Completed
594
BAB 400 — JAWABAN YANG DITOLAK
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Aula utama Shadowcresent masih dipenuhi keheningan.
Raizen duduk di atas singgasananya.
Sementara Edward dan seluruh kelompok Veyth berdiri beberapa meter di hadapannya.
Kedua pihak hanya saling memperhatikan.
Tidak ada yang memulai percakapan.
Tidak ada suara selain hembusan angin malam yang sesekali masuk melalui jendela-jendela tinggi aula.
Bahkan suara langkah kaki para penjaga di kejauhan pun tidak terdengar.
Keheningan itu terasa terlalu sempurna.
Edward berdiri tegak.
Sebagai Raja Veyth, ia tidak menunjukkan kegelisahan di wajahnya.
Namun pikirannya terus bekerja.
Ia telah bertemu banyak penguasa.
Namun tidak pernah ada seseorang yang membuatnya merasa seperti sedang berdiri di hadapan sebuah rahasia yang belum dapat ia pahami.
Raizen tidak menunjukkan kekuatan apa pun.
Namun—
Edward tetap tidak dapat membaca pria tersebut.
Di sampingnya, Gloria juga berdiri diam.
Tangannya masih menggenggam sisi gaunnya.
Matanya bergerak perlahan mengamati seluruh aula.
Dinding.
Pilar.
Jendela.
Singgasana.
Dan akhirnya—
Raizen.
Ada sesuatu mengenai tempat ini yang membuat nalurinya terus memperingatkan dirinya.
Jangan lengah.
***
Darrien berdiri di samping Fiona.
Sejak pertama kali memasuki aula—
ia tidak pernah menurunkan kewaspadaannya.
Ia memperhatikan Raizen.
Kemudian sekeliling mereka.
Lalu kembali kepada Raizen.
Tidak ada tanda-tanda serangan.
Tidak ada gerakan mencurigakan.
Namun justru itu yang membuatnya semakin waspada.
Darrien mencoba merasakan magicure di dalam tubuh Raizen.
Sekali lagi.
Tidak ada.
Ia mempersempit matanya.
*Tidak mungkin.*
Ia mencoba lebih dalam.
Tetap tidak ada.
Seolah-olah pria yang duduk di singgasana itu tidak memiliki magicure sama sekali.
Namun naluri Darrien mengatakan hal yang berlawanan.
Seseorang yang tidak memiliki kekuatan tidak akan membuatnya merasa seperti ini.
Fiona berdiri di sampingnya.
Ia juga memperhatikan Raizen.
Tatapan sang Vampire King terasa dingin.
Namun bukan dingin seperti seseorang yang sedang marah.
Lebih seperti seseorang yang telah hidup terlalu lama untuk menunjukkan emosinya dengan mudah.
Fiona kemudian menyadari sesuatu.
Tatapan Raizen sebelumnya sempat berhenti padanya.
Ia tidak tahu mengapa.
Namun Darrien secara naluriah bergeser sedikit lebih dekat.
Tidak banyak.
Hanya cukup untuk membuat posisinya berada sedikit lebih maju dari Fiona.
Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Raizen.
***
Ace berdiri dengan kedua tangannya di sisi tubuh.
Biasanya ia akan menjadi orang pertama yang memecahkan suasana seperti ini.
Namun kali ini—
bahkan dirinya memilih diam.
Matanya mengamati Raizen.
Kemudian singgasana.
Kemudian kembali kepada Raizen.
*Dia bahkan tidak terlihat seperti sedang berusaha mengintimidasi kami.*
Itulah yang membuat Ace merasa tidak nyaman.
Seseorang yang sengaja menekan lawannya masih bisa dibaca.
Namun Raizen?
Tidak ada apa-apa.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada aura yang jelas.
Hanya—
kehadiran.
Ace menelan ludah kecil.
Ia tidak menyukai perasaan itu.
***
Rowan berdiri di sebelah Ace.
Tidak seperti Ace, Rowan tidak terlalu memperhatikan penampilan Raizen.
Pikirannya justru tertuju pada hal lain.
*Kenapa aku tidak bisa merasakan magicure-nya?*
Ia mencoba mengingat semua teori yang pernah dipelajarinya.
Setiap makhluk hidup yang memiliki kekuatan magis biasanya meninggalkan jejak magicure.
Namun pria di hadapan mereka seolah-olah tidak memiliki jejak tersebut.
Bukan kosong.
Melainkan—
tidak dapat dibaca.
Rowan perlahan menarik napas.
Ia memutuskan untuk tidak mencoba lebih jauh.
***
Elyon juga memperhatikan situasi dengan serius.
Tatapannya bergerak kepada anggota kelompok satu per satu.
Semua masih tenang.
Namun ia dapat melihat perubahan kecil pada ekspresi mereka.
Tidak ada yang santai.
Bahkan Kevin—
yang biasanya terlihat paling tenang ketika menghadapi situasi berbahaya—
terlihat lebih fokus dari biasanya.
Elyon kemudian kembali menatap Raizen.
*Jadi inilah Raja Vampire.*
Ia pernah mendengar banyak cerita mengenai kaum vampire.
Namun cerita tidak pernah cukup untuk menggambarkan seseorang seperti ini.
***
Elarion justru memperhatikan aura istana.
Ia melihat kristal-kristal yang tertanam di dinding.
Ukiran kuno.
Struktur ruangan.
Bahkan udara di sekeliling mereka.
Semuanya terasa berbeda.
Ia menghirup napas perlahan.
Udara di Shadowcresent terasa seperti mengandung jejak magicure yang sangat tua.
Namun ia tidak dapat menentukan sumbernya.
Ia mengerutkan kening.
“Menarik…”
Gumamannya begitu pelan hingga hampir tidak terdengar.
***
Kevin—
berdiri paling tenang di antara semuanya.
Namun justru dirinya yang paling serius.
Sejak pertama kali tiba di Shadowcresent—
ia telah mencoba membaca lingkungan.
Tidak hanya Raizen.
Seluruh tempat ini.
Dan hasilnya membuatnya tidak nyaman.
Ia tidak bisa membaca kedalaman magicure Raizen.
Tidak bisa menentukan batas kekuatannya.
Bahkan tidak dapat memastikan apakah pria itu sedang menekan kekuatannya atau tidak.
Kevin tidak pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya.
Ia menarik napas perlahan.
*Menarik.*
Matanya menyipit.
Untuk pertama kalinya—
ia merasa seperti seorang pemula yang sedang berdiri di hadapan seseorang yang jauh berada di atas pemahamannya.
Namun Kevin tidak menunjukkannya.
Ia hanya terus mengamati.
***
Raizen juga memperhatikan mereka.
Satu per satu.
Edward.
Gloria.
Darrien.
Fiona.
Ace.
Rowan.
Kevin.
Elyon.
Elarion.
Tatapannya berhenti sesaat pada masing-masing dari mereka.
Kemudian—
sekali lagi—
berhenti pada Fiona.
Wanita muda itu berdiri di samping Darrien.
Dan Darrien—
jelas mengambil posisi untuk melindunginya.
Raizen memperhatikan hal tersebut tanpa ekspresi.
Tidak ada senyum.
Tidak ada komentar.
Hanya tatapan tenang.
Kemudian ia mengalihkan pandangannya.
Keheningan kembali memenuhi aula.
***
Beberapa detik berlalu.
Akhirnya—
Raizen berbicara.
“Mufasa.”
Suara itu dalam.
Tenang.
Namun terdengar jelas hingga ke seluruh sudut aula.
Mufasa yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung melangkah maju.
“Ya, Yang Mulia.”
Raizen tetap duduk.
“Apakah mereka membawa jawaban yang ingin kuketahui?”
Edward kemudian bergerak.
Tangannya masuk ke dalam saku jubahnya.
Ia mengeluarkan sebuah surat.
Surat jawaban dari Veyth.
Edward menyerahkannya kepada Mufasa.
“Ini jawaban kami.”
Mufasa menerima surat tersebut.
Ia berbalik.
Kemudian berjalan menuju singgasana.
Langkahnya tenang.
Setelah beberapa saat—
ia berhenti di hadapan Raizen.
Mufasa menundukkan kepala.
“Jawaban dari Kerajaan Veyth, Yang Mulia.”
Raizen mengambil surat tersebut.
Tidak mengatakan apa-apa.
Ia membuka segelnya.
Kemudian mulai membaca.
***
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Edward menunggu.
Gloria menahan napas perlahan.
Darrien tetap berdiri di depan Fiona.
Ace menyilangkan tangan.
Rowan memperhatikan ekspresi Raizen.
Elyon tetap waspada.
Elarion masih mencoba memahami aura tempat tersebut.
Kevin—
tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Raizen.
Fiona juga diam.
Beberapa saat kemudian—
Raizen selesai membaca.
Ia menurunkan surat tersebut.
Tidak ada perubahan pada wajahnya.
Namun—
surat itu tiba-tiba mulai berubah.
Tidak terbakar.
Tidak hancur.
Tidak robek.
Permukaannya perlahan berubah menjadi partikel-partikel hitam yang sangat halus.
Partikel tersebut naik ke udara.
Kemudian—
menghilang.
Edward sedikit mengernyit.
Gloria menatap kosong selama beberapa detik.
Ace mengangkat alis.
Rowan memperhatikan dengan serius.
Elarion bahkan sedikit memiringkan kepalanya.
Kevin mencoba membaca magicure yang digunakan.
Sekali lagi—
tidak ada.
Tidak ada jejak yang dapat ia tangkap.
Darrien juga menyadarinya.
Tatapannya semakin tajam.
Raizen akhirnya mengangkat wajahnya.
Tatapan crimson-nya berubah.
Dingin.
Lebih dalam dari sebelumnya.
“Itu bukan jawaban yang ingin kudengar.”
Suaranya tetap tenang.
Namun sesuatu di dalamnya telah berubah.
Raizen berdiri perlahan dari singgasananya.
“Dua saudaraku…”
Ia berhenti.
Tatapannya berpindah kepada Darrien.
“Keduanya telah mati di tangan kalian.”
Kemudian—
matanya bergerak kepada Fiona.
“Dan kalian ingin berjalan pergi begitu saja?”
Darrien mengangkat wajahnya.
“Kami tidak datang untuk—”
Namun sebelum ia menyelesaikan kalimatnya—
Raizen hanya menarik napas perlahan.
***
Tidak ada suara ledakan.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada lingkaran sihir.
Tidak ada gerakan besar.
Hanya—
sebuah tekanan.
Awalnya begitu kecil hingga hampir tidak terasa.
Kemudian—
semakin berat.
Darrien langsung menyadarinya.
Tubuhnya menjadi kaku.
Matanya sedikit melebar.
*Apa…?*
Tekanan itu terus meningkat.
Lantai di bawah kaki mereka mulai mengeluarkan suara retakan kecil.
**Krek.**
Ace mengubah posisi kakinya.
“Apa—”
Tekanan tiba-tiba bertambah.
**BOOM!**
Seluruh aula terasa seperti dihantam sesuatu yang tidak terlihat.
Ace langsung menahan tubuhnya.
Kedua lututnya hampir kehilangan kekuatan.
“Ghh—!”
Rowan menggertakkan giginya.
Tangannya menekan lantai.
“Apa ini…?”
Elyon mencoba memperkuat tubuhnya dengan magicure.
Namun tekanan itu tetap menekan dari segala arah.
Bukan hanya dari atas.
Bukan hanya dari depan.
Melainkan—
dari seluruh ruang.
Elarion terpaksa menahan napas.
Dadanya terasa berat.
Ia mencoba mengalirkan magicure ke seluruh tubuhnya.
Namun semakin ia mencoba—
semakin berat tekanan yang ia rasakan.
Gloria jatuh berlutut.
Tangannya menahan lantai.
Edward segera meraih bahunya.
“Gloria!”
“Aku… tidak apa-apa.”
Namun napasnya jelas mulai berat.
Edward sendiri harus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk tetap berdiri.
Ia tidak pernah merasakan tekanan seperti ini.
Bahkan dari monster terkuat yang pernah ia hadapi.
***
Fiona menggertakkan giginya.
Tekanan itu semakin berat.
Tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.
Darrien langsung bergerak.
Ia berdiri lebih dekat di depannya.
“Fiona.”
“Aku baik-baik saja.”
Namun suaranya terdengar lebih lemah.
Darrien mencoba mengeluarkan magicure.
Tubuhnya menolak untuk bergerak bebas.
Tekanan tersebut seperti menekan setiap bagian tubuhnya secara bersamaan.
Ia mencoba berdiri lebih tegak.
Satu lututnya hampir menyentuh lantai.
“Tidak…”
Darrien memaksa tubuhnya.
Ia tidak akan berlutut begitu saja.
Bukan di hadapan siapa pun.
Namun tekanan itu terus meningkat.
***
Ace akhirnya jatuh pada satu lutut.
Rowan menyusul beberapa detik kemudian.
Elyon menahan tubuhnya dengan kedua tangan.
Elarion menggertakkan giginya.
Edward berusaha tetap berdiri.
Gloria sudah sepenuhnya berlutut.
Fiona masih bertahan.
Darrien—
masih mencoba melawan.
Namun kemudian—
Kevin bergerak.
Bukan karena ia menyerah.
Melainkan karena ia akhirnya menyadari sesuatu.
Ia tidak dapat merasakan sumber tekanan tersebut.
Tidak ada aliran magicure yang jelas.
Tidak ada gelombang energi yang dapat dibaca.
Tidak ada titik pusat.
Tekanan itu hanya—
**ada.**
Kevin menatap Raizen.
Tatapannya berubah serius.
Untuk pertama kalinya sejak ia mencapai tingkat Grandmaster—
ia benar-benar tidak mampu membaca lawannya.
Tidak ada teknik.
Tidak ada pola.
Tidak ada celah.
Hanya kekuatan yang jauh lebih dalam daripada apa yang dapat ia pahami.
Kevin akhirnya menurunkan satu lutut.
**DUM.**
Suara lututnya menyentuh lantai terdengar jelas di aula.
Darrien menoleh kepadanya.
Kevin tidak mengatakan apa-apa.
Namun ekspresinya sudah cukup.
*Jangan melawan secara gegabah.*
Darrien memahami.
Namun ia tetap menggertakkan giginya.
***
Tekanan semakin berat.
**KREK.**
Retakan mulai menjalar di lantai batu.
Semua orang akhirnya berada dalam posisi berlutut.
Edward.
Gloria.
Darrien.
Fiona.
Ace.
Rowan.
Kevin.
Elyon.
Elarion.
Tidak seorang pun mampu berdiri.
Namun mereka masih sadar.
Masih mampu berpikir.
Masih mampu melihat.
Dan yang paling menakutkan—
Raizen bahkan tidak terlihat seperti sedang mengerahkan seluruh kekuatannya.
Ia hanya berdiri.
Tatapan crimson-nya mengarah kepada mereka.
Darrien menarik napas berat.
Keringat dingin mulai muncul di dahinya.
Ia mencoba merasakan aura tersebut sekali lagi.
Namun tetap tidak ada.
Tidak ada batas.
Tidak ada ujung.
Tidak ada sesuatu yang dapat ia tangkap.
Hanya tekanan yang semakin dalam.
Semakin berat.
Semakin dingin.
Darrien menatap Raizen.
*Apakah ini…*
Pikirannya bergerak perlahan.
*…kekuatan Raja Vampire?*
Tidak ada seorang pun yang mengetahui jawabannya.
Karena pada saat itu—
mereka bahkan belum mampu memahami apa yang sedang menekan tubuh mereka.
Dan Raizen
masih berdiri di hadapan mereka.
Diam.
Tenang.
Seolah seluruh kekuatan yang baru saja membuat para petarung kuat itu berlutut—
hanyalah sebagian kecil dari apa yang sebenarnya ia miliki.
Share this novel