Series
382
BAB 270 — KEMEGAHAN LUNARIS
Cahaya dari lingkaran teleportasi perlahan meredup.
Angin yang sebelumnya berputar di sekitar mereka mulai tenang.
Satu demi satu—
Darrien, Fiona, Ace, Rowan, Elarion, dan Kevin akhirnya dapat berdiri dengan stabil.
Untuk beberapa detik—
tidak seorang pun langsung berbicara.
Mereka hanya memandang ke depan.
Lunaris.
Kerajaan yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita dan laporan—
kini terbentang tepat di hadapan mereka.
Fiona perlahan menarik napas.
“Wow…”
Itulah satu-satunya kata yang berhasil keluar dari mulutnya.
Darrien yang berdiri di sampingnya ikut melihat ke depan.
Ia juga tidak dapat menyangkalnya.
Lunaris benar-benar berbeda dari Veyth.
Jika Veyth terasa megah dengan bangunan-bangunan kerajaan yang kokoh dan berwibawa—
Lunaris terasa seperti sebuah kerajaan yang dibangun bersama cahaya.
Bangunan-bangunannya memiliki warna putih keperakan.
Kristal-kristal tumbuh secara alami di beberapa sisi dinding dan menara, seolah-olah menjadi bagian dari struktur bangunan itu sendiri.
Jalan-jalan utama terbentang luas dan bersih.
Di beberapa tempat, kristal transparan membentuk lengkungan di atas jalan.
Cahaya matahari menembus permukaannya dan menghasilkan bayangan lembut berkilauan di tanah.
Menara-menara tinggi menjulang di kejauhan.
Sebagian memiliki puncak seperti kelopak bunga yang terbuka.
Sebagian lainnya berbentuk ramping dan tajam, memantulkan cahaya ke langit.
Di antara bangunan—
pepohonan hijau tumbuh subur.
Beberapa memiliki daun yang sedikit berkilau karena kandungan energi magis alami di tanah Lunaris.
Fiona berjalan perlahan beberapa langkah.
Matanya terus bergerak ke segala arah.
“Indah sekali…”
Seraphine yang berjalan di dekatnya langsung tersenyum.
“Benarkah?”
Fiona mengangguk.
“Benar.”
Ia memandang salah satu menara kristal.
“Aku belum pernah melihat kota seperti ini.”
Seraphine terlihat senang.
“Kalau begitu, kau harus melihat lebih banyak.”
Ia menggandeng lengan Fiona dengan ringan.
“Ini baru bagian luar.”
Fiona berkedip.
“Baru bagian luar?”
Seraphine mengangguk dengan bangga.
“Lunaris jauh lebih luas dari yang terlihat dari sini.”
Darrien mendengar itu.
Ia tersenyum kecil.
“Sepertinya Fiona akan membutuhkan waktu lama untuk melihat semuanya.”
Seraphine langsung menjawab,
“Tidak masalah.”
Darrien menoleh.
“Tidak masalah?”
“Kalau perlu, biarkan dia tinggal lebih lama.”
Fiona tertawa kecil.
“Yang Mulia…”
Seraphine menggeleng.
“Panggil aku Seraphine saja saat kita sedang tidak berada dalam acara resmi.”
Fiona terlihat sedikit ragu.
“Seraphine?”
“Ya.”
Seraphine tersenyum puas.
“Begitu lebih baik.”
Darrien menahan senyum.
Tampaknya—
Fiona memang sudah mendapatkan teman baru.
***
Raja Zeith berjalan di sisi lain rombongan bersama Elarion.
Keduanya berbicara mengenai perjalanan.
Sementara Ace dan Rowan beberapa kali menoleh ke berbagai arah.
Ace menunjuk sebuah bangunan yang memiliki jembatan kristal.
“Itu apa?”
Sylvester yang berjalan bersama mereka menjawab,
“Itu salah satu pusat administrasi Lunaris.”
Rowan mengangkat alis.
“Bahkan kantor pemerintahan dibuat seperti itu?”
Sylvester tersenyum.
“Kristal merupakan bagian penting dari kehidupan di sini.”
Ace melihat sekeliling.
“Bisa kulihat.”
Kevin berjalan sedikit di belakang.
Tangannya bersilang di depan dada.
Matanya bergerak mengamati lingkungan.
Bukan karena curiga.
Hanya kebiasaan seorang pengawal.
Ia memperhatikan jalan.
Atap bangunan.
Sudut-sudut yang memungkinkan seseorang bersembunyi.
Jalur keluar.
Dan posisi para penjaga.
Namun untuk pertama kalinya—
tidak ada alasan baginya untuk memikirkan latihan.
Kevin menghela napas lega.
Liburan.
Ia hampir tersenyum hanya karena memikirkan kata itu.
***
Rombongan kemudian mulai bergerak menuju bagian dalam kota.
Fiona masih terus memperhatikan sekeliling.
Seraphine dengan senang hati menjadi pemandunya.
“Itu adalah Pasar Cahaya.”
Ia menunjuk sebuah kawasan yang ramai di kejauhan.
“Di sana banyak pedagang menjual kristal, perhiasan, pakaian, makanan, dan berbagai benda yang dibuat dari sumber daya Lunaris.”
Fiona langsung tertarik.
“Makanan juga?”
Seraphine tertawa.
“Tentu saja.”
Fiona tersenyum.
Darrien memperhatikannya.
Ia sudah mengenal ekspresi itu.
Ekspresi seseorang yang baru menemukan sesuatu yang menarik.
“Jangan langsung memikirkan makanan.”
Fiona menoleh.
“Aku tidak.”
Darrien mengangkat alis.
Fiona tersenyum polos.
“Aku hanya bertanya.”
Ace tertawa.
“Darrien sudah terlalu mengenalmu.”
Fiona memelototinya.
“Apa maksudmu?”
“Tidak ada.”
***
Semakin dekat mereka menuju istana—
semakin megah pemandangan yang terlihat.
Jalan utama berubah menjadi lebih luas.
Bangunan-bangunan di sekitarnya menjadi lebih tinggi.
Tiang-tiang kristal berdiri di sepanjang jalan.
Di atasnya terdapat lampu-lampu kecil yang bahkan masih menyala meskipun matahari telah tinggi.
Beberapa air mancur mengalir dengan air yang sangat jernih.
Di dalamnya terdapat serpihan kristal kecil yang bergerak mengikuti arus.
Fiona berhenti sejenak.
Ia menatap air mancur tersebut.
“Bahkan airnya…”
Seraphine tersenyum.
“Kristal alami di Lunaris memengaruhi sumber air kami.”
“Karena itu airnya terlihat seperti itu?”
“Ya.”
Fiona berjongkok sedikit.
Ia tidak menyentuh air.
Hanya mengamatinya.
Sangat jernih.
Hampir seperti kaca.
Darrien berdiri di sampingnya.
“Indah?”
Fiona mengangguk.
“Mm.”
Darrien tersenyum.
“Kalau begitu nanti kita bisa kembali ke sini.”
Fiona menoleh kepadanya.
“Boleh?”
“Tentu.”
Seraphine langsung menyela.
“Bukan hanya boleh.”
Ia tersenyum.
“Besok aku akan mengajakmu sendiri.”
Fiona tersenyum lebar.
“Benarkah?”
“Tentu.”
Darrien menghela napas.
“Sepertinya aku harus menerima kenyataan bahwa selama berada di Lunaris, Fiona akan lebih sering bersama Seraphine.”
Seraphine tertawa.
“Jangan khawatir.”
Ia melirik Darrien.
“Aku tidak akan menculiknya.”
Darrien menjawab cepat,
“Bagus.”
Fiona tertawa.
***
Akhirnya—
mereka tiba di depan istana.
Fiona kembali terdiam.
Istana Lunaris jauh lebih besar daripada yang terlihat dari kejauhan.
Dinding putih keperakan membentang luas.
Kristal transparan tumbuh di beberapa bagian menara.
Namun berbeda dari bangunan kota—
kristal pada istana jauh lebih halus.
Bukan sekadar dekorasi.
Mereka tersusun mengikuti pola arsitektur istana.
Lengkungan besar menghubungkan beberapa bagian bangunan.
Jendela-jendelanya tinggi dan lebar.
Cahaya matahari masuk melalui kaca kristal dan menciptakan pola cahaya di lantai.
Di depan pintu utama—
sebuah tangga lebar terbentang.
Di kedua sisinya terdapat taman kecil.
Bunga-bunga berwarna pucat tumbuh di antara kristal.
Fiona memandang semuanya.
“Ini…”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Seraphine tersenyum.
“Selamat datang di Istana Lunaris.”
Fiona tersenyum.
“Terima kasih.”
Seraphine kemudian menggandeng tangannya lagi.
“Ayo.”
“Kita belum selesai.”
Fiona tertawa kecil.
“Masih ada?”
“Tentu.”
Seraphine terlihat sangat bersemangat.
“Aku ingin menunjukkan kamar yang sudah disiapkan untukmu.”
Darrien langsung menoleh.
“Kamar?”
Seraphine mengangguk.
“Ya.”
Darrien memandang Fiona.
Fiona terlihat sama penasarannya.
Kemudian Seraphine menambahkan,
“Dan setelah itu…”
Ia tersenyum.
“…aku akan menunjukkan taman pribadi istana.”
Fiona langsung tersenyum.
“Taman?”
“Ya.”
Fiona mengangguk cepat.
“Aku ingin melihatnya.”
Darrien hanya tersenyum.
Ia membiarkan Fiona berjalan bersama Seraphine.
Sementara itu—
Elyon berdiri sedikit lebih jauh.
Ia tidak ikut dalam percakapan.
Tatapannya hanya mengikuti Fiona.
Bukan karena ada sesuatu yang mencurigakan pada dirinya saat ini.
Namun karena ia masih mengingat—
cahaya yang pernah keluar dari tubuh Fiona.
Dan reaksi kristal Lunaris.
Elyon tidak mengatakan apa pun.
Belum.
Ia hanya memperhatikan.
Sementara Fiona—
sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang sedang mencoba memahami sesuatu tentang dirinya.
Ia hanya berjalan dengan senyum kecil.
Menikmati kerajaan yang baru pertama kali dilihatnya.
Untuk saat ini—
Lunaris terasa damai.
Indah.
Dan hangat.
Seolah-olah tidak ada satu pun masalah yang menunggu mereka.
Seolah-olah perjalanan ini benar-benar hanya sebuah kunjungan.
Sebuah liburan.
Dan mungkin—
untuk beberapa waktu—
memang itulah yang akan mereka dapatkan.
Share this novel