Completed
594
BAB 449 — SESUATU YANG TERLALU MUDAH
Dentuman demi dentuman menggema di aula utama Shadowcresent.
Darrien melesat ke depan.
Angin berputar di sekeliling tubuhnya, membawa tekanan yang cukup kuat untuk membuat lantai batu retak di bawah langkahnya.
Raizen menghindar.
Satu serangan.
Dua.
Tiga.
Darrien terus menyerang.
Raizen menangkis.
Namun kali ini...
gerakannya berbeda.
Tidak secepat sebelumnya.
Tidak seperti saat pertama kali mereka bertemu.
Tidak seperti ketika satu tatapannya saja sudah cukup membuat seluruh Veyth hampir berlutut.
Darrien menyadarinya.
Namun ia tidak langsung memikirkannya.
Kesempatan seperti ini terlalu berharga.
Ia memutar tubuh.
Angin terkumpul di telapak tangannya.
Kemudian—
BOOM!
Serangan menghantam sisi tubuh Raizen.
Raizen terdorong beberapa meter.
Tubuhnya berhenti setelah menabrak salah satu pilar batu.
Debu jatuh dari atas.
Darrien terdiam.
Kevin juga.
Elyon menatap Raizen dengan ekspresi serius.
Ace bahkan lupa mengeluh.
Raizen perlahan berdiri.
Ada darah di sudut bibirnya.
Ace menelan ludah.
"...Kita berhasil?"
Tidak ada yang menjawab.
Darrien menatap tangannya sendiri.
Kemudian menatap Raizen.
Raizen mengusap darah di bibirnya dengan ibu jari.
Ia melihat warna merah itu beberapa saat.
Lalu tersenyum.
"Bagus."
Darrien mengerutkan kening.
Sesuatu terasa salah.
Namun sebelum ia sempat memikirkannya, Raizen kembali bergerak.
Kali ini lebih cepat.
Darrien menangkis.
Benturan membuatnya mundur beberapa langkah.
Kevin masuk dari sisi lain.
Pedangnya beradu dengan tangan Raizen.
KLANG!
Raizen menahan serangan itu.
Elyon menyusul dengan sihir cahaya.
Raizen memutar tubuh.
Serangan itu melewati bahunya.
Rowan membantu dari belakang.
Elarion memperkuat formasi.
Untuk beberapa saat...
Veyth benar-benar berhasil menekan Raizen.
Satu serangan mengenai bahu.
Serangan lain menggores sisi jubahnya.
Darrien berhasil mendorongnya mundur.
Mufasa yang berdiri di sisi aula hanya mengamati.
Para penjaga vampir di belakangnya juga tidak bergerak.
Ace menatap mereka.
"Kalian tidak membantu?"
Mufasa menjawab tenang.
"Belum."
"Kenapa?"
Mufasa hanya tersenyum.
"Teruskan."
Ace menatapnya curiga.
"Aku merasa kalian sedang menunggu sesuatu."
"Memang."
Ace ingin bertanya lagi.
Namun Raizen tiba-tiba menghilang dari hadapan mereka.
Dalam sekejap...
ia muncul di belakang Darrien.
Darrien langsung berbalik.
Terlambat.
Raizen menghantam dadanya.
Darrien terlempar.
Namun sebelum tubuhnya jatuh, angin menopangnya.
Ia mendarat dengan satu lutut.
Kevin segera berdiri di depannya.
"Darrien!"
"Aku baik-baik saja."
Darrien bangkit.
Tatapannya tidak lepas dari Raizen.
Sekarang ia semakin yakin.
Ada sesuatu yang aneh.
Raizen bisa saja melakukan itu sejak awal.
Lalu kenapa...
ia membiarkan mereka menyerangnya?
Darrien menatap Mufasa.
Mufasa hanya tersenyum tipis.
Tidak menjawab.
"Jangan lengah," kata Elyon.
Darrien mengangguk.
Mereka kembali menyerang.
---
Pertarungan berlangsung semakin sengit.
Namun semakin lama...
semakin terasa aneh.
Raizen terkena serangan.
Ia mundur.
Darrien menyerang lagi.
Raizen kembali menahan.
Bahkan beberapa kali ia terlihat kehilangan keseimbangan.
Sampai akhirnya...
Darrien berhasil menghantam tubuh Raizen dengan serangan angin yang jauh lebih kuat.
BOOM!
Raizen terpental.
Tubuhnya menghantam lantai batu.
Debu memenuhi aula.
Semuanya terdiam.
Ace membuka mulut.
"Eh..."
Kevin menatap debu.
"Raizen?"
Darrien berdiri diam.
Ia sendiri tidak menyangka serangannya akan berhasil sebesar itu.
Debu perlahan turun.
Raizen terlihat berlutut.
Satu tangan menahan lantai.
Darah mengalir dari sudut bibirnya.
Jubahnya sedikit robek.
Napasnya terdengar lebih berat.
Ace perlahan menurunkan pedangnya.
"Kita..."
Ia menatap Kevin.
"...benar-benar berhasil?"
Kevin tidak menjawab.
Elyon justru terlihat semakin serius.
"Jangan senang dulu."
Darrien menoleh.
"Apa?"
Elyon menatap Raizen.
"Ini terlalu mudah."
Darrien kembali melihatnya.
Benar.
Terlalu mudah.
Mereka pernah merasakan aura Raizen.
Mereka pernah merasakan tekanan yang membuat tubuh mereka hampir tidak mampu bergerak.
Mereka tahu bahwa kekuatan vampire kuno ini berada jauh di atas apa yang bisa mereka ukur.
Namun sekarang...
mereka berhasil melukainya.
Bukan sekali.
Beberapa kali.
Darrien mengepalkan tangan.
"Dia sengaja."
Mufasa akhirnya berbicara.
"Bagus."
Semua menoleh kepadanya.
Mufasa tersenyum.
"Kalian akhirnya menyadarinya."
Ace langsung menunjuk Raizen.
"Jadi sejak tadi dia cuma bermain-main?!"
Mufasa tidak menjawab.
Itu sudah cukup menjadi jawaban.
Darrien menatap Raizen.
Raizen perlahan berdiri.
Darah masih terlihat di bibirnya.
Namun ekspresinya tetap tenang.
Tidak ada rasa takut.
Tidak ada kepanikan.
Bahkan tidak ada kemarahan.
Hanya ketenangan.
Darrien merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggungnya.
"Kenapa?"
Raizen mengangkat mata.
"Kenapa kau membiarkan kami menyerangmu?"
Raizen tersenyum.
"Aku ingin melihat sesuatu."
"Apa?"
Raizen tidak menjawab.
Tatapannya bergerak sekilas ke arah pintu aula.
Kemudian kembali kepada Darrien.
Darrien memperhatikan gerakan kecil itu.
Namun ia tidak sempat bertanya.
Karena Raizen kembali menyerang.
Pertarungan meledak sekali lagi.
---
Di luar aula...
Fiona berjalan perlahan menyusuri koridor.
Suara benturan semakin jelas.
BOOM!
Ia berhenti.
Tangannya menggenggam sisi gaunnya.
"Raizen..."
Ia mulai berjalan lebih cepat.
Suara pertarungan terdengar lagi.
Kali ini lebih keras.
Fiona tidak tahu siapa yang sedang bertarung.
Tidak tahu apa yang terjadi.
Namun satu hal membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Raizen sudah pergi terlalu lama.
Dan suara itu...
berasal dari aula utama.
Ia mendekati pintu.
Semakin dekat.
Suara-suara mulai terdengar jelas.
Suara benturan.
Suara orang berteriak.
Suara logam beradu.
Kemudian...
sebuah suara yang tidak ia kenal.
"Raizen!"
Fiona berhenti.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Tangannya perlahan terangkat.
Ia menyentuh gagang pintu.
Dari balik pintu...
terdengar suara benturan terakhir.
BOOM!
Fiona membuka mata lebar.
Ia membuka pintu.
---
Pintu aula utama terbuka.
Suara engsel tua terdengar panjang.
Semua orang berhenti.
Darrien membeku.
Kevin menoleh.
Elyon menahan napas.
Ace bahkan tidak bergerak.
Mufasa hanya diam.
Dan Raizen...
langsung tahu.
Ia tidak perlu melihat.
Ia merasakan keberadaan Fiona sejak pintu itu terbuka.
Namun ia tetap menoleh perlahan.
Di ambang pintu...
Fiona berdiri.
Rambutnya sedikit berantakan akibat berjalan tergesa-gesa.
Matanya menatap ke dalam aula.
Ia melihat para penjaga.
Melihat Mufasa.
Melihat Veyth.
Kemudian...
matanya berhenti pada seseorang.
Raizen.
Ia berdiri di tengah aula.
Jubahnya robek.
Darah terlihat di wajahnya.
Tubuhnya tampak terluka.
Dan beberapa langkah di hadapannya...
Darrien berdiri.
Pedang masih berada di tangannya.
Mata Darrien melebar.
Untuk pertama kalinya sejak ia memasuki Shadowcresent...
ia tidak bisa bergerak.
Tidak bisa berbicara.
Tidak bisa bernapas dengan normal.
Fiona.
Benar-benar Fiona.
Ia ada di sana.
Di hadapannya.
Setelah berbulan-bulan pencarian.
Setelah gunung.
Setelah perangkap.
Setelah semua kegagalan.
Ia akhirnya melihatnya.
"Fiona..."
Nama itu keluar dari bibir Darrien.
Sangat pelan.
Namun terdengar jelas di aula yang tiba-tiba sunyi.
Fiona menatapnya.
Tubuhnya membeku.
Entah kenapa...
suara itu terasa familiar.
Sangat familiar.
Dadanya tiba-tiba terasa sakit.
Kepalanya berdenyut.
Dan untuk sesaat...
sebuah perasaan aneh melintas di dalam dirinya.
Seperti pernah mendengar suara itu.
Seperti pernah dipanggil dengan nama yang sama.
Namun tidak ada ingatan yang muncul.
Tidak ada wajah dari masa lalu.
Hanya rasa sakit kecil yang tidak bisa ia mengerti.
Fiona kemudian melihat kembali kepada Raizen.
Darah di wajahnya.
Tubuhnya yang terlihat terluka.
Matanya yang tenang.
"Raizen..."
Suaranya bergetar.
Raizen menatapnya.
Dan di balik wajah tenangnya...
sebuah senyum kecil muncul.
Sangat tipis.
Hampir tidak terlihat.
**Ia sudah mendapatkan jawabannya.**
Bukan sepenuhnya.
Belum.
Namun reaksi pertama Fiona sudah cukup untuk membuatnya tahu...
ritual itu tidak sesederhana yang ia kira.
Raizen menurunkan tangannya perlahan.
Seolah tubuhnya sudah terlalu lelah untuk berdiri tegak.
Fiona langsung melangkah maju.
"Raizen!"
Darrien melihatnya.
Melihat bagaimana Fiona berlari menuju Raizen.
Dan sesuatu di dalam dadanya terasa hancur.
Bukan karena ia terluka.
Bukan karena ia kalah.
Melainkan karena...
Fiona tidak berlari kepadanya.
Raizen menatap Fiona yang semakin dekat.
Kemudian melirik Darrien.
Senyumnya menghilang.
Wajahnya kembali menunjukkan kelemahan.
Permainan berikutnya...
baru saja dimulai.
Share this novel