiran kuno menghiasi permukaannya.

Fiona mengerutkan kening.

“…”

Ini bukan kamarnya.

Pikiran itu muncul perlahan.

Kemudian—

sebuah rasa sakit menusuk kepalanya.

“Ugh…”

Fiona langsung mengangkat satu tangan.

“Ouch…”

Ia memijat pelipisnya.

“Kepalaku sakit…”

Napasnya terdengar pelan.

Ia mencoba mengingat apa yang terakhir terjadi.

Namun pikirannya terasa berat.

Seperti ada sesuatu yang menutupi ingatannya.

Kemudian—

potongan-potongan kejadian mulai kembali.

Shadowcresent.

Raizen

Aura yang menekan mereka.

Pure Light Magic.

Darrien.

Barrier.

Tangan Darrien yang mencoba meraihnya.

Dan—

Raizen.

Fiona langsung membuka matanya.

“Darrien…”

Suaranya keluar hampir seperti bisikan.

Ia perlahan bangkit dari tempat tidur.

Namun baru saja tubuhnya terangkat—

Fiona berhenti.

Ada sesuatu yang terasa berbeda.

Biasanya ketika ia bangun di Veyth atau Lunaris—

sinar matahari akan menyambutnya.

Hangat.

Lembut.

Menenangkan.

Namun sekarang—

cahaya yang masuk melalui jendela terasa dingin.

Sangat dingin.

Fiona menoleh ke arah jendela.

Tirai merah tua bergerak perlahan.

Di baliknya—

langit Shadowcresent terlihat pucat.

Tidak seperti pagi di Veyth.

Tidak seperti pagi di Lunaris.

Bahkan matahari terasa jauh.

Fiona berdiri perlahan.

Ia mendekati jendela.

Tangannya menyentuh tirai.

Begitu kain tersebut digeser—

Fiona terdiam.

Pemandangan di luar sangat berbeda.

Menara-menara hitam menjulang di kejauhan.

Bangunan batu gelap memenuhi wilayah istana.

Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan.

Dan di atas semuanya—

langit Shadowcresent tampak lebih kelam daripada yang seharusnya.

Fiona menelan ludah.

“Jadi…”

Ia berbisik.

“Ini benar-benar Shadowcresent.”

Tempat itu indah.

Namun keindahannya terasa dingin.

Terlalu tua.

Terlalu sunyi.

Fiona perlahan menarik tirai kembali.

Kemudian—

ia mencoba sesuatu.

Ia menutup matanya.

Mengangkat tangannya.

“Pure Light…”

Tidak ada apa-apa.

Fiona membuka matanya.

Ia mencoba lagi.

Sedikit saja.

Satu percikan kecil.

Namun—

tetap tidak ada respons.

Fiona menatap tangannya.

Kemudian menghela napas.

Ia sudah tahu jawabannya.

Tetapi tetap saja—

menyadarinya secara langsung membuat dadanya terasa sesak.

Ia menatap kedua pergelangan tangannya.

Segel hitam itu masih ada.

Dua pola magicure gelap melingkar di sana.

“Masih tersegel…”

Fiona menyentuh salah satunya.

Ia mencoba mengalirkan magicure dari dalam tubuhnya.

Segel tersebut langsung berdenyut.

**DUM.**

Fiona menarik tangannya.

“Auch!”

Ia menatap segel tersebut.

“Jadi begitu…”

Fiona terdiam.

Ia tidak tahu bagaimana cara membukanya.

Dan itu berarti—

untuk saat ini—

ia benar-benar tidak dapat menggunakan kekuatannya.

Fiona menghela napas panjang.

“Ini buruk.”

Sangat buruk.

***

Fiona kembali duduk di tepi tempat tidur.

Kedua tangannya berada di atas pangkuannya.

Ia menundukkan kepala.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian—

“Darrien…”

Nama itu kembali keluar dari bibirnya.

Kali ini suaranya lebih lemah.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Ia segera mengangkat wajahnya.

“Jangan.”

Fiona mengusap sudut matanya.

“Jangan menangis.”

Ia menarik napas.

“Darrien akan datang.”

Suaranya sedikit bergetar.

“Dia pasti akan datang.”

Fiona mencoba tersenyum.

“Dia tidak akan meninggalkanku.”

Namun setelah mengatakan itu—

ia terdiam.

Bagaimana jika Darrien tidak tahu di mana Shadowcresent berada?

Bagaimana jika mereka tidak menemukan jalan kembali?

Bagaimana jika—

Fiona segera menghentikan pikirannya sendiri.

“Tidak.”

Ia menggeleng.

“Aku percaya padanya.”

Fiona berdiri kembali.

“Aku harus menemukan cara keluar.”

Ia melihat sekeliling.

Jika kekuatannya tersegel—

maka ia harus menggunakan cara lain.

Pintu.

Jendela.

Lorong.

Apa pun.

Fiona mulai berjalan mengelilingi ruangan.

***

Kamar itu ternyata jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.

Tempat tidur besar berada di tengah ruangan.

Tiang-tiang tinggi menopangnya.

Seprai berwarna hitam dengan pola merah tua menutupi tempat tidur.

Di belakangnya terdapat dinding batu hitam yang dihiasi ukiran berbentuk bulan sabit.

Fiona berjalan perlahan.

Di sebelah kanan—

terdapat sebuah rak buku yang hampir memenuhi seluruh dinding.

Buku-buku tua tersusun di sana.

Sebagian memiliki sampul kulit.

Sebagian lainnya memiliki simbol yang tidak dikenalnya.

Fiona mengambil satu buku.

Ia membukanya.

Tulisan di dalamnya menggunakan bahasa yang cukup tua.

“Hmm…”

Ia mencoba membaca beberapa baris.

Kemudian mengerutkan kening.

“Tidak mengerti.”

Ia mengembalikannya.

Fiona berpindah ke meja besar di dekat jendela.

Beberapa artefak tua berada di atasnya.

Sebuah kristal merah.

Sebuah kotak kecil berukir.

Dan sebuah benda berbentuk cincin dengan simbol bulan sabit.

Fiona hanya melihatnya.

Ia tidak menyentuh.

Setelah kejadian tadi malam—

ia tidak cukup bodoh untuk menyentuh sesuatu di kamar milik Raja Vampire.

Kemudian—

tatapannya berhenti pada sebuah lukisan.

Sosok pria berambut panjang berwarna silver-gray berdiri di sana.

Tatapan crimson.

Pakaian kerajaan hitam.

Wajah yang sama.

Raizen.

Fiona menatap lukisan itu beberapa detik.

“…”

Ia kemudian mengalihkan pandangan.

“Orang ini benar-benar suka dirinya sendiri.”

Fiona bergumam pelan.

Namun kemudian—

ia tersenyum kecil.

Hanya sebentar.

Kemudian ekspresinya kembali serius.

“Aku harus keluar.”

Ia berjalan menuju pintu.

Tangannya hampir menyentuh gagang pintu.

Namun—

ia berhenti.

Ada aura tipis di sekitar pintu.

Fiona bisa merasakannya.

“Barrier?”

Ia tidak mencoba menyentuhnya.

Ia mundur satu langkah.

“Baiklah…”

Fiona menghela napas.

“Jendela.”

Ia kembali melihat ke arah jendela.

Tinggi.

Sangat tinggi.

Fiona melihat ke bawah.

“…”

Ia langsung menarik kepalanya kembali.

“Tidak.”

Melompat dari sana tanpa magicure adalah ide yang sangat buruk.

Fiona menghela napas lagi.

“Pikirkan…”

Ia menyilangkan tangan.

“Harus ada cara lain.”

***

**Klik.**

Fiona langsung menoleh.

Pintu kamar terbuka.

Ia berdiri tegak.

Tatapannya langsung waspada.

Raizen masuk lebih dahulu.

Langkahnya tenang.

Seolah-olah tidak ada sesuatu yang aneh terjadi.

Di belakangnya—

Mufasa mengikuti sambil membawa sebuah nampan.

Fiona menatap mereka.

Mufasa menatap Fiona.

Kemudian—

Mufasa melihat nampan di tangannya.

Fiona kembali menatap nampan itu.

Makanan.

Minuman.

Buah.

Untuk beberapa detik—

tidak ada yang berbicara.

Raizen juga tidak mengatakan apa pun.

Ia hanya berdiri di dekat pintu.

Fiona akhirnya memecah kesunyian.

“Apa itu?”

Mufasa melihat nampan.

“…”

Kemudian melihat Fiona.

“...Sarapan.”

Fiona mengangkat alis.

“Aku bisa melihat itu.”

Mufasa terdiam.

Raizen masih diam.

Fiona menatap Mufasa.

Mufasa menatap Fiona.

Kemudian—

ia menghela napas sangat pelan.

Fiona memperhatikan.

“Kenapa kau menghela napas?”

Mufasa langsung menjawab,

“Tidak ada apa-apa.”

“…”

Fiona menyipitkan mata.

Mufasa mengalihkan pandangan.

Ia berjalan menuju meja kecil.

Meletakkan nampan di sana.

Satu per satu.

Roti.

Buah.

Minuman hangat.

Beberapa makanan yang tidak Fiona kenal.

Fiona mengikuti gerakannya dengan mata.

“Apakah itu aman?”

Mufasa berhenti.

Ia menoleh.

“Ya.”

“Tidak ada racun?”

Mufasa terdiam.

“Tidak.”

Fiona masih curiga.

Mufasa menatapnya.

“Kalau Tuanku ingin membunuhmu…”

Ia berhenti.

Kemudian menatap makanan.

“…aku rasa sarapan tidak diperlukan.”

Fiona terdiam.

“…”

Mufasa kembali meletakkan makanan.

Fiona tidak dapat membantah logikanya.

Raizen akhirnya berjalan lebih jauh ke dalam kamar.

Fiona langsung menoleh kepadanya.

Tatapan mereka bertemu.

Raizen tidak mengatakan apa-apa.

Fiona juga tidak.

Namun suasana langsung berubah.

Tidak seperti ketika ia berbicara dengan Mufasa.

Tatapan Raizen terlalu tenang.

Terlalu sulit dibaca.

Fiona akhirnya memalingkan wajah.

Ia tidak ingin memberikan kepuasan kepadanya.

Namun sebelum ia benar-benar berbalik—

Raizen berbicara.

“Kau sudah bangun.”

Fiona menjawab dingin.

“Seperti yang kau lihat.”

Raizen hanya menatapnya.

Fiona menyilangkan tangan.

“Dan sebelum kau bertanya…”

Ia mengangkat kedua pergelangan tangannya.

“Ya. Aku masih tidak bisa menggunakan magicure-ku.”

Raizen melihat segel tersebut.

Tidak ada perubahan pada ekspresinya.

Fiona menatapnya.

“Kapan kau akan melepaskannya?”

Raizen tidak menjawab.

Fiona mendengus kecil.

“Tentu saja.”

Mufasa berdiri di samping meja.

Ia menatap nampan.

Kemudian menatap kedua orang di depannya.

Lalu—

ia memilih diam.

Karena entah kenapa—

ia merasa lebih aman jika hanya menjadi pembawa sarapan.

***

Fiona akhirnya duduk di sisi tempat tidur.

Ia masih memperhatikan Raizen dari sudut matanya.

Raizen berdiri tenang.

Tidak mendekat.

Tidak berbicara.

Hanya mengamati.

Fiona merasa semakin tidak nyaman.

Namun ia tidak menunjukkan rasa takut.

Ia mengangkat dagunya.

“Aku akan keluar dari sini.”

Raizen menatapnya.

Fiona melanjutkan,

“Darrien akan datang.”

Tidak ada jawaban.

“Dia pasti akan datang.”

Tetap diam.

“Aku percaya padanya.”

Raizen masih hanya menatap.

Fiona mengerutkan kening.

“Kenapa kau diam?”

Raizen tidak menjawab.

Mufasa yang berada di samping nampan perlahan menundukkan wajahnya.

Dalam pikirannya—

ia hanya berharap sarapan ini selesai tanpa ada perang kedua.

Namun melihat tatapan keduanya—

ia mulai merasa bahwa harapannya mungkin terlalu tinggi.

Ruangan kembali sunyi.

Hanya suara jam tua di sudut kamar yang terdengar.

**Tik.**

**Tok.**

**Tik.**

**Tok.**

Fiona menatap Raizen.

Raizen menatap Fiona.

Dan Mufasa—

hanya berdiri di antara mereka sambil berharap tidak ada seorang pun yang mengajaknya ikut dalam percakapan ini.

Pagi pertama Fiona di Shadowcresent—

baru saja dimulai.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience