Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 290 — PERTARUNGAN DIMULAI
Hutan tetap sunyi.
Namun ketegangan di antara kedua kelompok semakin berat.
Kaguya masih berdiri di hadapan Darrien.
“Kalau begitu…” katanya perlahan. “Kau ingin aku mengalahkanmu untuk mendapatkan jawaban?”
Darrien menatapnya tanpa berkedip.
“Bukankah itu yang kau inginkan?”
Kaguya tersenyum tipis.
“Menarik.”
Mufasa melirik Darrien.
“Jangan meremehkannya, Kaguya.”
“Aku tidak meremehkannya.”
Kaguya mengangkat satu tangan.
Aura vampire perlahan menyebar.
“Aku hanya ingin melihat…”
Tatapannya semakin tajam.
“…seberapa kuat pemilik aura yang kami cari selama berbulan-bulan.”
Darrien tidak menjawab.
Di belakangnya, Kevin sudah mengamati posisi para vampire lainnya.
Jumlah mereka cukup banyak.
Beberapa berdiri mengelilingi area.
Beberapa lainnya menjaga kandang Fiona.
Kevin akhirnya berkata,
“Mereka bukan hanya membawa dua orang itu.”
Elyon mengangguk.
“Aku juga merasakannya.”
Ace tersenyum sambil menarik senjatanya.
“Berarti kita juga punya lawan.”
Rowan menutup bukunya.
“Sepertinya begitu.”
Elarion menghela napas.
“Padahal aku baru mulai menikmati perjalanan ini.”
Fiona yang masih berada di dalam kandang menatap mereka semua.
“Darrien…”
Darrien menoleh sebentar.
Tatapan mereka bertemu.
“Tenang.”
Hanya satu kata.
Namun cukup membuat Fiona sedikit mengangguk.
Darrien kembali menghadapkan tubuhnya kepada Kaguya.
“Jangan dekati dia.”
Kaguya tersenyum.
“Kalau kau ingin melindunginya…”
Ia mengambil posisi bertarung.
“…maka datanglah.”
Darrien menghilang dari tempatnya.
BAAM!
Tanah di bawah kakinya retak.
Kaguya mengangkat lengannya tepat waktu.
CLANG!
Serangan pertama bertemu.
Gelombang tekanan menyebar ke sekeliling.
Pepohonan berguncang.
Keduanya mundur beberapa langkah.
Kaguya tersenyum.
“Cepat.”
Darrien tidak menjawab.
Ia kembali maju.
Kaguya menyambutnya.
Serangan demi serangan bertukar dengan cepat.
Belum ada yang menggunakan kekuatan penuh.
Tidak ada teknik pamungkas.
Tidak ada pelepasan aura besar.
Hanya kecepatan, refleks, dan kemampuan bertarung.
Namun dari setiap benturan—
jelas bahwa keduanya bukan lawan biasa.
***
Di sisi lain—
para vampire bawahan akhirnya bergerak.
“Serang!”
Beberapa langsung menerjang rombongan.
Ace melangkah maju.
“Bagian ini milikku.”
Ia mengayunkan senjatanya.
SWOOSH!
Satu vampire terlempar.
Rowan bergerak ke sisi lain.
Sihir mulai terbentuk di telapak tangannya.
“Jangan biarkan mereka mendekati Fiona.”
Kevin mengambil posisi di tengah.
“Jaga formasi.”
Elyon segera membantu menjaga area sekitar kandang.
Elarion juga terpaksa meninggalkan pikirannya tentang elixir.
Ia menghela napas.
“Sepertinya eksperimenku harus menunggu lagi.”
Kemudian ia mengangkat tangannya.
Sihir meledak di hadapan salah satu vampire.
BOOM!
Pertempuran kecil pecah di seluruh hutan.
Namun di tengah semuanya—
Darrien dan Kaguya terus bertarung.
Tidak ada yang menunjukkan kekuatan sebenarnya.
Belum.
Kaguya mulai memperhatikan sesuatu.
Setiap gerakan Darrien terasa semakin teratur.
Tidak terburu-buru.
Tidak liar.
Bahkan ketika serangannya semakin cepat—
napasnya tetap terkendali.
Kaguya menyipitkan mata.
Dia berbeda dari aura yang kami rasakan di medan perang.
Darrien sendiri juga mulai memahami sesuatu.
Kaguya bukan vampire biasa.
Dia belum serius.
Keduanya mundur bersamaan.
Jarak kembali terbentuk di antara mereka.
Kaguya tersenyum.
“Bagus.”
Darrien mengangkat pandangan.
Kaguya mengepalkan tangannya.
“Kalau begitu…”
Aura di sekelilingnya mulai meningkat.
“…mari kita lihat berapa lama kau bisa bertahan.”
Darrien merendahkan tubuhnya sedikit.
Tatapannya menjadi semakin tajam.
Pertarungan baru saja dimulai.
Dan keduanya—
masih belum menggunakan kekuatan penuh.
