Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 192
SANG PANGERAN
Keheningan di dalam kamar akhirnya terpecahkan.
Tok. Tok.
Seseorang mengetuk pintu.
Darrien menoleh.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Seorang pelayan kerajaan berdiri di sana dan langsung menundukkan kepala.
“Yang Mulia.”
Darrien mengangkat alis.
“Ada apa?”
“Raja dan Ratu meminta Anda untuk makan siang di ruang makan kerajaan.”
Pelayan itu kemudian menambahkan,
“Makan siang sudah disiapkan.”
Darrien mengangguk.
“Baik. Kami akan segera datang.”
Pelayan itu menundukkan kepala.
“Baik, Yang Mulia.”
Pintu kembali tertutup.
Fiona yang sejak tadi mendengarkan akhirnya menoleh kepada Darrien.
“…”
Ia mengerutkan kening.
“Sang Pangeran?”
Darrien menatapnya.
“Ya.”
Fiona berkedip.
“Siapa?”
Darrien menunjuk dirinya sendiri.
“Aku.”
Fiona terdiam.
“Oh.”
Beberapa detik berlalu.
Kemudian Fiona tertawa kecil.
“Jadi sekarang semua orang memanggilmu Pangeran?”
Darrien mengangguk.
“Sepertinya begitu.”
Fiona memandangnya dari atas sampai bawah.
“Rasanya aneh.”
“Apa?”
“Melihatmu tiba-tiba menjadi pangeran.”
Darrien tersenyum.
“Aku juga masih terbiasa.”
Fiona kembali teringat sesuatu.
“Tunggu.”
Ia mendekat sedikit.
“Bukankah tadi pagi aku meninggalkanmu di kamar?”
Darrien mengangguk.
“Ya.”
“Lalu kenapa sekarang semua orang sudah tahu?”
Darrien menghela napas kecil.
“Karena setelah kau pergi…”
Ia berhenti sebentar.
“…ayah dan ibuku membawaku ke ruang penelitian kerajaan.”
Fiona langsung memperhatikan.
“Untuk apa?”
“Mereka menunjukkan beberapa bukti.”
Darrien kemudian menjelaskan.
“Catatan kerajaan.”
“Catatan kelahiranku.”
“Dan tanda di belakang bahuku.”
Fiona mengangguk perlahan.
“Tanda sayap kecil itu?”
“Ya.”
Darrien melanjutkan,
“Setelah itu mereka melakukan pemeriksaan garis darah menggunakan sihir Veyth.”
Mata Fiona membesar.
“Dan?”
“Garis keturunan Veyth terkonfirmasi.”
Fiona terdiam.
Darrien tersenyum kecil.
“Jadi sekarang…”
Ia mengangkat bahunya.
“…aku resmi dianggap sebagai Pangeran Veyth.”
Fiona menatapnya beberapa saat.
Kemudian tersenyum.
“Selamat.”
Darrien mengangkat alis.
“Hanya itu?”
“Apa lagi yang harus kukatakan?”
Fiona berpikir.
Kemudian mengangkat kedua tangannya.
“Yang Mulia Pangeran Darrien?”
Darrien langsung tertawa.
“Jangan.”
Fiona ikut tertawa.
“Kenapa?”
“Aku lebih suka kau tetap memanggilku Darrien.”
Fiona tersenyum.
“Baiklah.”
Ia kemudian melihat ke arah pintu.
“Kita harus makan siang?”
Darrien mengangguk.
“Ya.”
Fiona berdiri.
Namun sebelum melangkah—
ia kembali melihat gelang di pergelangan tangannya.
Kemudian menatap Darrien.
“Bolehkah aku tetap memakai ini?”
Darrien mengangguk.
“Untuk sekarang.”
Fiona tersenyum.
“Baik.”
Ia berjalan mendekat.
Kemudian tanpa sadar menggandeng lengan Darrien.
“Ayo, Pangeran.”
Darrien menatapnya.
“Bukankah kau bilang jangan memanggilku begitu?”
Fiona tersenyum nakal.
“Sekali saja.”
Darrien menghela napas.
Namun senyum kecil muncul di wajahnya.
“Baiklah.”
Mereka kemudian meninggalkan kamar bersama.
Menuju ruang makan kerajaan—
tanpa mengetahui bahwa makan siang sederhana itu mungkin akan menjadi awal dari lebih banyak percakapan tentang masa lalu Darrien.
